Kisah Sate Barokah Mayestik, Dari Gerobak ke Ruko

Lifestyle Nadia Safira Putri 29 Mei 2026 04:30 WIB 3
Kisah Sate Barokah Mayestik, Dari Gerobak ke Ruko

Aroma daging ayam dan kambing khas Madura menyeruak dari sebuah ruko dua lantai di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di tengah lalu lintas kawasan Mayestik yang ramai, usaha sate milik Mochamad Haidir (30) kini menjadi salah satu kuliner yang paling mudah menarik perhatian pejalan kaki dan pengendara.

Kisahnya tidak dimulai dari tempat yang nyaman, melainkan dari gerobak sate keliling pada 2013, yang berjualan di atas trotoar dan kerap menghadapi penertiban. Setelah melalui masa sulit, termasuk tekanan saat pandemi COVID-19, Haidir akhirnya membawa Sate Ayam Barokah Mayestik naik kelas dengan pindah ke ruko yang lebih strategis.

Perjuangan Sate Barokah

Haidir memulai usaha itu saat masih mengandalkan tenaga sendiri dan peralatan sederhana. Setiap hari ia mendorong gerobak, lalu berhenti di titik-titik yang dianggap ramai pembeli. Namun, jalan berjualan di trotoar tidak pernah benar-benar mudah karena ia harus berhadapan dengan penertiban dan sesama pedagang.

Ia mengaku pernah beberapa kali diminta pindah oleh pedagang lain yang lebih dulu mengenal kawasan tersebut. Kondisi itu sempat membuat usahanya tidak menentu dan penuh tekanan. Meski demikian, ia memilih tetap bertahan karena melihat kawasan Mayestik memiliki potensi pasar yang besar.

Lokasi tersebut dikelilingi area perkantoran dan aktivitas ekonomi yang padat setiap hari. Menurut Haidir, keberadaan pelanggan dari berbagai kalangan membuat penjualan sate perlahan membaik. Dari situ, nama Sate Ayam Barokah Mayestik mulai dikenal lebih luas oleh pembeli.

Dihantam Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 menjadi masa paling berat dalam perjalanan usahanya. Penjualan turun drastis karena mobilitas warga berkurang dan kawasan sekitar menjadi sepi. Dalam situasi itu, Haidir mengaku sangat tertekan hingga sempat berpikir untuk berhenti berjualan.

Ia bahkan pernah menawarkan lapaknya kepada orang lain karena merasa tidak sanggup menanggung beban usaha sendirian. Saat itu, ia menyebut ada tawaran sebesar Rp50 juta, sedangkan nilai yang ia harapkan berada di angka Rp150 juta. Meski penawaran belum sesuai, pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling menentukan dalam perjalanan bisnisnya.

Beruntung, transaksi itu batal dan Haidir tetap melanjutkan usaha yang sudah dirintisnya sejak lama. Keputusan itu terbukti penting karena ia masih memiliki kesempatan untuk memulihkan usaha saat kondisi mulai membaik. Dari masa sulit itulah, ia belajar bahwa bertahan sering kali menjadi kunci utama dalam menjaga bisnis kecil.

Ruko Baru Lebih Strategis

Titik balik datang ketika sebuah ruko kosong di depan lapaknya ditawarkan untuk disewa. Kesempatan itu muncul saat usaha mulai kembali bergerak dan pelanggan perlahan datang lagi. Haidir melihatnya sebagai peluang untuk memperkuat posisi usahanya di lokasi yang lebih terlihat.

Tanpa menunda lama, ia memutuskan pindah ke ruko tersebut agar aktivitas jualan lebih nyaman dan tertata. Lokasi baru membuat pembeli lebih mudah menemukan dagangannya karena berada tepat di jalur yang ramai. Dari sisi tampilan, usaha sate itu juga terlihat lebih rapi dan profesional dibanding saat masih berjualan dari gerobak.

Pemindahan itu menjadi simbol naik kelas bagi usaha yang telah ia bangun sejak belasan tahun lalu. Kini, Sate Ayam Barokah Mayestik tidak hanya menjual rasa, tetapi juga kisah ketekunan yang panjang. Perubahan tempat ini menegaskan bahwa strategi lokasi bisa menjadi penentu penting dalam perkembangan usaha kuliner.

Daya Tarik Kuliner Madura

Selain perjuangan pemiliknya, kekuatan utama usaha ini tetap berada pada cita rasa sate Madura yang khas. Aroma daging ayam dan kambing yang dibakar di atas arang menjadi daya tarik pertama bagi orang yang melintas. Keharuman itu berpadu dengan saus dan bumbu yang membuat banyak pelanggan kembali datang.

Di kawasan yang dipenuhi aktivitas kantor dan pusat belanja, kuliner seperti sate memiliki pangsa pasar yang kuat. Pembeli tidak hanya mencari makanan yang mengenyangkan, tetapi juga sajian yang cepat disajikan dan mudah dinikmati. Kondisi itu membuat usaha sate semacam ini tetap relevan di tengah persaingan kuliner Jakarta Selatan.

Kisah Haidir menunjukkan bahwa konsistensi, keberanian mengambil peluang, dan kemampuan membaca lokasi dapat mengubah usaha kecil menjadi lebih mapan. Dari gerobak keliling hingga ruko strategis, perjalanannya menjadi contoh nyata bahwa bisnis kuliner bisa tumbuh lewat ketekunan. Bagi banyak pelaku usaha, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kesabaran sering kali mendahului keberhasilan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!