Pertamina Dorong UMKM Lewat Olahan Pelepah Pisang di Kebumen

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 02 Juni 2026 05:06 WIB 3
Pertamina Dorong UMKM Lewat Olahan Pelepah Pisang di Kebumen

PT Pertamina (Persero) memperkuat komitmennya dalam pengembangan UMKM melalui Program Pertapreneur Aggregator (PAG) dengan menggandeng PT Agrominafiber Java Indonesia dan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kebumen. Kolaborasi ini mengolah limbah pelepah pisang menjadi serat alami yang bernilai ekonomi, ramah lingkungan, dan berpotensi masuk pasar ekspor. Program tersebut juga melibatkan warga binaan dalam rantai produksi yang nyata, terukur, dan berkelanjutan. Inisiatif ini dinilai memberi manfaat ganda, yakni dari sisi bisnis sekaligus dampak sosial.

Direktur PT Agrominafiber Java Indonesia, Novita, menyebut pelepah pisang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kerajinan dan material berkelanjutan. Menurut dia, permintaan terhadap bahan baku yang ramah lingkungan terus meningkat, sehingga peluang pengembangannya semakin terbuka. Kerja sama dengan Rutan Kebumen menjadi langkah awal untuk membangun produksi yang lebih inklusif. Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di tempat lain.

Pertapreneur dan UMKM Binaan

Program Pertapreneur Aggregator menjadi wadah bagi Pertamina untuk mendorong UMKM binaan agar naik kelas melalui kemitraan yang produktif. Dalam kasus ini, PT Agrominafiber Java Indonesia memanfaatkan program tersebut untuk memperluas rantai pasok berbasis bahan baku lokal. Langkah itu juga membuka ruang bagi warga binaan untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi yang bernilai tambah. Pendekatan ini menegaskan bahwa pemberdayaan UMKM dapat berjalan seiring dengan manfaat sosial.

Novita mengatakan bahwa pihaknya ingin warga binaan terlibat langsung dalam proses produksi yang memiliki nilai ekonomi nyata. Ia menilai pelepah pisang dapat diolah menjadi serat alami yang dibutuhkan industri kerajinan dan bahan berkelanjutan. Dengan keterlibatan tersebut, warga binaan memperoleh pengalaman kerja yang lebih relevan dan aplikatif. Model seperti ini dinilai mampu memperkuat kemandirian usaha sekaligus membuka peluang pasar baru.

Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada penguatan kualitas dan konsistensi hasil. Pendampingan diberikan agar setiap tahap kerja memenuhi standar yang dibutuhkan perusahaan. Dalam konteks UMKM, kualitas produk menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha. Oleh karena itu, sinergi antara pelaku usaha dan lembaga pemasyarakatan dirancang agar berjalan dalam kerangka bisnis yang sehat.

Pertamina melalui PAG menempatkan pengembangan UMKM sebagai bagian dari strategi tanggung jawab sosial perusahaan. Program ini tidak berhenti pada penyaluran bantuan, melainkan diarahkan untuk membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan. Dengan pola tersebut, UMKM binaan memiliki kesempatan untuk berkembang melalui jejaring kemitraan yang konkret. Hal ini juga memperkuat posisi UMKM sebagai penggerak ekonomi berbasis komunitas.

Pelepah Pisang Jadi Serat Bernilai

Pengolahan pelepah pisang di Rutan Kebumen dilakukan untuk menghasilkan serat alami yang dapat dimanfaatkan dalam industri tertentu. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai kini diolah menjadi bahan baku yang memiliki potensi ekonomi lebih tinggi. Pendekatan ini sejalan dengan tren industri hijau yang menekankan pemanfaatan sumber daya secara efisien. Selain itu, prosesnya juga mendukung prinsip ramah lingkungan dan zero waste.

Novita menjelaskan bahwa serat pelepah pisang memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri kerajinan. Produk ini juga dinilai sesuai dengan kebutuhan pasar yang mulai mencari material alternatif yang berkelanjutan. Bagi perusahaan, potensi tersebut tidak hanya mendukung pasokan, tetapi juga memperkuat posisi usaha di pasar ekspor. Dengan demikian, bahan baku lokal dapat naik kelas menjadi produk bernilai tinggi.

Dalam pelatihan awal, Agrominafiber telah menyalurkan sekitar satu ton bahan baku ke Rutan Kebumen hanya dalam waktu satu minggu. Penyaluran ini menjadi bukti bahwa skema produksi sudah mulai berjalan dan menunjukkan respons awal yang positif. Kecepatan adaptasi tersebut menjadi modal penting untuk memperluas kapasitas produksi ke tahap berikutnya. Progres awal ini juga menegaskan bahwa kolaborasi bisa menghasilkan dampak dalam waktu relatif cepat.

Ke depan, sekitar 30 persen kebutuhan bahan baku perusahaan yang mencapai 15 ton direncanakan dipasok dari hasil produksi warga binaan. Target tersebut menunjukkan adanya peluang rantai pasok yang stabil dan berkelanjutan. Jika berjalan sesuai rencana, kerja sama ini dapat memperkuat ketahanan bahan baku perusahaan. Di sisi lain, warga binaan memperoleh peran aktif dalam proses ekonomi yang produktif.

Pelatihan Warga Binaan Kebumen

Kepala Rutan Kelas IIB Kebumen, Pramu Sapta, menyebut respons awal terhadap kerja sama ini cukup positif. Ia menyampaikan bahwa laporan dari jajaran menunjukkan perkembangan yang baik meski program belum genap satu bulan berjalan. Dari sisi mitra usaha, prospeknya juga dinilai menjanjikan karena memiliki nilai bisnis dan sosial. Menurut dia, hal ini menjadi sinyal baik bagi keberlanjutan program.

Pramu menilai kehadiran Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina memperkuat arah program agar tidak berhenti pada tahap pelatihan. Pendampingan yang berkelanjutan dibutuhkan agar proses produksi dapat berjalan sesuai standar. Dengan begitu, hasil kerja warga binaan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar masuk ke dalam kegiatan usaha. Ia berharap skema ini dapat menjadi bekal keterampilan yang berguna setelah warga binaan kembali ke masyarakat.

Selama proses pendampingan, tim Agrominafiber memberikan bimbingan langsung mulai dari teknik produksi hingga pengelolaan bahan baku. Pendekatan tersebut juga mencakup peningkatan kerapian produk agar kualitasnya semakin mendekati standar perusahaan. Selain itu, pengelolaan dilakukan dengan prinsip zero waste untuk memaksimalkan seluruh material yang tersedia. Metode ini diharapkan menciptakan kebiasaan kerja yang disiplin dan efisien.

Dari hasil pelatihan awal, warga binaan telah mampu memproduksi serat pelepah pisang dengan kualitas yang terus meningkat. Target produksi ditetapkan sekitar 3 ton per bulan, yang menunjukkan adanya skala kerja yang cukup jelas. Saat ini, sekitar 60 persen produk telah memenuhi standar kualitas perusahaan, sementara sisanya masih perlu penyempurnaan teknik. Capaian tersebut menjadi dasar optimisme terhadap pengembangan kapasitas produksi berikutnya.

Dampak Sosial dan Bisnis

Asesor Pertapreneur Aggregator Pertamina, Bima, menilai sinergi antara Agrominafiber dan Rutan Kebumen merupakan langkah strategis. Menurut dia, kolaborasi ini berpotensi memperkuat kesinambungan pasokan bahan baku yang dibutuhkan perusahaan. Ia juga menilai hasil dari program seperti ini dapat terlihat dalam waktu yang relatif cepat. Karena itu, fokus utama pendampingan diarahkan pada kualitas dan ketepatan waktu produksi.

Bima menegaskan bahwa keberhasilan program akan sangat ditentukan oleh konsistensi standar kerja. Jika kualitas produk terjaga, maka rantai pasok dapat berjalan lebih stabil dan efisien. Di sisi lain, warga binaan juga memperoleh pengalaman kerja yang bernilai untuk masa depan mereka. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa program sosial dapat dirancang dengan logika bisnis yang tetap terukur.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan program ini merupakan hasil sinergi antara Rutan Kebumen dan PT Agrominafiber Java Indonesia dalam skema Pertapreneur Aggregator. Ia menekankan bahwa Pendampingan intensif selama enam bulan ke depan akan menjadi fase penting bagi penguatan model kerja sama tersebut. Pertamina berharap kolaborasi ini dapat menjadi contoh pengembangan UMKM berbasis agregasi yang kompetitif. Selain itu, program ini diharapkan mampu memberi dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan.

Dengan pengolahan pelepah pisang menjadi produk bernilai ekonomi, program ini menunjukkan bahwa UMKM dapat tumbuh melalui inovasi dan kemitraan yang tepat. Sinergi antara perusahaan, binaan UMKM, dan lembaga pemasyarakatan juga membuka ruang baru bagi pemberdayaan masyarakat. Keberhasilan program ini akan bergantung pada konsistensi produksi, kualitas, dan pendampingan yang berkelanjutan. Jika semua unsur berjalan seimbang, model ini berpeluang menjadi acuan pengembangan usaha sosial di daerah lain.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!