OJK Sebut IHSG Terkoreksi, Investasi Tetap Jangka Panjang

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 08:03 WIB 2
OJK Sebut IHSG Terkoreksi, Investasi Tetap Jangka Panjang

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, mengakui Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG saat ini sedang terkoreksi. Kondisi tersebut, menurut dia, dipengaruhi dinamika global yang menekan sentimen pasar. Meski begitu, OJK menegaskan prospek investasi di Indonesia tetap kuat untuk jangka panjang. Penegasan itu disampaikan dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

Friderica menyebut koreksi IHSG tidak dapat dilepaskan dari reformasi integritas yang tengah dijalankan di pasar modal. Di saat yang sama, tekanan eksternal membuat pelaku pasar bersikap lebih hati-hati. Namun, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik. Karena itu, investasi di pasar modal domestik tetap layak dipandang sebagai pilihan jangka panjang.

Prospek investasi pasar modal

Friderica menekankan bahwa investasi di Indonesia perlu dilihat dengan horizon waktu yang lebih panjang. Menurut dia, pergerakan indeks yang terkoreksi tidak otomatis mengubah arah fundamental ekonomi nasional. Pasar modal tetap memiliki peran penting dalam menopang pendanaan pembangunan. Sikap investor, kata dia, sebaiknya didasarkan pada prospek ekonomi yang lebih luas.

Ia menilai, perhatian utama saat ini adalah memastikan ketahanan sektor jasa keuangan tetap terjaga. OJK terus menjalankan reformasi agar pasar modal lebih kuat, transparan, dan berintegritas. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan investor. Dengan fondasi yang sehat, pasar modal dinilai akan lebih siap menghadapi tekanan eksternal.

Friderica juga menyoroti bahwa tantangan global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar. Gejolak ekonomi dunia kerap berdampak pada arah pergerakan aset keuangan di dalam negeri. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghapus peluang pertumbuhan investasi. Indonesia, menurut dia, masih memiliki daya tarik yang didukung oleh struktur ekonomi yang relatif solid.

Dalam pandangannya, reformasi yang sedang dilakukan menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas pasar modal. OJK ingin memastikan seluruh proses berjalan lebih tertib dan akuntabel. Hal ini dinilai penting agar investor memperoleh kepastian yang lebih besar. Pada akhirnya, stabilitas pasar akan memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi yang kompetitif.

Penguatan pembiayaan UMKM

Selain pasar modal, OJK juga memberi perhatian besar pada penguatan ekosistem pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah. Friderica menyebut UMKM sebagai salah satu fokus utama kebijakan OJK. Untuk mendukung agenda tersebut, OJK telah membentuk departemen khusus pengembangan UMKM. Langkah ini diharapkan memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil.

Menurut dia, penguatan UMKM penting karena sektor ini menyerap banyak tenaga kerja dan menopang ekonomi daerah. Akses pendanaan yang lebih baik akan membantu pelaku usaha naik kelas. Di sisi lain, sektor jasa keuangan juga memperoleh ruang pertumbuhan baru. Karena itu, kebijakan pembiayaan UMKM dipandang memiliki dampak yang luas.

Friderica menambahkan, pemerintah memiliki sejumlah program strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. OJK, dalam kapasitasnya sebagai pengawas sektor jasa keuangan, berkomitmen meningkatkan daya tahan industri keuangan. Sinergi antarlembaga disebut menjadi kunci agar program berjalan efektif. Dengan koordinasi yang kuat, pembiayaan untuk sektor produktif bisa semakin optimal.

Ia menilai perlu ada kebijakan yang mampu menjangkau kebutuhan usaha di berbagai daerah. Pengembangan UMKM tidak hanya bertumpu pada kredit perbankan, tetapi juga pada inovasi pembiayaan lain. OJK mendorong agar ekosistem pendanaan menjadi lebih inklusif. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih merata.

Pendalaman pasar keuangan

Friderica menegaskan pentingnya pendalaman pasar keuangan sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Menurut dia, Indonesia membutuhkan instrumen yang lebih beragam untuk mendukung kebutuhan pendanaan jangka menengah dan panjang. Salah satu opsi yang tengah didorong adalah pengembangan obligasi daerah. Instrumen ini dinilai dapat membantu wilayah memperoleh sumber pembiayaan yang lebih mandiri.

Obligasi daerah dianggap relevan untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan layanan publik. Dengan instrumen tersebut, daerah memiliki alternatif selain bergantung pada transfer pusat. Pasar keuangan yang lebih dalam juga dapat meningkatkan efisiensi pembiayaan. Di sisi investor, kehadiran instrumen baru membuka pilihan investasi yang lebih luas.

Menurut Friderica, pendalaman pasar keuangan tidak bisa dilepaskan dari kualitas regulasi dan kepercayaan publik. Karena itu, OJK terus memperkuat pengawasan agar pasar tetap terjaga. Instrumen pembiayaan yang berkembang harus diikuti dengan tata kelola yang baik. Tanpa itu, manfaatnya tidak akan maksimal bagi perekonomian.

Ia menilai kebutuhan pembiayaan pembangunan akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, pasar keuangan perlu disiapkan agar mampu menjawab kebutuhan tersebut. Pemerataan akses pembiayaan menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional. Dalam kerangka itu, obligasi daerah dipandang sebagai salah satu instrumen yang patut dikembangkan lebih lanjut.

Keuangan digital dan ekonomi hijau

Friderica juga menyoroti pentingnya ekonomi hijau dan keuangan digital yang aman serta berintegritas. Menurut dia, pengembangan ekonomi modern sulit berjalan optimal tanpa dukungan sistem keuangan digital. Transformasi digital dinilai mempercepat akses layanan keuangan bagi masyarakat. Namun, keamanan dan integritas tetap harus menjadi syarat utama.

Ia menegaskan bahwa sektor keuangan harus mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi. Inovasi digital memberi kemudahan transaksi sekaligus membuka peluang efisiensi. Di sisi lain, risiko penyalahgunaan dan kejahatan siber juga perlu diantisipasi. Karena itu, pengawasan dan perlindungan konsumen harus berjalan seiring dengan inovasi.

Dalam agenda pembangunan, ekonomi hijau juga mendapat perhatian yang semakin besar. Friderica menyebut arah kebijakan ke depan perlu mendukung pembiayaan yang berkelanjutan. Instrumen keuangan dapat diarahkan untuk mendorong aktivitas ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Langkah ini dinilai penting agar pertumbuhan tidak mengabaikan aspek keberlanjutan.

OJK berharap reformasi pasar modal, penguatan UMKM, pendalaman pasar keuangan, dan transformasi digital dapat saling mendukung. Dengan kombinasi tersebut, ketahanan sektor jasa keuangan diharapkan semakin kuat. Friderica menilai fondasi ekonomi Indonesia masih cukup baik untuk menopang optimisme tersebut. Karena itu, prospek investasi jangka panjang tetap dipandang menarik di tengah koreksi IHSG.

Tag Terkait
#IHSG#OJK#investasi

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!