UMKM Yogya Raup Omzet Rp1 M dari Pasok Susu MBG

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 29 Mei 2026 02:00 WIB 2
UMKM Yogya Raup Omzet Rp1 M dari Pasok Susu MBG

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG membuka peluang baru bagi pelaku usaha kecil di daerah. Salah satu UMKM pengolahan susu asal Yogyakarta, Sweet Sundae, meraup omzet hingga Rp1 miliar dari pasokan susu untuk program tersebut.

Owner sekaligus Co-founder Sweet Sundae, Yuki Rahmayanti, mengatakan perusahaannya mendapat amanah memasok susu untuk MBG sejak Februari 2025. Hingga kini, sedikitnya lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG mengambil stok susu dari usahanya di sejumlah wilayah Jawa Tengah.

Peluang UMKM dari MBG

Yuki menjelaskan bahwa SPPG yang mengambil pasokan berasal dari Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang. Setiap SPPG disebut mengambil sekitar 12 ribu pcs susu per hari dengan ukuran 100 ml.

Menurut dia, masing-masing SPPG menerima suplai dua kali dalam sepekan. Pola distribusi ini membuat permintaan dari program MBG berjalan rutin dan terukur.

Pekan depan, Sweet Sundae juga dijadwalkan memasok susu ke delapan SPPG tambahan. Kondisi itu menunjukkan kebutuhan produk terus meningkat seiring perluasan pelaksanaan program.

Kapasitas produksi diperluas

Meningkatnya permintaan membuat kebutuhan susu di usaha tersebut melonjak tajam. Untuk menjaga pasokan, Sweet Sundae kemudian memutuskan membuka peternakan sendiri.

Saat ini, perusahaan memelihara sedikitnya 97 ekor sapi untuk menunjang produksi. Dari kandang tersebut, produksi susu harian mencapai sekitar 4,5 ton.

Langkah itu menjadi strategi agar pasokan tetap stabil di tengah tingginya kebutuhan MBG. Dengan kapasitas yang lebih besar, UMKM tersebut dapat memenuhi permintaan tanpa mengandalkan pasokan luar sepenuhnya.

Awal mula kerja sama

Yuki mengatakan keterlibatan usahanya dalam program MBG bermula dari kedatangan sejumlah pihak SPPG ke lokasi usaha. Mereka menawarkan kerja sama untuk memasok susu plain atau susu murni.

Meski begitu, ia tidak langsung menerima seluruh tawaran yang datang. Sweet Sundae memilih secara selektif SPPG yang akan dilayani agar kualitas dan keberlanjutan distribusi tetap terjaga.

Seleksi itu dilakukan untuk memastikan kerja sama berjalan sesuai kapasitas produksi perusahaan. Cara tersebut juga membantu UMKM menjaga standar produk dalam memenuhi kebutuhan program pemerintah.

Dampak bagi usaha lokal

Kasus Sweet Sundae menunjukkan program MBG memberi dampak ekonomi langsung bagi pelaku usaha lokal. Permintaan besar dari sektor pangan bergizi dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi UMKM.

Di sisi lain, kebutuhan untuk menjaga suplai mendorong pelaku usaha memperkuat rantai produksi. Dalam kasus ini, ekspansi ke peternakan menjadi bagian dari respons bisnis yang lebih serius dan berkelanjutan.

Dengan omzet yang menembus Rp1 miliar, Sweet Sundae menjadi contoh bahwa kebijakan pangan dapat menciptakan efek berganda. Program MBG bukan hanya menyasar pemenuhan gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!