Indonesia Dorong Spaceport Biak untuk Kemandirian Antariksa

Teknologi Moh. Royhan Nahado 31 Mei 2026 15:01 WIB 2
Indonesia Dorong Spaceport Biak untuk Kemandirian Antariksa

Indonesia dinilai perlu segera membangun ekosistem industri antariksa yang utuh agar tidak terus bergantung pada teknologi luar negeri. Dorongan itu mengemuka seiring peresmian pengoperasian satelit Nusantara Lima di Jakarta, saat sejumlah pihak menegaskan pentingnya akses mandiri ke luar angkasa. Keberadaan bandar antariksa nasional disebut menjadi kunci untuk memperkuat kedaulatan teknologi, kapasitas peluncuran, dan rantai industri satelit dalam negeri.

Adi menuturkan, selama lebih dari 50 tahun Indonesia berkecimpung di dunia satelit, kemampuan nasional masih terbatas pada pengoperasian satelit dan peluncuran sejumlah satelit riset. Ia menilai Indonesia tidak boleh berhenti sebagai pengguna teknologi, melainkan harus menjadi pemain utama dalam ekonomi antariksa. Menurut dia, posisi geografis Indonesia di garis khatulistiwa memberi keuntungan strategis untuk peluncuran satelit orbit ekuatorial maupun geostasioner.

Ekosistem Antariksa Nasional

Adi menilai kemandirian antariksa tidak cukup hanya ditopang oleh satu fasilitas peluncuran. Indonesia membutuhkan ekosistem yang mencakup kebijakan, riset, industri, dan sumber daya manusia yang saling terhubung. Tanpa itu, pembangunan spaceport berisiko hanya menjadi proyek infrastruktur tanpa dampak ekonomi yang luas.

Ia menyebut satelit memiliki peran strategis sebagai benang digital yang menyatukan wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Fungsi itu juga penting bagi daerah terluar seperti Miangas dan Pulau Rote yang masih bergantung pada konektivitas satelit. Karena itu, akses luar angkasa dipandang sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar agenda teknologi.

Menurut Adi, Indonesia harus membangun kemampuan mandiri berkelanjutan atau sovereign capability di sektor antariksa. Kemampuan tersebut mencakup kebijakan yang kuat, dukungan politik, serta pengembangan talenta muda di bidang teknologi antariksa. Ia menilai tanpa fondasi itu, Indonesia akan sulit naik kelas dari pengguna menjadi pengendali teknologi.

Adi juga menegaskan bahwa pembangunan industri antariksa tidak mungkin dilakukan oleh swasta seorang diri. Kolaborasi nasional diperlukan, melibatkan pemerintah, lembaga riset, sektor swasta, hingga mitra internasional. Dengan kerja bersama, Indonesia dinilai memiliki peluang lebih besar untuk membentuk ekosistem antariksa yang kompetitif.

Biak untuk Antariksa

Pulau Biak disebut sebagai lokasi strategis untuk membangun bandar antariksa Indonesia. Letaknya yang berada di dekat garis khatulistiwa memberi keuntungan teknis bagi peluncuran satelit. Kondisi itu membuat Biak dinilai ideal untuk mendukung misi orbit ekuatorial dan geostasioner.

Adi menyebut Biak berpotensi memberikan efisiensi yang signifikan dibandingkan lokasi peluncuran lain di dunia. Menurut dia, lokasi tersebut dapat menghemat bahan bakar hingga 15 persen dan menambah kapasitas muatan sampai 25 persen dibandingkan Cape Canaveral. Keunggulan itu membuat Biak dipandang sebagai salah satu lokasi paling menjanjikan di kawasan ekuator.

Posisi geografis Biak juga dianggap cocok untuk menjadi tempat parkir strategis bagi satelit geostasioner. Dalam industri antariksa, faktor lokasi sangat menentukan biaya operasional dan efektivitas peluncuran. Karena itu, keunggulan alam Indonesia harus diubah menjadi keunggulan ekonomi dan industri.

Rencana pembangunan spaceport di Pulau Biak disebut terus dipersiapkan pemerintah bersama BRIN dan sejumlah negara mitra. Rusia, India, dan Turki termasuk di antara pihak yang disebut terlibat dalam penjajakan kerja sama. Langkah tersebut menunjukkan bahwa Indonesia ingin membangun fasilitas peluncuran yang memiliki nilai regional, bukan hanya nasional.

Kolaborasi Antariksa

PSN menyatakan dukungan terhadap rencana pembangunan spaceport nasional yang sedang dipersiapkan pemerintah. Dukungan itu sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk memiliki akses ke luar angkasa yang lebih mandiri. Dalam pandangan perusahaan, penguasaan infrastruktur peluncuran akan memperkuat posisi Indonesia di pasar satelit regional.

Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi syarat utama agar proyek antariksa nasional berjalan berkelanjutan. Pemerintah berperan pada regulasi dan kebijakan, sementara BRIN memperkuat riset dan pengembangan teknologi. Di sisi lain, swasta dibutuhkan untuk mempercepat investasi, manufaktur, dan pemanfaatan komersial.

Arif Satria mengakui tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah belum terbentuknya ekosistem industri satelit nasional yang kuat. Ia menilai minimnya investasi swasta dan kolaborasi industri membuat Indonesia belum memiliki manufaktur satelit yang utuh. Padahal, kebutuhan domestik sangat besar sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Di bidang regulasi, pemerintah telah menyiapkan sejumlah landasan kebijakan penting. Di antaranya Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2023 tentang Akuisisi Teknologi Antariksa, rancangan aturan pengelolaan spaceport, serta KBLI 2025 yang memasukkan manufaktur satelit dan peluncuran sebagai sektor usaha resmi. Landasan ini dipandang penting untuk memberi kepastian bagi investor dan pelaku industri.

Visi Antariksa 2045

Rencana penguatan sektor antariksa juga dikaitkan dengan visi Indonesia 2045. Arif menilai ekonomi antariksa nasional dapat menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi sekaligus memperkuat kedaulatan teknologi. Ia menyebut arah itu penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna layanan antariksa, tetapi juga penyedia nilai tambah.

Menurut Arif, pilihan Indonesia dalam lima tahun ke depan akan sangat menentukan posisinya di ekonomi antariksa global. Negara ini dapat tetap menjadi peserta pasif, atau mulai ikut mendefinisikan arah industri antariksa regional. Karena itu, keputusan hari ini dinilai memiliki dampak jangka panjang bagi daya saing nasional.

Pembangunan spaceport di Biak dipandang sebagai salah satu pintu masuk untuk mempercepat transformasi tersebut. Infrastruktur peluncuran yang memadai akan membuka peluang bagi industri turunan, mulai dari manufaktur komponen hingga layanan data satelit. Jika dikelola konsisten, sektor ini berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ekonomi Indonesia.

Dengan dukungan kebijakan, investasi, dan talenta yang memadai, Indonesia memiliki peluang untuk membangun ekosistem antariksa yang lebih kuat. Posisi strategis di khatulistiwa, kebutuhan domestik yang besar, serta agenda pembangunan jangka panjang menjadi modal utama. Tantangannya kini adalah memastikan seluruh potensi itu tidak berhenti pada wacana, melainkan diwujudkan menjadi kapasitas nasional yang nyata.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!