UMKM Binaan Pertamina Raih MoU Ekspor Cokelat ke Jepang

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 29 Mei 2026 04:31 WIB 3
UMKM Binaan Pertamina Raih MoU Ekspor Cokelat ke Jepang

Pertamina mencatat capaian penting dalam ajang Trade Expo Indonesia 2025, saat salah satu UMKM binaannya berhasil mengantongi transaksi ekspor senilai US$ 5,2 juta atau sekitar Rp87 miliar. Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PT Java Criollo Cokelat Indonesia dan Being Co Ltd asal Jepang. Prosesi tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Koperasi dan UKM, Maman Abdurrahman. Capaian ini menegaskan bahwa produk lokal Indonesia kian mendapat tempat di pasar internasional.

Kerja sama tersebut menjadi sorotan karena melibatkan produsen kakao dan cokelat binaan Pertamina yang dinilai mampu memenuhi standar buyer luar negeri. Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyebut kesepakatan itu menunjukkan UMKM lokal memiliki daya saing global. Ia berharap puluhan UMKM lain yang ikut serta dalam TEI 2025 dapat menjajaki peluang serupa. Menurutnya, pameran dagang menjadi pintu penting untuk memperluas pasar ekspor.

Ekspor Cokelat Menembus Jepang

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Founder Java Criollo, Inge Oktavia Arina, bersama perwakilan Being Co Ltd, Sakae Noda. Nilai transaksi yang disepakati mencapai US$ 5,2 juta, sehingga menjadi salah satu pencapaian menonjol dalam gelaran tersebut. Kesepakatan ini sekaligus memperkuat posisi cokelat Indonesia di tengah persaingan produk global. Bagi Pertamina, hasil itu menjadi bukti pembinaan UMKM dapat berujung pada kontrak bisnis nyata.

Fadjar menjelaskan bahwa keberhasilan Java Criollo tidak lepas dari konsistensi kualitas produk dan kesiapan bisnis yang dibangun secara bertahap. Ia menilai TEI 2025 memberi ruang bagi UMKM untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dari berbagai negara. Pertamina, kata dia, ingin agar pencapaian ini menjadi contoh bagi UMKM lain yang sedang memperluas pasar. Dengan begitu, pembinaan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut pada transaksi ekspor.

Pameran dagang tersebut juga menjadi ajang validasi bagi produk pangan olahan Indonesia yang mampu memenuhi preferensi pasar Jepang. Dalam konteks ekspor, kualitas, kontinuitas pasokan, dan harga kompetitif menjadi faktor utama yang diperhatikan buyer. Java Criollo dinilai berhasil menjawab kebutuhan itu melalui produk cokelat berbahan kakao Indonesia. Hal ini membuka peluang lebih besar bagi komoditas olahan lokal untuk menembus pasar premium.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa UMKM tidak lagi sekadar menjadi pelengkap dalam rantai perdagangan, melainkan dapat tampil sebagai pelaku ekspor yang serius. Jika konsistensi kualitas terjaga, peluang kontrak berulang terbuka lebar. Kondisi ini juga memberi sinyal positif bagi penguatan ekosistem ekspor nasional. Pemerintah dan BUMN pun diharapkan terus mendorong lebih banyak pelaku usaha kecil naik kelas.

Kualitas Cokelat Indonesia Dilirik

Dari pihak Jepang, Sakae Noda menyampaikan ketertarikannya terhadap kualitas cokelat asal Indonesia. Ia menilai produk Java Criollo unggul karena dibuat dari bahan alami, tidak menggunakan pupuk kimia, dan tetap menawarkan harga yang kompetitif. Menurutnya, keunggulan itu membuat produk tersebut layak dipasarkan di Jepang. Noda juga berharap konsumen Jepang dapat menikmati cokelat Indonesia dengan kualitas yang dinilai sangat baik.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pasar internasional semakin memberi perhatian pada produk yang mengedepankan kualitas dan proses produksi berkelanjutan. Tren konsumsi seperti ini menjadi peluang bagi UMKM Indonesia yang mampu menjaga standar mutu. Dalam kasus Java Criollo, kombinasi bahan alami dan harga terjangkau menjadi nilai jual utama. Keunggulan tersebut menjadi bekal penting untuk bersaing di pasar yang semakin selektif.

Produk cokelat Indonesia sendiri memiliki modal kuat karena bahan baku kakao tersedia melimpah di dalam negeri. Namun, nilai tambah baru muncul ketika komoditas tersebut diolah menjadi produk jadi dengan merek dan kualitas yang jelas. Java Criollo menjadi salah satu contoh bagaimana bahan baku lokal dapat diolah menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi. Model bisnis seperti ini dinilai relevan untuk mendorong peningkatan devisa.

Ketertarikan buyer Jepang juga menegaskan bahwa pasar tidak hanya mencari produk murah, tetapi juga aman, berkualitas, dan sesuai tren konsumsi sehat. Dengan reputasi yang terus dibangun, cokelat Indonesia berpeluang masuk ke lebih banyak jaringan distribusi internasional. Hal ini sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai produsen pangan olahan yang kompetitif. Bagi UMKM, momentum tersebut dapat menjadi pijakan untuk melakukan ekspansi lebih luas.

Pertamina Dorong UMKM Naik Kelas

Founder Java Criollo Cokelat Indonesia, Inge Oktavia Arina, mengaku bangga karena produknya diterima di pasar internasional. Ia menuturkan bahwa pada awalnya buyer hanya mencari cokelat asal Indonesia, lalu menemukan nama perusahaannya. Setelah menilai kualitas produk, pihak Jepang akhirnya mempercayakan kerja sama tersebut. Bagi Inge, pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi perusahaannya dan bagi UMKM Indonesia.

Inge menambahkan bahwa keberhasilan tersebut tidak datang secara instan, melainkan melalui proses pengenalan kualitas dan kepercayaan pasar. Ia menilai nilai serta cita rasa yang dibawa Java Criollo menjadi alasan utama produk itu dilirik. Menurutnya, kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan untuk membangun reputasi jangka panjang. Dengan begitu, UMKM dapat naik kelas dari pasar lokal menuju pasar ekspor.

Pertamina menegaskan bahwa pembinaan UMKM tidak hanya diarahkan untuk memperkuat produksi, tetapi juga untuk membuka akses pasar yang lebih luas. Kehadiran 44 UMKM binaan lain di TEI 2025 menjadi bagian dari strategi tersebut. Perusahaan berharap mereka dapat mengikuti jejak Java Criollo dalam menjalin kerja sama internasional. Dukungan ini diharapkan membuat UMKM lebih siap menghadapi persaingan global.

Langkah Pertamina juga sejalan dengan kebutuhan pelaku usaha kecil untuk memperoleh pendampingan yang terukur, mulai dari peningkatan kualitas, kemasan, hingga kesiapan ekspor. Dalam pasar global, kepercayaan buyer sering kali dibangun dari konsistensi dan rekam jejak bisnis. Karena itu, pencapaian Java Criollo dinilai penting sebagai bukti bahwa pembinaan yang tepat dapat menghasilkan kontrak nyata. Ke depan, sinergi antara BUMN, pemerintah, dan UMKM menjadi kunci memperluas penetrasi ekspor.

TEI 2025 Buka Peluang Baru

Trade Expo Indonesia 2025 kembali menjadi panggung utama bagi pelaku usaha nasional untuk bertemu buyer dari berbagai negara. Ajang ini mempertemukan produk unggulan Indonesia dengan pasar internasional yang mencari mitra dagang baru. Dalam konteks itu, transaksi ekspor Java Criollo menjadi salah satu hasil paling konkret. Pencapaian tersebut memberi gambaran bahwa pameran dagang masih efektif sebagai sarana promosi ekspor.

Partisipasi 44 UMKM binaan Pertamina lainnya menunjukkan bahwa kesempatan serupa masih terbuka lebar. Setiap pelaku usaha membawa produk dengan karakter dan keunggulan berbeda, mulai dari makanan, minuman, hingga kerajinan. Dengan pendampingan yang tepat, peluang untuk menjalin kontrak ekspor dapat meningkat signifikan. TEI 2025 pun menjadi ruang belajar sekaligus ruang transaksi bagi UMKM.

Bagi sektor ekonomi nasional, capaian seperti ini penting karena menunjukkan bahwa ekspor tidak hanya dikuasai korporasi besar. UMKM juga mampu masuk ke rantai perdagangan global apabila memiliki kualitas produk dan kesiapan bisnis yang memadai. Keberhasilan Java Criollo menjadi bukti bahwa produk olahan lokal bisa bersaing di pasar premium. Dari sisi kebijakan, hasil ini dapat memperkuat dorongan agar UMKM menjadi motor pertumbuhan baru.

Dengan transaksi senilai US$ 5,2 juta, Pertamina dan Java Criollo membawa kabar positif bagi ekosistem usaha kecil Indonesia. Kesepakatan dengan pembeli asal Jepang itu bukan hanya soal angka, melainkan tentang pengakuan atas kualitas produk dalam negeri. Jika momentum ini terus dijaga, lebih banyak UMKM berpeluang menembus pasar global. Pada akhirnya, ekspor UMKM dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!