Stres Dapat Memicu Kembung, Ini Penjelasannya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 30 Mei 2026 20:46 WIB 2
Stres Dapat Memicu Kembung, Ini Penjelasannya

Stres dan emosi yang memuncak dapat memicu reaksi fisik pada tubuh, termasuk perut terasa kembung dan begah. Kondisi ini kerap muncul meski pola makan tidak berubah, karena sistem pencernaan ikut terdampak oleh respons saraf dan hormon stres.

Para ahli menjelaskan, usus memiliki hubungan erat dengan kondisi emosional seseorang. Saat tubuh berada dalam tekanan, proses pencernaan dapat melambat sehingga makanan bertahan lebih lama di saluran cerna dan gas lebih mudah terperangkap.

Stres dan Kembung

Sistem saraf enterik berperan penting dalam mengatur kerja saluran pencernaan. Bagian dari sistem saraf otonom ini menjadi penghubung antara kondisi saraf dan fungsi cerna.

Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menyebut usus sebagai otak kedua manusia. Ia menegaskan bahwa sistem pencernaan sangat dipengaruhi oleh sistem saraf, sehingga kondisi emosional dapat tercermin pada perut.

Ketika stres meningkat, tubuh merespons melalui pelepasan hormon seperti kortisol, adrenalin, dan noradrenalin. Respons ini pada dasarnya mempersiapkan tubuh untuk menghadapi ancaman, bukan untuk mencerna makanan secara optimal.

Akibatnya, sistem pencernaan sementara melambat karena tubuh mengalihkan energi ke otot dan organ yang dibutuhkan untuk bertahan. Aliran darah ke pencernaan berkurang, kontraksi otot menurun, dan produksi sekresi pencernaan ikut melemah.

Respons Tubuh Saat Tertekan

Melissa Groves Azzaro, praktisi kesehatan wanita, menjelaskan bahwa manusia umumnya berada dalam dua mode sistem saraf. Mode pertama adalah fight-or-flight, sedangkan mode kedua adalah rest-and-digest.

Saat seseorang menghadapi tekanan, tubuh dapat masuk ke mode fight-or-flight meski ancamannya hanya berupa beban kerja atau tenggat waktu. Dalam kondisi ini, tubuh menganggap ada bahaya yang harus dihadapi secepat mungkin.

Perubahan tersebut membuat proses pencernaan tidak berjalan seperti biasa. Makanan menjadi lebih sulit dipecah, lalu bertahan lebih lama di perut sebelum bergerak ke saluran berikutnya.

Ketika makanan terlalu lama berada di saluran cerna, gas lebih mudah terbentuk dan terperangkap. Kondisi itulah yang sering memunculkan sensasi kembung dan begah pada banyak orang.

Gejala yang Bisa Muncul

Reaksi tubuh terhadap stres tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian orang hanya merasa perut penuh, sementara yang lain mengalami keluhan yang lebih mengganggu.

Ditkoff menyebut ada orang yang merasakan kram perut, dan ada pula yang mengalami diare. Pada sebagian kasus, stres juga dapat memperburuk gangguan pencernaan kronis yang sebelumnya sudah ada.

Keluhan ini sering muncul berulang saat tekanan emosional meningkat. Bahkan dalam situasi tertentu, tubuh dapat benar-benar berada dalam mode fight-or-flight, seperti ketika seseorang berlari atau menghadapi tekanan fisik.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut sangat umum terjadi. Ada orang yang justru makan berlebihan saat stres, sementara yang lain merasa mual dan kondisi tubuhnya memburuk.

Cara Mengurangi Kembung

Untuk mengurangi kembung akibat stres, tubuh perlu diarahkan kembali ke mode rest-and-digest. Pada fase ini, hormon stres tidak melonjak dan aliran darah kembali mendukung kerja organ pencernaan.

Ditkoff menyarankan agar seseorang makan dalam kondisi yang tenang. Kebiasaan ini membantu tubuh mencerna makanan dengan lebih baik dan mencegah gangguan pencernaan yang dipicu tekanan emosional.

Meski begitu, melewatkan makan saat stres juga tidak disarankan. Tubuh tetap membutuhkan asupan yang cukup agar tidak semakin lemah dan rentan mengalami gangguan lambung atau pencernaan.

Menjaga ritme makan, memperlambat tempo saat menyantap makanan, dan memberi jeda untuk menenangkan diri dapat membantu. Bila keluhan kembung sering muncul atau disertai gangguan lain, pemeriksaan ke tenaga medis tetap diperlukan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!