Anime Diuji sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 04:57 WIB 3
Anime Diuji sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini identik sebagai hiburan populer kini diuji untuk peran yang lebih serius di Jepang, yakni membantu kesehatan mental. Gagasan ini datang dari psikiater asal Italia, Francesco Panto, yang meneliti potensi karakter anime sebagai jembatan terapi bagi orang muda yang mengalami stres, burnout, hingga depresi.

Dalam riset di Yokohama City University, Francesco dan timnya mengembangkan konseling berbasis karakter untuk membuat pasien merasa lebih aman dan terbuka saat berbicara soal kondisi psikologis. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya Jepang mencari cara baru menghadapi stigma dan tantangan kesehatan mental yang masih kuat di masyarakat.

Anime dan kesehatan mental

Francesco Panto mengaku kedekatannya dengan anime berawal dari masa remaja di pedesaan Sisilia, Italia. Saat itu, anime dan manga menjadi tempat berlindung ketika ia kesulitan menemukan jati diri di lingkungan yang kaku soal gender.

Ia menyebut karya seperti manga dan anime memberi dukungan emosional yang penting dalam hidupnya. Pengalaman itu kemudian membentuk minatnya pada hubungan antara karakter fiksi dan kondisi psikologis manusia.

Ketertarikannya semakin kuat ketika ia mengenal game Final Fantasy pada usia sekitar 12 atau 13 tahun. Menurut dia, karakter protagonis pria di dalamnya terasa dekat, maskulin, dan keren dengan caranya sendiri.

Konseling berbasis karakter

Berangkat dari pengalaman tersebut, Francesco meneliti terapi eksperimental yang disebut character-based counselling. Studi percontohan selama enam bulan itu selesai pada Maret 2026 di Yokohama City University.

Dalam proyek itu, tim peneliti merekrut 20 responden berusia 18 hingga 29 tahun yang mengalami gejala depresi. Mereka kemudian menjalani konseling online dari psikolog yang tampil sebagai avatar anime dengan suara digital yang dimodifikasi.

Francesco menilai sentuhan fantasi melalui karakter anime dapat membuat peserta merasa lebih nyaman saat membahas persoalan mental. Dengan cara itu, pasien diharapkan lebih mudah mengenali gejala yang mereka alami tanpa merasa tertekan.

Karakter untuk terapi

Tim peneliti menciptakan enam karakter khusus dengan latar dan kepribadian yang berbeda. Sosok-sosok itu terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang agar terasa akrab bagi peserta.

Karakter yang dibuat mencakup figur keibuan yang tenang namun membawa senjata, hingga pria bak pangeran berjubah yang sangat peka secara emosional. Peserta diberi kebebasan memilih karakter yang paling mereka anggap cocok dengan diri mereka.

Francesco menjelaskan bahwa setiap karakter dirancang memiliki perjuangan mental tertentu. Salah satunya, Kuroto Nagi, digambarkan memiliki ciri bipolar, sementara karakter lain menghadapi kecemasan, PTSD, dan masalah alkohol.

Tantangan kesehatan mental di Jepang

Meski mengangkat isu serius, karakter-karakter itu tetap dibuat menyenangkan dan menarik agar tidak terasa mengintimidasi. Pada awal sesi, psikolog memperkenalkan kisah masing-masing karakter, tetapi masalah mental tidak diungkap terlalu gamblang.

Penelitian ini juga memantau detak jantung dan pola tidur peserta untuk menilai apakah terapi ala anime layak diterapkan. Hasil pengamatan tersebut akan digunakan untuk melihat kemungkinan penurunan gejala depresi secara lebih objektif.

Asisten profesor Mio Ishii yang ikut memimpin proyek ini menilai banyak anak muda di Jepang kesulitan pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan. Ia menegaskan tujuan penelitian adalah memberi mereka pilihan baru untuk pulih dari kesulitan yang dialami, di tengah masih kuatnya stigma terhadap layanan konseling psikologis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!