BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

Teknologi BRH 29 Mei 2026 03:16 WIB 2
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO Nasional

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit (LEO). Langkah ini diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan mandiri.

Peluang kerja sama tersebut disampaikan Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, saat menerima kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor. Menurut dia, kolaborasi dapat meliputi pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, hingga kemitraan dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri.

Kolaborasi Satelit LEO BRIN

Chusnul menyebut BRIN saat ini tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Ia menegaskan, arah riset ke depan juga mencakup pengembangan satelit berbasis Synthetic Aperture Radar atau SAR.

Selain itu, riset BRIN juga diarahkan pada pengembangan satelit komunikasi yang dinilai penting bagi kebutuhan nasional. Dalam konteks tersebut, Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis untuk mendukung hilirisasi teknologi dan penguatan infrastruktur.

Chusnul menambahkan, integrasi data satelit nasional juga menjadi ruang kerja sama yang menjanjikan. Peran Telkomsat dianggap relevan untuk memperkuat pemanfaatan data agar lebih terhubung, efisien, dan bernilai guna.

Ia juga menyoroti peluang dari peralihan teknologi Automatic Identification System atau AIS menuju VHF Data Exchange System atau VDES. Menurutnya, transisi tersebut membuka pintu kolaborasi baru dalam pengembangan layanan berbasis satelit.

Tantangan Operasional Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa satelit LEO menghadapi tantangan operasional yang khas. Satelit jenis ini bergerak sangat cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit.

Kondisi tersebut membuat sistem operasional harus berjalan dinamis, responsif, dan terintegrasi. Karena itu, manajemen misi menjadi unsur penting dalam menjaga efektivitas pemanfaatan satelit.

Manajemen misi mencakup perencanaan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi agar manfaatnya optimal. Satriya menegaskan, seluruh proses itu harus dirancang secara presisi agar tidak mengganggu fungsi utama satelit.

Selain itu, pengendalian orbit juga menjadi aspek penting untuk menjaga posisi satelit tetap berada di jalurnya. Proses ini dilakukan melalui koreksi orbit berkala dan antisipasi terhadap potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa.

Komunikasi dan Pemantauan

Satriya mengatakan komunikasi antara satelit dan stasiun bumi memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam waktu terbatas. Oleh sebab itu, diperlukan perencanaan yang cermat, termasuk penjadwalan uplink dan downlink.

Ia menambahkan, dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai juga sangat penting untuk menjaga kelancaran operasi. Tanpa infrastruktur yang tepat, transfer data dan instruksi dapat mengalami hambatan.

Di sisi lain, operator satelit harus memantau kesehatan satelit secara waktu nyata atau real time. Pemantauan dilakukan terhadap seluruh subsistem, mulai dari daya listrik, suhu komponen, hingga performa instrumen utama.

Menurut Satriya, pemantauan yang baik memungkinkan gangguan terdeteksi lebih dini dan ditangani lebih cepat. Dengan demikian, keberlangsungan misi satelit dapat tetap terjaga secara optimal.

Perangkat Lunak dan Kemandirian

Satriya menegaskan bahwa pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak berperan dalam perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah.

Komponen ini dibutuhkan agar pengoperasian satelit dapat berjalan lebih efisien dan terukur. Selain itu, perangkat lunak yang kuat membantu operator mengambil keputusan secara cepat berdasarkan data yang tersedia.

Ia menilai penguasaan teknologi perangkat lunak juga penting untuk mendukung kemandirian nasional. Dengan kemampuan tersebut, ketergantungan pada solusi luar negeri dapat dikurangi secara bertahap.

BRIN dan Telkomsat diharapkan dapat melihat peluang kerja sama ini sebagai bagian dari penguatan ekosistem satelit Indonesia. Kolaborasi yang terarah diyakini mampu mendorong daya saing teknologi nasional di masa mendatang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!