Real Food Dinilai Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Lifestyle Nadia Safira Putri 30 Mei 2026 08:07 WIB 2
Real Food Dinilai Lebih Sehat daripada Makanan Olahan

Sarden kalengan kembali menjadi sorotan karena sebagian orang menilainya bukan ultra processed food atau UPF. Namun, praktisi kesehatan menegaskan bahwa real food tetap menjadi pilihan paling sehat untuk konsumsi harian.

Menurut dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, makanan olahan memiliki proses pembuatan yang tidak selalu diketahui secara utuh oleh konsumen. Dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026, ia menilai risiko pada makanan olahan tetap perlu diwaspadai.

Real food dan kesehatan

dr Aru menyebut real food sebagai pilihan terbaik karena proses pengolahannya lebih sederhana dan mudah dikenali. Ia menilai semakin sedikit campuran bahan tambahan, semakin jelas pula kualitas makanan yang dikonsumsi.

Ia menegaskan bahwa makanan olahan biasanya menggunakan campuran bahan yang tidak selalu bisa dikontrol keamanannya secara sempurna. Meski ada regulasi, peluang penyimpangan tetap dapat terjadi dan berpotensi memengaruhi kesehatan.

Menurutnya, konsumsi makanan yang lebih alami membantu tubuh menerima asupan yang lebih sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Karena itu, real food kerap dipandang lebih aman dibanding produk yang sudah melewati proses panjang.

Pandangan tersebut sejalan dengan prinsip pencegahan, yakni meminimalkan paparan terhadap bahan yang tidak diperlukan tubuh. Dalam konteks ini, memilih makanan yang lebih sederhana menjadi langkah dasar untuk menjaga kesehatan.

Risiko makanan olahan

dr Aru menilai makanan olahan tidak bisa dipisahkan dari risiko kesehatan bila dikonsumsi terlalu sering. Ia menyebut masyarakat kini semakin akrab dengan produk praktis yang belum tentu sejalan dengan kebutuhan tubuh.

Ia juga menyoroti peningkatan penyakit metabolik yang terjadi pada usia muda. Menurutnya, fenomena itu menunjukkan bahwa pola makan modern perlu dievaluasi lebih serius.

Dalam penjelasannya, ia menyebut kasus hipertensi dan diabetes pada kelompok usia muda semakin banyak ditemukan. Kondisi ini menjadi peringatan bahwa pilihan makanan sehari-hari memiliki dampak jangka panjang.

Ia menambahkan, proses produksi makanan olahan sering kali melibatkan bahan tambahan yang tidak selalu dapat dipantau konsumen. Karena itu, kewaspadaan terhadap kandungan produk menjadi hal yang penting sebelum membeli atau mengonsumsi makanan tersebut.

Penyakit usia muda meningkat

dr Aru menyampaikan bahwa sekarang ini orang berusia 30 tahun saja sudah banyak yang mengalami masalah metabolik. Ia menyebut hipertensi dan diabetes sebagai contoh penyakit yang kini lebih sering muncul pada usia muda.

Menurutnya, peningkatan kasus tersebut tidak bisa dilepaskan dari perubahan gaya hidup dan pola makan masyarakat. Konsumsi makanan praktis yang tinggi proses diduga ikut memperburuk kondisi kesehatan.

Ia menegaskan bahwa angka kesakitan pada anak muda saat ini cenderung lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Situasi ini menunjukkan perlunya perhatian lebih besar terhadap kebiasaan makan sejak dini.

Dalam pandangannya, pencegahan harus dimulai dari pilihan makanan yang lebih baik. Real food dinilai menjadi salah satu langkah sederhana untuk membantu menekan risiko gangguan metabolik.

Tantangan pilih real food

Meski dinilai paling sehat, dr Aru mengakui tidak semua orang mudah mengandalkan real food setiap hari. Kesibukan membuat banyak orang tidak sempat berbelanja dan memasak sendiri.

Akibatnya, makanan olahan sering menjadi pilihan praktis karena lebih cepat disajikan. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat cenderung memilih kecepatan daripada proses menyiapkan makanan segar.

Ia memahami bahwa kebutuhan hidup modern kerap memaksa orang bergantung pada produk siap saji. Namun, ia mengingatkan agar pilihan praktis tidak mengabaikan aspek kesehatan.

Karena itu, masyarakat disarankan tetap menyeimbangkan antara kepraktisan dan kualitas asupan. Jika real food sulit dipenuhi setiap saat, memilih makanan olahan yang lebih aman dan lebih sedikit bahan tambahan bisa menjadi alternatif yang lebih bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!