Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Women's Resilience

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 03:45 WIB 2
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Women's Resilience

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR menggelar acara bertajuk Women’s Resilience: From Surviving to Thriving. Ajang ini menghadirkan pengungsi perempuan dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan sebagai model sekaligus seniman, pada sebuah panggung yang menonjolkan keberanian dan daya juang mereka.

Melalui trunk show tersebut, Makaila Haifa dan UNHCR ingin mengubah cara pandang publik terhadap para pengungsi perempuan. Karya yang ditampilkan tidak hanya memperlihatkan busana, tetapi juga kisah hidup, identitas, dan semangat untuk bangkit di tengah tantangan.

Makaila Haifa dan UNHCR

Kolaborasi Makaila Haifa dengan UNHCR menjadi bagian dari peringatan Hari Perempuan Internasional 2026. Acara ini digelar sebagai ruang apresiasi bagi pengungsi perempuan yang memiliki talenta di bidang mode dan seni. Kehadiran mereka di panggung membawa pesan bahwa keberdayaan dapat tumbuh dari situasi paling sulit. Inisiatif ini juga memperkuat nilai inklusivitas dalam industri fashion muslim.

Brand hijab dan modest wear lokal tersebut menempatkan pengungsi perempuan sebagai pusat perhatian dalam presentasi koleksinya. Mereka tampil bukan sekadar sebagai peserta, melainkan sebagai representasi kekuatan perempuan lintas negara. Konsep ini memberi panggung bagi cerita personal yang jarang mendapat ruang dalam acara mode. Dengan pendekatan tersebut, acara ini tampil lebih dari sekadar pertunjukan busana.

UNHCR yang dikenal sebagai badan perlindungan pengungsi PBB mendukung kegiatan yang mendorong pemberdayaan kelompok rentan. Dukungan itu sejalan dengan tujuan acara untuk memperlihatkan potensi para pengungsi perempuan. Melalui panggung fashion, pesan kemanusiaan disampaikan dengan cara yang lebih dekat kepada publik. Kolaborasi ini menjadi contoh sinergi antara mode, kemanusiaan, dan advokasi sosial.

Acara tersebut juga menegaskan bahwa fashion dapat menjadi medium komunikasi yang kuat. Melalui karya dan penampilan, para pengungsi perempuan menunjukkan bahwa mereka memiliki suara dan identitas yang layak dihargai. Pendekatan ini membuat acara terasa relevan dengan isu sosial yang lebih luas. Peringatan Hari Perempuan Internasional pun mendapat makna yang lebih mendalam.

Pesan di balik panggung

Ling Hida, pendiri Makaila Haifa, membawa gagasan utama untuk mengubah narasi tentang pengungsi perempuan. Ia menekankan bahwa mereka bukan hanya kelompok yang membutuhkan bantuan, tetapi juga individu yang memiliki daya dan talenta. Lewat Mishka Project, panggung mode diubah menjadi ruang pemberdayaan. Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa representasi yang tepat dapat membangun kepercayaan diri.

Dalam penyelenggaraan ini, para pengungsi perempuan tampil dengan keunikan masing-masing. Mereka hadir dengan latar belakang berbeda, namun disatukan oleh pengalaman perjuangan dan harapan yang sama. Kehadiran mereka memberi warna baru pada format trunk show yang biasa berfokus pada estetika busana. Kali ini, cerita hidup justru menjadi elemen yang memperkuat nilai pertunjukan.

Pesan yang dibawa acara tersebut tidak berhenti pada peragaan busana. Setiap penampilan menyiratkan ketahanan, keberanian, dan kemampuan untuk tetap berkembang di tengah keterbatasan. Dalam konteks ini, fashion diposisikan sebagai alat untuk menyampaikan solidaritas. Publik diajak melihat bahwa keindahan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.

Konsep tersebut juga menunjukkan bahwa industri fashion memiliki peran dalam membangun kesadaran publik. Ketika panggung mode memberi ruang bagi kelompok yang kerap terpinggirkan, pesan inklusi menjadi lebih nyata. Pendekatan ini membuat acara memiliki nilai sosial yang lebih kuat dibanding peragaan biasa. Alhasil, pertunjukan itu menjadi medium untuk merayakan keberagaman dan ketahanan perempuan.

Model dari berbagai negara

Dalam trunk show itu, Mishka Project menampilkan lima pengungsi perempuan sebagai model utama. Mereka berasal dari Irak, Palestina, dan Somalia, dan saat ini mencari suaka di Indonesia. Kehadiran mereka memperlihatkan keterhubungan lintas negara dalam satu panggung yang sama. Komposisi ini menjadi simbol bahwa mode mampu menjembatani perbedaan latar belakang.

Salah satu sorotan lain datang dari Revathi Prabaharan, peraga busana perempuan asal India. Ia turut memperkuat presentasi koleksi dengan kehadiran yang merepresentasikan keberagaman Asia Selatan. Partisipasinya menambah dimensi lintas budaya dalam acara tersebut. Dengan begitu, panggung terasa lebih inklusif dan beragam.

Para model tampil dengan percaya diri dalam balutan karya yang merefleksikan identitas modest wear. Penampilan mereka menunjukkan bahwa busana dapat menjadi sarana untuk merayakan nilai dan pengalaman hidup. Setiap langkah di atas panggung membawa pesan tentang keberanian untuk hadir dan diakui. Hal ini menegaskan bahwa representasi memiliki dampak yang besar dalam dunia mode.

Keikutsertaan para pengungsi perempuan juga memperlihatkan proses pemberdayaan yang konkret. Mereka diberi ruang untuk tampil, menunjukkan ekspresi, dan berbagi kisah melalui medium fashion. Pendekatan ini membuat acara lebih otentik karena berbasis pada pengalaman nyata. Dalam konteks yang lebih luas, panggung tersebut menjadi bentuk pengakuan atas martabat manusia.

Karya dan harapan baru

Selain peragaan busana, acara ini menampilkan pameran fashion painting dari pengungsi berbakat asal Sri Lanka dan Afghanistan. Karya tersebut memperkaya pengalaman visual pengunjung sekaligus memperluas makna acara. Seni lukis fashion memberi ruang lain bagi para peserta untuk mengekspresikan diri. Kehadirannya membuat acara tidak hanya bergerak di ranah mode, tetapi juga seni rupa.

Pameran itu memperlihatkan bahwa talenta para pengungsi tidak terbatas pada satu bidang. Mereka mampu berkarya dalam bentuk yang kreatif, relevan, dan bernilai estetika tinggi. Dengan menampilkan karya seni, acara ini menegaskan pentingnya membuka akses pada ruang ekspresi. Hal itu memberi kesempatan bagi para peserta untuk dikenal dari sisi kemampuan mereka.

Sinergi antara busana dan seni menjadi kekuatan utama dalam penyelenggaraan acara tersebut. Keduanya saling melengkapi dalam membangun pesan tentang harapan dan ketahanan. Ketika karya ditampilkan bersama cerita hidup para pengungsi, makna yang lahir menjadi lebih dalam. Pengunjung pun diajak melihat bahwa proses bertahan dapat berujung pada pencapaian yang bermartabat.

Acara ini pada akhirnya menempatkan perempuan sebagai subjek yang aktif, bukan sekadar objek simpati. Panggung yang dibangun Makaila Haifa dan UNHCR menunjukkan bahwa pemberdayaan dapat hadir melalui kolaborasi kreatif. Dalam semangat Hari Perempuan Internasional, pesan itu menjadi semakin relevan. Fashion, dalam konteks ini, tampil sebagai ruang untuk merayakan ketangguhan dan harapan baru.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!