Satelit Nusantara Lima Percepat Pemerataan Internet Nasional

Teknologi Moh. Royhan Nahado 02 Juni 2026 07:35 WIB 3
Satelit Nusantara Lima Percepat Pemerataan Internet Nasional

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut pengoperasian satelit Nusantara Lima milik Pasifik Satelit Nusantara akan mempercepat pemerataan akses internet nasional. Pernyataan itu disampaikan saat peresmian operasional satelit tersebut di Jakarta, Senin malam, 11 Mei 2026.

Meutya menjelaskan, akses internet di Indonesia telah menjangkau lebih dari 80 persen populasi, namun masih ada sekitar 20 persen warga yang belum terhubung. Dengan kapasitas mencapai 160 Gbps, satelit itu disebut akan membantu memenuhi kebutuhan konektivitas, terutama di daerah terpencil dan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Satelit Nusantara Lima

Meutya mengatakan, kehadiran satelit Nusantara Lima menjadi jawaban atas kebutuhan konektivitas yang selama ini belum merata. Menurut dia, upaya pemerataan internet tidak boleh hanya berfokus pada wilayah dekat Pulau Jawa. Pemerintah ingin agar layanan digital dapat hadir di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Karena itu, infrastruktur satelit dinilai menjadi salah satu solusi strategis.

Ia menegaskan, Indonesia saat ini sudah terhubung dalam skala besar jika dibandingkan dengan banyak negara lain. Namun, tujuan pemerintah bukan hanya mencatat angka penetrasi tinggi, melainkan memastikan seluruh penduduk memperoleh akses yang setara. Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta orang, masih ada pekerjaan besar untuk menjangkau semua warga. Satelit Nusantara Lima diharapkan memperkecil kesenjangan tersebut.

Dalam sambutannya, Meutya juga menyoroti pengalaman pemerintah saat membagikan perangkat Starlink di Miangas, wilayah terluar di utara Indonesia. Langkah itu dilakukan karena kebutuhan dasar masyarakat untuk mendapatkan informasi harus segera dipenuhi. Ia menyebut, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya solusi cepat bagi daerah yang sebelumnya belum siap terhubung. Kini, perusahaan dalam negeri didorong mengambil peran yang lebih besar.

Dorong Internet Wilayah Terluar

Pemerintah menargetkan 2.500 desa yang belum terhubung layanan internet dapat menikmati konektivitas digital pada akhir 2026. Target itu menjadi bagian dari percepatan pembangunan ekosistem Indonesia Digital, khususnya di wilayah 3T. Meutya menilai, pemerataan akses harus menyasar daerah yang selama ini tertinggal secara infrastruktur. Dengan begitu, manfaat digitalisasi dapat dirasakan lebih luas.

Ia menambahkan, konektivitas tidak hanya penting untuk membuka akses informasi, tetapi juga untuk mendorong kegiatan ekonomi masyarakat. Menurut dia, internet yang hadir di desa harus berujung pada peningkatan kesejahteraan warga. Jika tidak, pembangunan infrastruktur digital hanya akan menjadi proyek teknis tanpa dampak sosial yang jelas. Oleh karena itu, manfaat nyata bagi masyarakat menjadi ukuran utama.

Meutya juga menegaskan bahwa wilayah yang telah terhubung harus mendapat perlindungan yang memadai. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan ruang digital tidak menjadi sumber ancaman baru bagi masyarakat. Anak-anak perlu dilindungi dari kekerasan siber, judi online, radikalisasi, dan berbagai risiko digital lainnya. Dengan demikian, perluasan konektivitas berjalan seiring dengan keamanan pengguna.

Konektivitas dan Perlindungan Digital

Menurut Meutya, pembangunan konektivitas tidak bisa dipisahkan dari penguatan perlindungan digital. Ia menilai akses internet harus diiringi dengan tata kelola yang mampu menjaga masyarakat dari penyalahgunaan teknologi. Ruang digital yang aman, kata dia, menjadi syarat agar manfaat internet benar-benar optimal. Karena itu, aspek keamanan masuk dalam prioritas pemerintah.

Pemerintah juga ingin memastikan transformasi digital nasional tidak berhenti pada penyediaan jaringan semata. Setelah akses hadir, masyarakat diharapkan dapat menggunakannya untuk pendidikan, layanan publik, dan aktivitas ekonomi. Dengan dukungan yang tepat, internet bisa menjadi penggerak produktivitas di daerah. Hal ini dinilai penting untuk memperkecil kesenjangan antarwilayah.

Meutya menyebut, satelit Nusantara Lima akan menjadi infrastruktur strategis yang mendukung sekaligus mengamankan agenda digital nasional. Kapasitas besar yang dimiliki satelit tersebut diharapkan dapat menopang distribusi layanan internet secara lebih efisien. Pemerintah menempatkan proyek ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan digital. Dalam pandangannya, kemampuan bangsa dalam mengelola infrastruktur sendiri adalah hal yang krusial.

Kolaborasi Ekosistem Digital

Di akhir pernyataannya, Meutya mengajak industri untuk terus terlibat dalam pembangunan digital nasional. Pemerintah, menurut dia, akan memperkuat kolaborasi dengan pelaku usaha agar ekosistem yang dibangun lebih maju dan berkelanjutan. Ia menilai kerja sama tersebut penting untuk menjaga daya saing Indonesia di tengah perubahan teknologi yang cepat. Dukungan sektor swasta juga diperlukan agar pengembangan jaringan semakin merata.

Ia menyebut, PSN telah menunjukkan keberanian dalam menghadirkan infrastruktur satelit nasional. Keberanian itu dipandang sebagai modal penting untuk membangun teknologi yang dapat diandalkan di dalam negeri. Menurut Meutya, Indonesia memerlukan lebih banyak sumber daya manusia yang cakap sekaligus berani mengambil langkah besar. Dengan kombinasi itu, transformasi digital dapat berjalan lebih kuat.

Pemerintah berharap, pengoperasian satelit Nusantara Lima dapat menjadi tonggak penting bagi perluasan akses internet di seluruh wilayah Indonesia. Ke depan, target konektivitas tidak hanya diukur dari jumlah desa yang terhubung, tetapi juga dari kualitas layanan yang diterima masyarakat. Jika seluruh elemen bekerja bersama, pemerataan internet dapat berlangsung lebih cepat. Pada akhirnya, agenda digital nasional diarahkan untuk membangun Indonesia yang aman, berdaulat, dan inklusif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!