Kebutuhan energi Base Transceiver Station atau BTS di Indonesia tidak bisa disamaratakan antarwilayah, karena setiap daerah memiliki karakteristik jaringan, kontur, dan target layanan yang berbeda. Peneliti Ahli Muda BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, memaparkan hal itu dalam webinar bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurut Dr Mardi, tipe BTS yang dipasang di Pulau Jawa bisa berbeda dengan daerah lain, tergantung pada kebutuhan cakupan dan kondisi wilayah. Ia menegaskan, penyesuaian tersebut penting agar konsumsi energi jaringan tetap efisien sekaligus sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kebutuhan Energi BTS
Dr Mardi menjelaskan bahwa konsumsi energi BTS tergolong tinggi karena perangkat ini harus menjaga layanan seluler tetap aktif di banyak titik. Beban operasional jaringan pun menjadi besar, terutama pada operator dengan jangkauan luas dan trafik padat.
Ia mencontohkan kebutuhan energi operasional Telkomsel pada 2023 yang disebut hampir mencapai 90 persen dari total konsumsi tahunan. Angka itu menunjukkan bahwa infrastruktur jaringan menjadi salah satu komponen paling besar dalam penggunaan listrik operator.
Tren ini diperkirakan masih berlanjut karena implementasi jaringan seluler di Indonesia terus berkembang. Meski 5G mulai diperkenalkan, penerapannya masih terbatas, sehingga 4G masih menjadi tulang punggung layanan utama.
Dalam kondisi tersebut, operator perlu menghitung kebutuhan energi secara cermat agar investasi jaringan tidak membengkak. Penyesuaian teknologi, kapasitas, dan lokasi BTS menjadi faktor penting untuk menjaga efisiensi operasional.
Penyesuaian BTS Wilayah
Menurut Dr Mardi, operator harus menyesuaikan jenis BTS dengan target pasar dan karakter wilayah yang dilayani. Perencanaan yang tepat akan membantu jaringan bekerja optimal tanpa memboroskan energi.
Ia menekankan bahwa kontur daerah juga memengaruhi kebutuhan infrastruktur telekomunikasi. Wilayah dengan medan sulit biasanya memerlukan pendekatan berbeda dibanding kawasan datar dan padat penduduk.
Jika penyesuaian tidak dilakukan, konsumsi energi bisa menjadi sangat tinggi dan tidak efisien. Hal ini terutama terjadi ketika desain jaringan tidak selaras dengan kebutuhan cakupan di lapangan.
Karena itu, setiap operator perlu memahami kondisi geografis sebelum menentukan jenis BTS yang akan dipasang. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas layanan sekaligus menekan biaya operasional.
Data Penelitian BRIN
Dalam penelitiannya, Dr Mardi mengolah data dari salah satu operator telekomunikasi di Indonesia. Data tersebut mencakup sekitar 8.500 BTS sites yang tersebar di 20 kabupaten dan kota di tiga provinsi, yakni Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Setiap point site sampel memiliki informasi jenis site yang beragam. Kategorinya meliputi Pico, Mikro, Indoor Base Station atau IBS, Makro, dan Makro Hub.
Dari data yang dianalisis, hampir 78 persen site diketahui merupakan BTS makro. Komposisi ini menunjukkan dominasi infrastruktur berkapasitas besar dalam jaringan yang diteliti.
Menurutnya, proporsi site yang berbeda akan menghasilkan kebutuhan energi yang juga berbeda. Karena itu, analisis teknis harus disesuaikan dengan karakter jaringan yang nyata di lapangan.
Faktor Sosial Ekonomi
Dr Mardi menilai kebutuhan BTS juga dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah tertentu. Profil pengguna jaringan di Jawa, Kalimantan, dan Papua, menurutnya, tidak dapat disamakan begitu saja.
Ia menyebut pemodelan energi akan meleset jika faktor sosial ekonomi diabaikan. Akibatnya, hasil analisis tidak akan benar-benar menggambarkan kondisi Indonesia secara utuh.
Dalam validasi penelitiannya, ia memakai tiga variabel utama, yakni population density, development index, dan digital society index. Ketiga faktor itu digunakan untuk memperkuat ketepatan model kebutuhan energi jaringan.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perencanaan BTS perlu mempertimbangkan aspek teknis dan nonteknis sekaligus. Dengan begitu, operator dapat menyusun jaringan yang lebih efisien, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan daerah.
