Ubi Ungu Kembali Populer, Ini Manfaat Menurut Dokter

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 02:12 WIB 2
Ubi Ungu Kembali Populer, Ini Manfaat Menurut Dokter

Olahan ubi kembali naik daun di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi dengan cream cheese dan beragam topping kekinian. Di tengah tren tersebut, dokter gizi menyarankan masyarakat memilih ubi ungu sebagai salah satu pilihan yang lebih bermanfaat. Kandungan antosianin di dalamnya dinilai cukup tinggi, sehingga menarik perhatian dari sisi kesehatan. Meski begitu, manfaatnya tetap bergantung pada cara pengolahan dan tambahan bahan yang digunakan.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa warna ungu pada ubi berasal dari antosianin, yaitu pigmen alami yang juga terdapat pada blueberry dan anggur ungu. Ia menilai ubi ungu layak dipilih karena kandungan flavonoid dan polifenolnya yang memiliki sifat antiinflamasi. Menurutnya, kandungan tersebut dapat mendukung kesehatan, terutama pada kelompok yang memiliki risiko penyakit tidak menular. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada olahan yang justru tinggi gula dan lemak jenuh.

Ubi Ungu dan Antosianin

Jenis ubi yang direkomendasikan adalah ubi ungu. Menurut dr Tjandra, pilihan ini lebih menonjol karena kandungan antosianinnya yang cukup tinggi. Antosianin merupakan zat warna alami yang kaya flavonoid dan polifenol. Senyawa tersebut dikenal memiliki efek anti-peradangan.

Warna ungu pada ubi berasal dari pigmen alami bernama antosianin. Zat ini juga banyak ditemukan pada buah beri, termasuk blueberry, serta pada anggur ungu. Keberadaan antosianin membuat ubi ungu memiliki nilai tambah dari sisi gizi. Hal ini menjadi alasan mengapa ubi ungu sering direkomendasikan dalam pola makan yang lebih sehat.

Dalam tinjauan yang dipublikasikan di jurnal Molecules pada 2019, kadar antosianin pada ubi ungu dilaporkan dapat mencapai sekitar 218-244 mg per 100 gram. Angka tersebut dapat berbeda tergantung varietas dan metode pengolahan. Semakin tepat pengolahan, semakin besar peluang kandungan bioaktifnya tetap terjaga. Karena itu, cara memasak ikut menentukan kualitas akhir dari olahan ubi.

Manfaat bagi Risiko Penyakit

Dr Tjandra menilai ubi ungu bermanfaat bagi orang yang berisiko mengalami penyakit tidak menular. Kelompok ini mencakup mereka yang memiliki potensi diabetes maupun hipertensi. Kandungan antosianin diyakini dapat mendukung perlindungan tubuh melalui aktivitas antioksidan. Efek antiinflamasi juga menjadi salah satu alasan ubi ungu dinilai lebih unggul.

Antioksidan berperan membantu tubuh melawan stres oksidatif. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan metabolik. Sementara itu, sifat anti-peradangan dapat membantu menjaga keseimbangan respons tubuh. Karena itu, ubi ungu sering dipandang sebagai opsi yang lebih bernilai dibandingkan camilan manis biasa.

Meski demikian, manfaat tersebut tidak membuat ubi ungu otomatis menjadi makanan penyembuh. Pola makan secara keseluruhan tetap menjadi faktor utama dalam menjaga kesehatan. Konsumsi ubi ungu sebaiknya dilihat sebagai bagian dari menu seimbang. Dengan begitu, manfaat nutrisinya dapat lebih optimal dirasakan.

Perhatikan Topping dan Porsi

Dr Tjandra mengingatkan bahwa manfaat ubi bisa menurun ketika ditambahkan topping tinggi gula dan lemak jenuh secara berlebihan. Cream cheese, saus manis, atau tambahan krim tebal dapat mengubah profil gizinya. Alih-alih sehat, olahan tersebut justru bisa menjadi sumber kalori berlebih. Karena itu, pilihan topping perlu diperhatikan secara cermat.

Porsi juga menjadi aspek penting dalam mengonsumsi ubi yang sedang viral. Makanan yang tampak sehat tetap dapat berlebihan bila dimakan tanpa kontrol. Dalam konteks ini, ukuran sajian perlu disesuaikan dengan kebutuhan harian. Kebiasaan makan yang seimbang akan membantu menjaga manfaat ubi tetap relevan.

Masyarakat disarankan memilih olahan yang sederhana, misalnya ubi panggang dengan topping secukupnya. Tambahan bahan segar atau rendah gula dapat menjadi alternatif yang lebih bijak. Cara ini membuat ubi ungu tetap nikmat tanpa mengorbankan nilai gizinya. Dengan pengolahan yang tepat, tren makanan viral masih bisa sejalan dengan gaya hidup sehat.

Pilihan Sehat di Tengah Tren

Popularitas ubi di media sosial menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbuka pada makanan berbasis bahan alami. Tren tersebut bisa menjadi peluang untuk memperkenalkan pilihan yang lebih bernutrisi. Ubi ungu termasuk salah satu bahan yang mudah diolah dan relatif terjangkau. Kombinasi rasa, warna, dan manfaat membuatnya cocok masuk dalam menu harian.

Di sisi lain, edukasi gizi tetap dibutuhkan agar masyarakat tidak hanya mengikuti tren. Pengetahuan tentang kandungan makanan akan membantu seseorang membuat pilihan yang lebih tepat. Ubi ungu dapat menjadi contoh bahwa makanan tradisional juga memiliki potensi kesehatan yang besar. Nilai tersebut akan lebih terasa jika dikonsumsi dengan cara yang bijak.

Dengan mempertimbangkan kandungan antosianin, manfaat metabolik, serta cara penyajian, ubi ungu layak menjadi pilihan yang lebih sehat. Namun, keseimbangan tetap menjadi kunci utama dalam setiap konsumsi. Masyarakat disarankan tidak hanya melihat tampilan, tetapi juga komposisi bahan yang digunakan. Dari sana, tren makanan viral dapat berubah menjadi kebiasaan makan yang lebih baik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!