Jessica Iskandar Ungkap Titik Terendah dan Mental Breakdown

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 03:42 WIB 2
Jessica Iskandar Ungkap Titik Terendah dan Mental Breakdown

Jessica Iskandar akhirnya angkat bicara mengenai fase hidup yang paling kelam, ketika ia kehilangan arah hingga mengalami mental breakdown. Pengakuan itu ia sampaikan dalam acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat, 17 April 2026.

Di hadapan publik, artis berusia 38 tahun itu mengakui bahwa masa tersebut bukan hanya sulit untuk dijalani, tetapi juga berat untuk diungkapkan. Tekanan dari luar, pengalaman pribadi, dan penilaian orang lain membuat kondisi mentalnya semakin terpuruk.

Jessica Iskandar dan luka batin

Jessica Iskandar menyebut dirinya pernah berada di titik terendah, paling gelap, dan kehilangan diri sendiri. Ia menilai fase itu sebagai momen paling sensitif dalam hidupnya.

Menurutnya, beban emosional tersebut tidak datang tiba-tiba, melainkan menumpuk dari berbagai pengalaman yang ia hadapi. Publik selama ini melihat sisi ceria dirinya, padahal di balik itu ada luka yang lama ia simpan.

Ia juga mengakui bahwa rasa dihakimi membuat proses pemulihan terasa lebih berat. Situasi itu membuatnya semakin sulit memaafkan diri sendiri.

Meski demikian, Jessica memilih untuk tidak lagi menutupi perasaan yang pernah membuatnya jatuh. Ia kini lebih terbuka dalam membicarakan kondisi yang pernah ia alami.

Tekanan publik memperburuk kondisi

Jessica menuturkan bahwa tekanan dari luar ikut memperparah keadaan mentalnya saat itu. Ucapan orang lain, menurut dia, bisa menjadi beban yang menambah sakit di dalam diri.

Ia merasa seolah sudah dihakimi sebelum sempat berdamai dengan dirinya sendiri. Kondisi tersebut membuatnya semakin sulit menemukan pegangan.

Pengalaman pribadi seperti perceraian, kegagalan hubungan, hingga dugaan penipuan turut menjadi bagian dari perjalanan berat yang ia lalui. Semua itu meninggalkan jejak emosional yang tidak ringan.

Dalam pengakuannya, Jessica ingin menunjukkan bahwa rasa sakit tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang berjuang keras di dalam dirinya.

Langkah pulih yang dipilih

Untuk keluar dari masa gelap, Jessica menekankan pentingnya mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia menyebut hubungan spiritual sebagai salah satu sumber kekuatan utama.

Selain itu, ia juga menilai pentingnya memiliki tempat aman untuk bercerita. Menurutnya, berbagi beban dapat membuat hati terasa lebih ringan.

Ia percaya bahwa masalah besar yang terus dipendam justru akan semakin berat. Sebaliknya, ketika dibagikan kepada orang yang tepat, perlahan beban itu bisa berkurang.

Jessica menilai kejujuran terhadap diri sendiri menjadi langkah awal untuk pulih. Dari sana, proses penyembuhan bisa berjalan lebih jujur dan lebih sehat.

Ahli sebut sensitif itu kuat

Psikolog Indah Sundari Jayanti, M.Psi, menilai cara Jessica merespons sisi sensitifnya sebagai perempuan sudah tepat. Ia menilai sensitivitas bukan kelemahan, melainkan bagian dari kekuatan emosional.

Menurut Indah, perempuan tidak perlu merasa malu ketika menunjukkan perasaan. Justru dari kemampuan mengakui emosi, seseorang bisa memahami dirinya lebih baik.

Ia menjelaskan bahwa dukungan sosial dan ruang aman sangat penting dalam menjaga kesehatan mental. Tanpa itu, tekanan batin bisa semakin sulit dihadapi.

Indah menambahkan bahwa sensitivitas dapat menjadi kekuatan saat diarahkan dengan benar. Hal itu membantu seseorang tumbuh lebih kuat, lebih sadar diri, dan lebih siap menghadapi tantangan hidup.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!