Dua Perempuan Nelayan Ini Ubah Pesisir Jadi Kekuatan Ekonomi

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 02 Juni 2026 06:19 WIB 2
Dua Perempuan Nelayan Ini Ubah Pesisir Jadi Kekuatan Ekonomi

Stigma bahwa nelayan identik dengan laki-laki dipatahkan oleh dua perempuan pesisir dari Maluku Tenggara dan Papua Barat. Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M. Essuruw membuktikan bahwa perempuan dapat menjadi pelaku utama ekonomi perikanan, penggerak komunitas, sekaligus inovator di wilayahnya.

Keduanya menerima penghargaan Perempuan Inspiratif 2025 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam acara bertema Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045. Penghargaan itu menegaskan peran strategis perempuan nelayan dalam memperkuat ekonomi keluarga, ketahanan pangan, dan pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan.

Perempuan Nelayan Pesisir

Sri Fany Mony memulai perjalanannya dari seorang ibu rumah tangga tanpa usaha ekonomi. Kini, ia memimpin Kelompok Pengolah dan Pemasar Dullah Tama di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara.

Di bawah kepemimpinannya, kelompok itu menghasilkan berbagai olahan ikan dan produk ecoprint. Transformasi tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan pesisir dapat menciptakan nilai ekonomi baru bagi keluarga dan komunitas.

Pada 2025, Dullah Tama mencatat pendapatan Rp 44,1 juta. Angka itu tumbuh sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kelompok ini juga aktif membagikan praktik baik di tingkat nasional hingga internasional. Capaian itu membuat peran Fany diakui bukan hanya sebagai pengolah hasil laut, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial.

Inovasi Olahan Bernilai Tambah

Nama Nova Theodora J.M. Essuruw muncul sebagai sosok inspiratif dari Teluk Arguni, Kaimana. Pendeta Protestan sekaligus ketua wilayah ini memimpin Kelompok Seraphim Bofuwer dengan pendekatan yang berbeda dalam pengelolaan hasil perikanan.

Nova melihat kakap cina yang selama ini kurang dimanfaatkan sebagai peluang ekonomi. Ia kemudian mendorong pengolahan ikan itu menjadi abon, sambal, kecap ikan, dan produk pangan bergizi lainnya.

Langkah tersebut mengurangi pemborosan sumber daya perikanan. Di saat yang sama, inisiatif itu meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan membuka sumber pendapatan baru bagi perempuan pesisir.

Produk Seraphim Bofuwer kini dipasarkan ke Fakfak, Sorong, Timika, dan Jayapura. Kelompok ini juga meraih Juara 3 Festival Senja Indah Kaimana 2024 serta pendampingan BPOM sebagai orang tua asuh UMKM.

Dukungan Program Berkelanjutan

Penghargaan yang diterima Sri Fany dan Nova lahir dari proses seleksi kolaboratif antara KemenPPPA dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Penilaian dilakukan dengan melihat kepemimpinan perempuan, dampak sosial-ekonomi, dan kontribusi pada pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menyebut penghargaan ini menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional. Menurut dia, kiprah perempuan nelayan tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada penguatan komunitas pesisir.

Kedua penerima penghargaan merupakan Champion CFI Indonesia, bagian dari Project GEF-6 CFI Indonesia. Program ini merupakan hibah kerja sama antara KKP dan WWF-US sebagai Global Environment Facility Agency.

Proyek tersebut berfokus pada penguatan tata kelola perikanan berkelanjutan di WPP 715, 717, dan 718 di Indonesia Timur. Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menegaskan para Champion disiapkan sebagai agen perubahan yang menjaga keberlanjutan dampak program.

Ekonomi Biru Dari Pesisir

Sejak dimulai pada Desember 2019 hingga 2026, Project GEF-6 CFI Indonesia telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan. Sekitar 32 persen di antaranya adalah perempuan nelayan yang terlibat dalam berbagai kegiatan pemberdayaan.

Program ini mencakup pelatihan pengolahan hasil perikanan, kerajinan ecoprint, manajemen usaha, sertifikasi produk, penguatan merek, dan fasilitasi kemitraan dengan pasar modern. Produk kelompok binaan kini telah masuk ke lebih dari 10 jaringan ritel modern di Maluku dan Papua Barat.

Dalam kerangka CFI Indonesia, Champion diposisikan sebagai nelayan kecil terlatih yang berperan sebagai pelatih komunitas. Mereka dibekali keterampilan teknis, teknologi ramah lingkungan, dan praktik Ecosystem Approach to Fisheries Management.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono sebelumnya menekankan bahwa pemberdayaan perempuan nelayan berdampak langsung pada ekonomi keluarga dan pengurangan limbah sumber daya perikanan. Dari pesisir hingga tingkat nasional, kiprah mereka semakin penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!