Jungkook BTS Ungkap Diet OMAD, Ini Penjelasannya

Lifestyle Clara Monica 29 Mei 2026 03:18 WIB 2
Jungkook BTS Ungkap Diet OMAD, Ini Penjelasannya

Jungkook BTS kembali menjadi sorotan setelah mengungkapkan bahwa ia menjalani diet dengan pola makan satu kali sehari, atau OMAD, dalam wawancara bersama Rolling Stone UK. Penyanyi termuda BTS itu menyebut dirinya hanya makan sekali dalam sehari, sambil tetap berolahraga pada pagi dan sore hari. Pengakuan tersebut memicu rasa penasaran publik terhadap pola makan yang kerap dikaitkan dengan penurunan berat badan. OMAD pun kembali ramai dibahas sebagai salah satu bentuk puasa intermiten yang ekstrem.

Pola makan ini dinilai menarik perhatian karena diterapkan oleh figur populer dengan jadwal padat dan tuntutan fisik tinggi. Meski demikian, para ahli umumnya menilai setiap metode diet perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh, kebutuhan energi, dan tujuan kesehatan masing-masing orang. OMAD bukan sekadar tren, melainkan pola makan yang membatasi asupan kalori dalam jendela waktu tertentu. Karena itu, penting memahami cara kerja, manfaat, dan risikonya sebelum mencoba.

Diet OMAD Jungkook BTS

Jungkook BTS mengaku sedang diet dan hanya makan satu kali sehari. Dalam wawancara tersebut, ia juga mengatakan bahwa dirinya sangat menantikan waktu makan itu tiba. Pengakuan itu menunjukkan bahwa pola makan yang dijalaninya cukup ketat. Di sisi lain, ia tetap menjaga kebugaran dengan olahraga rutin dua kali sehari.

OMAD merupakan singkatan dari One Meal A Day, yaitu pola makan yang hanya memberi ruang untuk satu kali makan utama. Dalam praktiknya, seseorang membatasi asupan kalori dalam satu jendela waktu singkat. Sebagian orang memilih makan malam, sementara yang lain memilih sarapan atau makan siang. Pola ini biasanya disertai puasa sepanjang sisa hari.

Diet OMAD termasuk ke dalam kelompok puasa intermiten. Prinsip utamanya adalah tidak mengonsumsi makanan atau minuman berkalori dalam periode tertentu. Beberapa versi memperbolehkan camilan dalam jumlah sangat terbatas, tetapi banyak pelaku OMAD menghindari kalori sama sekali di luar waktu makan. Dengan cara itu, total kalori harian cenderung menurun secara signifikan.

Pola makan ini banyak dikaitkan dengan penurunan berat badan karena defisit kalori. Ketika tubuh menerima energi lebih sedikit dari yang dibutuhkan, cadangan lemak dapat digunakan sebagai sumber tenaga. Namun, hasil tiap orang bisa berbeda bergantung pada aktivitas fisik, komposisi tubuh, dan kualitas makanan. Karena itu, OMAD tidak selalu memberi hasil yang sama pada semua orang.

Cara Kerja OMAD

OMAD bekerja dengan membatasi waktu makan menjadi sangat singkat. Sisa waktu dalam sehari digunakan untuk puasa, sehingga tubuh tidak menerima kalori dalam periode yang panjang. Kondisi ini membuat tubuh beradaptasi pada pola energi yang berbeda dari makan teratur. Pada sebagian orang, mekanisme tersebut membantu mengendalikan asupan harian.

Dalam banyak kasus, orang yang menjalani OMAD makan dalam satu jam atau kurang. Pada saat itu, makanan yang dikonsumsi biasanya harus cukup lengkap agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi. Jika tidak dirancang dengan baik, pola ini berisiko membuat tubuh kekurangan nutrisi penting. Oleh sebab itu, kualitas makanan menjadi faktor yang sangat menentukan.

Penelitian yang dikutip dari Healthline menunjukkan bahwa pembatasan makan dalam jangka waktu tertentu dapat menurunkan lemak tubuh. Pada orang dewasa sehat, makan dalam jendela empat jam di malam hari disebut menghasilkan penurunan lemak lebih besar dibanding makan tiga kali sehari. Temuan ini memperlihatkan bahwa waktu makan dapat memengaruhi respons tubuh. Meski begitu, hasil penelitian tidak dapat dijadikan patokan mutlak untuk semua orang.

Puasa intermiten, termasuk OMAD, umumnya dipilih karena dianggap praktis dan efisien. Sebagian orang merasa lebih mudah mengontrol nafsu makan ketika hanya ada satu waktu makan. Namun, metode ini tetap memerlukan disiplin tinggi agar tidak berujung pada pola makan berlebihan saat jam makan tiba. Tanpa kontrol yang baik, manfaatnya bisa berkurang.

Manfaat Yang Dianggap Muncul

Salah satu alasan OMAD banyak diminati adalah potensi penurunan berat badan. Dengan hanya satu kali makan, total kalori yang masuk ke tubuh biasanya lebih rendah dari pola makan biasa. Hal ini menciptakan defisit kalori yang dapat mendorong penurunan berat badan. Bagi sebagian orang, pola ini terasa lebih sederhana dibanding menghitung kalori sepanjang hari.

Selain itu, beberapa orang merasa lebih fokus karena tidak terlalu sering memikirkan jadwal makan. Waktu yang biasanya dipakai untuk makan dapat dialihkan ke aktivitas lain. Pola makan yang lebih singkat juga dianggap memudahkan sebagian orang menjaga konsistensi. Meski demikian, manfaat tersebut tetap bersifat individual.

Sejumlah pelaku OMAD juga menilai pola ini membantu mengurangi kebiasaan ngemil. Ketika jendela makan dibatasi, peluang konsumsi makanan tinggi gula dan lemak berkurang. Jika diterapkan dengan makanan bergizi, pola ini dapat membantu pengendalian berat badan. Namun, hasilnya akan berbeda bila menu yang dipilih tidak seimbang.

Dalam praktiknya, keberhasilan OMAD sangat bergantung pada kedisiplinan dan kualitas asupan. Satu kali makan harus mengandung protein, serat, vitamin, mineral, dan karbohidrat secukupnya. Tanpa perencanaan yang baik, tubuh bisa kekurangan energi untuk beraktivitas. Karena itu, manfaat yang dirasakan perlu diimbangi dengan perhitungan gizi yang matang.

Risiko Dan Pertimbangannya

Meski populer, OMAD bukan tanpa risiko. Pola makan ini dapat membuat sebagian orang merasa lemas, pusing, atau sulit berkonsentrasi, terutama pada masa awal penerapan. Jika tubuh tidak terbiasa, puasa panjang bisa memengaruhi stamina harian. Kondisi tersebut bisa menjadi masalah bagi orang dengan aktivitas fisik tinggi.

OMAD juga berpotensi memicu rasa lapar berlebihan saat jam makan tiba. Akibatnya, seseorang bisa makan terlalu banyak dalam satu waktu dan justru mengganggu pencernaan. Pada sebagian kasus, pola ini juga dapat memicu hubungan yang kurang sehat dengan makanan. Karena itu, pengawasan diri menjadi sangat penting.

Orang dengan kondisi medis tertentu sebaiknya lebih berhati-hati. Penderita diabetes, gangguan lambung, ibu hamil, atau orang dengan riwayat gangguan makan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mencoba. Setiap kondisi memiliki kebutuhan yang berbeda dan tidak semua metode cocok untuk semua orang. Pendekatan yang aman selalu lebih diutamakan daripada mengikuti tren.

OMAD dapat saja menjadi pilihan bagi sebagian orang dewasa yang sehat dan memahami risikonya. Namun, metode ini tidak seharusnya diterapkan hanya karena mengikuti figur publik. Evaluasi kebutuhan tubuh, aktivitas harian, dan tujuan kesehatan perlu dilakukan lebih dulu. Dengan begitu, pola makan yang dipilih benar-benar mendukung kesehatan, bukan sekadar mengikuti popularitas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!