Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hidupnya Berubah Drastis

Lifestyle Nadia Safira Putri 29 Mei 2026 03:15 WIB 3
Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hidupnya Berubah Drastis

Sonal Keay mengalami kondisi kulit langka yang membuat dirinya alergi terhadap sinar matahari dan harus menghindari paparan UV hampir sepanjang hari. Wanita ini hanya merasa aman ketika malam tiba, setelah matahari benar-benar terbenam.

Kondisi tersebut mulai disadarinya saat berusia 18 tahun, ketika reaksi kulitnya memburuk setelah liburan ke luar negeri. Sejak itu, Sonal harus hidup dengan kewaspadaan tinggi karena paparan cahaya yang singkat sekalipun dapat memicu rasa sakit luar biasa.

Alergi sinar matahari langka

Sonal mengaku kulitnya dapat terasa seperti terbakar hanya dalam waktu kurang dari satu menit di bawah sinar matahari. Bahkan saat cuaca mendung, tubuhnya tetap bisa bereaksi dengan nyeri hebat.

Ia pertama kali menyadari gejala itu ketika sedang berlibur di luar negeri pada usia 18 tahun. Setelah kembali ke rumah, keluhan yang dialaminya tidak membaik dan justru semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.

Setelah dua tahun mengalami ketidaknyamanan, ia akhirnya memahami bahwa sumber masalahnya berkaitan dengan sinar matahari. Kondisi itu kemudian diketahui sebagai dermatitis aktinik kronis, salah satu bentuk alergi kulit fotosensitif yang tergolong langka.

Gejala yang mengganggu aktivitas

Dermatitis aktinik kronis membuat kulit Sonal memunculkan lesi eksim, termasuk pada area yang tidak terkena matahari langsung. American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa alergi kulit fotosensitif dapat menimbulkan reaksi yang sangat menyakitkan.

Sonal menyebut rasa sakit yang muncul bukan sekadar tidak nyaman, melainkan sangat parah dan sulit ditoleransi. Ia bahkan mengaku pernah merasa ingin menggaruk atau mengoyak kulitnya agar nyeri berkurang.

Reaksi itu tidak hanya muncul saat berada di luar rumah, tetapi juga saat cahaya matahari menembus jendela. Dalam kondisi tertentu, paparan yang sangat singkat saja sudah cukup untuk memicu keluhan berat.

Dampak pada kondisi mental

Selain menyerang fisik, kondisi tersebut juga memengaruhi kesehatan mental Sonal. Ia sempat merasa takut terhadap cahaya, termasuk cahaya lampu di dalam ruangan.

Ketakutan itu membuatnya terus waspada dalam beraktivitas, karena setiap sumber cahaya berpotensi menimbulkan reaksi. Hidupnya berubah menjadi rutinitas penuh perhitungan agar kulit tetap terlindungi.

Ia juga harus memastikan tubuhnya selalu terlindungi, bahkan untuk urusan sederhana seperti mengambil kunci mobil atau memakai sepatu. Tabir surya menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari sebelum ia keluar rumah.

Adaptasi di dalam rumah

Untuk tetap bisa beraktivitas, Sonal memasang tirai anti-UV di rumahnya. Langkah itu dilakukan agar cahaya matahari yang masuk melalui jendela tidak memicu reaksi pada kulitnya.

Dengan perlindungan tambahan tersebut, ia dapat menjalani sebagian aktivitas harian tanpa harus terus-menerus khawatir. Namun, kewaspadaan tetap menjadi bagian dari hidupnya setiap saat.

Sonal menegaskan bahwa penampilannya mungkin terlihat normal, tetapi kehidupannya jauh dari kata biasa. Kisahnya menjadi gambaran bahwa kondisi kulit langka dapat berdampak besar pada rutinitas dan kualitas hidup seseorang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!