Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 30 Mei 2026 06:33 WIB 2
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun Sepanjang 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun dengan margin laba bersih 12,1 persen, di tengah tekanan makroekonomi dan dinamika industri telekomunikasi.

Di saat yang sama, normalized net income Telkom tercatat Rp22,7 triliun dengan normalized net income margin 15,4 persen. Kinerja tersebut ditopang EBITDA konsolidasi Rp72,2 triliun, EBITDA margin 49,2 persen, serta respons positif pasar terhadap agenda transformasi perusahaan.

Transformasi Telkom Makin Kuat

Sepanjang 2025, Telkom mencatat total shareholder return sebesar 35,7 persen. Capaian itu terdiri atas capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyebut eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama sejak 2025. Melalui strategi TLKM 30, perseroan menata arah bisnis secara lebih terstruktur untuk memperkuat posisi sebagai penggerak ekosistem digital nasional.

Transformasi tersebut juga diarahkan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. Telkom menilai langkah ini penting agar perusahaan tetap kompetitif di tengah perubahan lanskap industri yang cepat.

Sejalan dengan itu, perseroan menerapkan kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham melalui payout ratio 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024. Telkom juga menjalankan program share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun yang masih berlangsung hingga Mei 2026.

Penyegaran Portofolio Bisnis

Dalam pilar streamlining, Telkom menata portofolio non-core business agar struktur usaha menjadi lebih efisien. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat daya saing pada bisnis inti telekomunikasi dan digital.

Implementasi strategi tersebut terlihat dari proses divestasi AdMedika dan anak usahanya, TelkoMedika. Transaksi itu telah mencapai tahap Conditional Sale and Purchase Agreement menuju divestasi penuh pada akhir paruh pertama 2026.

Telkom menilai divestasi ini dapat memperbaiki kontribusi portofolio dan mendukung optimalisasi arus dividen. Dengan portofolio yang lebih ramping, perseroan berharap dapat fokus pada bisnis dengan potensi pertumbuhan lebih besar.

Perseroan juga menegaskan perubahan ini sejalan dengan upaya membangun tata kelola yang lebih disiplin. Fokus tersebut diharapkan membuat pengelolaan modal lebih efektif dan terukur.

Penguatan Infrastruktur Digital

Pada pilar unlock value, Telkom memperkuat fondasi bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Inisiatif ini diarahkan untuk meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan imbal hasil atas aset.

Pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia ditandai dengan penandatanganan Conditional Spin-off Agreement pada Desember 2025. Tahap awal carve-out ini menjadi bagian dari pergeseran menuju strategic holding.

Dalam kerangka tersebut, Telkom ingin lebih fokus pada penciptaan nilai dan pengelolaan portofolio bisnis. Perseroan juga menargetkan percepatan eksekusi strategi agar kontribusi terhadap konektivitas nasional semakin besar.

Di sisi lain, TelkomGroup memiliki backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer, menara telekomunikasi, data center, cloud, dan konektivitas satelit. Aset yang luas itu menjadi modal penting untuk memperluas layanan digital di seluruh Indonesia.

Kinerja Segmen Usaha Telkom

Segmen B2C yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband masih menjadi penopang utama pendapatan. Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun sepanjang tahun buku 2025.

Kenaikan trafik data sebesar 15 persen year on year menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital yang terus tumbuh. Average Revenue Per User juga mulai pulih sejak paruh kedua 2025 seiring kompetisi industri yang lebih sehat.

Untuk 2026, Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan peningkatan kualitas jaringan. Perseroan juga menyiapkan ekspansi layanan internet rumah secara lebih selektif agar pertumbuhan tetap sehat.

Pada segmen B2B Infrastructure, pendapatan mencapai Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Sementara itu, segmen Wholesale & International Service mencatat pendapatan Rp10,7 triliun, dan segmen B2B ICT membukukan Rp15,3 triliun.

Selain itu, Mitratel membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan net income margin 22,2 persen dan EBITDA margin 82,2 persen. Telkom juga mencatat belanja modal Rp27,5 triliun pada 2025, dengan 93 persen dialokasikan untuk perluasan infrastruktur dan penguatan platform digital.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!