Susu kental manis kembali menjadi sorotan di media sosial karena banyak orang mempertanyakan kandungan susunya. Produk yang kerap dipakai untuk kopi, roti bakar, martabak, dan dessert ini dianggap terlalu manis hingga memunculkan anggapan bahwa susunya sudah hilang. Padahal, di balik teksturnya yang kental dan rasa yang dominan manis, produk ini tetap memiliki unsur susu. Untuk memahami duduk perkaranya, perlu melihat proses pembuatan dan ketentuan resmi yang mengaturnya.
Tekstur kental susu kental manis terbentuk melalui proses penguapan air sehingga kadar padatannya menjadi lebih tinggi. Gula kemudian ditambahkan bukan hanya untuk rasa, tetapi juga untuk membantu daya simpan produk. Dalam regulasi pangan, susu kental manis tetap diklasifikasikan sebagai produk susu dengan syarat komposisi tertentu. Karena itu, anggapan bahwa produk ini sama sekali tidak mengandung susu tidak sepenuhnya benar.
Susu Kental Manis dan Kandungannya
Tekstur kental pada susu kental manis berasal dari proses evaporasi, yakni pengurangan kadar air melalui pemanasan. Proses ini membuat komponen susu menjadi lebih terkonsentrasi dan menghasilkan tekstur yang lebih padat. Setelah itu, gula ditambahkan untuk memberi cita rasa manis sekaligus membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Kombinasi tersebut membuat produk lebih awet selama penyimpanan.
Menurut Peraturan BPOM Nomor 34 Tahun 2019 tentang Kategori Pangan, susu kental manis termasuk produk susu dengan kadar lemak susu minimal 8 persen dan kadar protein minimal 6,5 persen. Ketentuan tersebut sejalan dengan standar internasional Codex Alimentarius untuk sweetened condensed milk. Artinya, produk ini tidak dapat dipisahkan dari komponen susu sebagai bahan dasarnya. Dengan demikian, susu kental manis tetap berada dalam kategori olahan susu.
Sejumlah produk di pasaran juga masih mencantumkan kandungan susu dalam komposisinya, termasuk susu skim bubuk, susu sapi segar, lemak susu, laktosa, dan buttermilk bubuk. Komposisi ini menunjukkan bahwa bahan susu masih digunakan dalam proses produksi. Karena itu, susu kental manis bukan sekadar gula berperisa susu. Persepsi di media sosial sering kali muncul karena rasa manisnya memang jauh lebih menonjol.
Rasa Manis Bukan Berarti Tanpa Susu
Kandungan gula yang tinggi membuat rasa manis pada produk ini terasa sangat dominan. Dominasi rasa tersebut sering menutupi karakter susu yang sebenarnya masih ada di dalam produk. Akibatnya, sebagian orang mengira kandungan susunya sudah hilang sepenuhnya. Padahal, yang terjadi adalah rasa gula lebih kuat dibanding rasa susu.
Protein susu, lemak susu, laktosa, dan beberapa mineral alami dari susu tetap ada dalam produk. Hanya saja, formulasi dengan gula tinggi membuat profil gizinya berbeda dari susu segar. Perbedaan ini penting dipahami agar konsumen tidak menyamakan keduanya. Susu kental manis lebih tepat dipandang sebagai produk olahan susu, bukan pengganti susu harian.
Perdebatan yang muncul di ruang digital sering dipicu oleh penyederhanaan informasi. Banyak orang hanya menilai dari rasanya, tanpa membaca komposisi maupun label gizi. Padahal, informasi pada kemasan sudah memberikan gambaran yang lebih akurat. Dari situ terlihat bahwa produk ini tetap mengandung susu, meski dalam bentuk yang telah diolah dan diberi tambahan gula.
Cara Tepat Mengonsumsi Susu Kental Manis
Penggunaan susu kental manis sebenarnya tidak masalah selama porsinya terkontrol. Produk ini masih kerap dipakai sebagai pelengkap rasa dalam berbagai hidangan tradisional Indonesia. Namun, konsumsi yang berlebihan dapat meningkatkan asupan gula harian. Karena itu, takaran saji perlu diperhatikan sejak awal.
Membaca label gizi menjadi langkah penting sebelum mengonsumsinya. Informasi tersebut membantu mengetahui jumlah gula dalam satu sajian serta kontribusinya terhadap kebutuhan harian. Jika digunakan sesuai takaran, satu sajian umumnya tidak langsung membuat asupan gula melampaui batas anjuran. Meski begitu, kehati-hatian tetap diperlukan terutama bagi anak-anak dan orang dengan pembatasan gula.
Untuk campuran kopi, roti, atau dessert, penggunaan secukupnya sudah cukup memberikan rasa manis. Cara ini juga membantu menjaga keseimbangan asupan kalori harian. Konsumen sebaiknya tidak menjadikannya satu-satunya sumber zat gizi. Susu kental manis lebih tepat diperlakukan sebagai pelengkap, bukan minuman utama.
Aturan BPOM Soal Susu Kental Manis
BPOM telah mengatur cara penyajian susu kental manis agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Dalam Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2021, produk ini tidak boleh dipromosikan seolah-olah menjadi hidangan tunggal berupa minuman susu. Aturan tersebut juga melarang visualisasi yang menempatkannya sebagai satu-satunya sumber gizi. Tujuannya adalah melindungi konsumen dari informasi yang menyesatkan.
Ketentuan itu menunjukkan bahwa susu kental manis bukan dirancang sebagai pengganti susu segar. Komposisi gizinya berbeda, terutama karena kandungan gula yang lebih tinggi. Karena itu, cara konsumsi yang dianjurkan pun berbeda dari susu cair biasa. Masyarakat perlu memahami fungsi produk agar tidak salah memperlakukan penggunaannya.
Dengan memahami dasar aturan dan kandungannya, publik dapat melihat susu kental manis secara lebih proporsional. Produk ini memang mengandung susu, tetapi juga memiliki gula dalam jumlah yang cukup dominan. Karena itu, konsumsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan takaran yang wajar. Pemahaman yang tepat akan membantu mencegah salah kaprah yang berulang di media sosial.
