Curhatan pemilik brand hijab lokal Dyalodya viral di media sosial setelah ia menunjukkan tumpukan paket retur dalam jumlah besar. Dalam video di akun Instagram @dyalodya, pelaku usaha itu mengaku mengalami kerugian operasional dan materi akibat paket berlabel Cash on Delivery atau COD yang gagal sampai ke pelanggan.
Konten tersebut memantik perhatian warganet karena memperlihatkan paket-paket yang dikembalikan kurir dalam kondisi mengecewakan. Pemilik usaha menilai ada penyalahgunaan sistem COD oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, termasuk dugaan penipuan yang merugikan pelaku UMKM.
Viral COD Rugi Pelaku Usaha
Video curhatan itu memperlihatkan gunungan paket retur yang disebut menumpuk selama sepekan. Sebagian besar paket tersebut berstatus COD dan kembali ke penjual tanpa berhasil diterima pembeli.
Dalam keterangan videonya, pemilik Dyalodya menyampaikan rasa kecewa karena paket yang sudah dikirim justru ditolak. Ia menyebut kondisi itu membuat usaha kecil seperti miliknya harus menanggung kerugian berulang.
Keluhan tersebut cepat menyebar di media sosial dan mengundang banyak respons. Sejumlah pengguna internet mengaku pernah mengalami hal serupa saat berjualan secara daring.
Bagi pelaku usaha, retur dalam jumlah besar bukan hanya menambah biaya kirim, tetapi juga mengganggu arus barang. Situasi ini ikut menekan operasional, terutama bagi UMKM yang bergantung pada perputaran penjualan harian.
Modus Paket Retur Mencurigakan
Zahra, pemilik brand Dyalodya, menyebut ada paket yang dikembalikan dalam kondisi terbuka. Ia bahkan menemukan isi paket yang diduga sudah ditukar dengan barang lain yang tidak sesuai pesanan.
Dalam unggahan videonya, ia menunjukkan contoh barang yang dinilai janggal, termasuk celana kolor bekas. Temuan itu membuatnya curiga bahwa ada unsur penipuan yang sengaja dilakukan oleh pihak tertentu.
Zahra menilai pola semacam ini tidak terjadi sekali dua kali. Menurutnya, paket yang sudah dikirim dengan benar justru dipermainkan oleh oknum yang memanfaatkan celah sistem pengiriman.
Ia juga mengingatkan bahwa kerugian tidak hanya muncul dari barang yang kembali. Reputasi toko pun dapat ikut terdampak jika pelanggan menerima paket yang tidak pernah mereka pesan.
Alasan Dyalodya Soroti Kurir
Dalam penjelasannya, Zahra menduga ada keterlibatan pihak ketiga dalam skema tersebut. Ia menilai persoalan ini tidak lepas dari rantai distribusi yang panjang, mulai dari pengambilan paket hingga proses pengantaran ke pelanggan.
Ia menyebut ada indikasi permainan dari oknum kurir, berdasarkan temuan di lapangan yang ia rasakan sendiri. Karena itu, ia meminta pelanggan lebih waspada sebelum menerima paket yang mengatasnamakan Dyalodya.
Zahra menegaskan bahwa konsumen yang tidak pernah memesan produk sebaiknya tidak langsung menerima paket COD. Menurutnya, alamat penerima bisa saja dipakai oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melancarkan aksi penipuan.
Peringatan itu ia sampaikan agar tidak ada orang lain yang menjadi korban atas modus serupa. Ia berharap konsumen lebih teliti memeriksa pengirim, nama toko, dan kesesuaian pesanan sebelum membayar.
Respons Warganet dan Daya Jual
Unggahan tersebut telah ditonton lebih dari 54,4 ribu kali dan memicu banyak komentar. Sejumlah warganet menyampaikan empati sekaligus kemarahan atas praktik yang merugikan penjual kecil.
Ada pula pengguna yang menduga data pelanggan bisa bocor dari berbagai titik. Mereka menyoroti kemungkinan penyalahgunaan informasi pribadi, baik dari proses pengiriman maupun dari pihak internal.
Reaksi lain datang dari warganet yang menyarankan agar penjual menonaktifkan layanan COD. Mereka menilai metode pembayaran itu memang memudahkan transaksi, tetapi juga rentan disalahgunakan.
Bagi Dyalodya, kasus ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap UMKM masih perlu diperkuat. Di tengah pertumbuhan belanja daring, edukasi soal keamanan transaksi dinilai penting agar penjual dan pembeli sama-sama terlindungi.
