Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 19:13 WIB 3
Stres Bisa Picu Kembung, Ini Penjelasan Ahli

Stres dan emosi yang memuncak tidak hanya berdampak pada pikiran, tetapi juga pada tubuh, termasuk sistem pencernaan. Saat kondisi mental terganggu, sebagian orang merasakan perut kembung, begah, hingga tidak nyaman meski pola makan tidak berubah. Menurut para ahli, reaksi ini terjadi karena usus sangat dipengaruhi sistem saraf. Hubungan antara stres dan pencernaan membuat gejala tersebut kerap muncul pada momen tekanan emosional.

Rebecca Ditkoff, konselor makan dan pemilik praktik Nutrition by RD di New York City, menyebut usus dapat dianggap sebagai otak kedua manusia. Ia menjelaskan bahwa sistem pencernaan mencerminkan kondisi emosional karena keduanya saling terhubung. Ketika tubuh berada dalam tekanan, proses pencernaan bisa melambat dan memicu penumpukan gas. Kondisi itulah yang kemudian membuat perut terasa penuh dan begah.

Stres dan kembung

Sistem saraf enterik berperan besar dalam mengatur kerja saluran pencernaan. Bagian dari sistem saraf otonom ini menjadi penghubung penting antara kondisi saraf dan fungsi usus. Melissa Groves Azzaro, RDN, menjelaskan bahwa tubuh pada dasarnya berada dalam dua mode utama. Keduanya adalah fight-or-flight dan rest-and-digest.

Saat tubuh menangkap ancaman, baik nyata maupun berupa tekanan modern seperti tenggat waktu, respons stres akan aktif. Kelenjar adrenal kemudian melepaskan hormon stres seperti kortisol, epinefrin, dan norepinefrin. Dalam keadaan ini, tubuh memprioritaskan bertahan hidup dibandingkan mencerna makanan. Akibatnya, sistem pencernaan tidak bekerja secara optimal.

Aliran darah dialihkan dari sistem pencernaan menuju otot agar tubuh siap bergerak. Kontraksi otot pencernaan menurun, begitu pula produksi sekresi pencernaan. Makanan pun lebih lama berada di perut dan tidak terurai sempurna. Kondisi tersebut membuat gas lebih mudah terperangkap dan memicu kembung.

Respons tubuh saat tertekan

Reaksi tubuh terhadap stres tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian orang mengalami kembung dan begah, sementara yang lain merasakan kram perut atau diare. Ditkoff menilai perbedaan itu sangat umum terjadi. Bahkan, sebagian orang dapat mengalami perubahan nafsu makan yang signifikan.

Dalam sejumlah kasus, stres juga dapat memperburuk gangguan pencernaan kronis. Kondisi tersebut bisa kambuh ketika tekanan emosional meningkat. Pada situasi tertentu, respons tubuh bahkan menjadi sangat kuat hingga terasa mengganggu aktivitas harian. Karena itu, gejala pencernaan tidak seharusnya dianggap sepele.

Ditkoff menegaskan bahwa hampir semua orang pernah merasakan efek stres pada tubuh. Ada yang justru makan terus-menerus saat tertekan, tetapi ada juga yang kehilangan selera makan. Sebagian orang mengalami mual, sedangkan yang lain merasa tubuhnya melemah. Pola ini menunjukkan bahwa stres dapat memengaruhi sistem pencernaan dengan cara yang berbeda.

Kembalikan tubuh ke tenang

Untuk mengurangi kembung akibat stres, tubuh perlu diarahkan kembali ke mode rest-and-digest. Pada kondisi ini, hormon stres tidak melonjak dan aliran darah kembali lancar ke seluruh tubuh. Proses kontraksi otot dan pencernaan pun berjalan lebih normal. Dengan begitu, makanan dapat dipecah dan didistribusikan dengan lebih baik.

Ditkoff menyarankan seseorang makan dalam kondisi yang tenang. Saat tubuh lebih rileks, sistem pencernaan memiliki peluang lebih besar untuk bekerja optimal. Namun, tidak makan sama sekali ketika sedang stres juga bukan pilihan yang baik. Kebiasaan itu justru dapat membuat tubuh semakin tidak seimbang.

Mengatur napas, memberi jeda sebelum makan, dan menghindari tekanan berlebihan dapat membantu tubuh lebih siap mencerna. Bila keluhan kembung kerap muncul, penting untuk memperhatikan pemicu emosional yang menyertainya. Langkah sederhana dalam menenangkan diri bisa memberi dampak nyata pada kesehatan pencernaan. Dengan memahami hubungan ini, penanganan kembung menjadi lebih efektif.

Cara meredakan kembung

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengenali kapan stres mulai memengaruhi tubuh. Setelah itu, seseorang dapat mencoba menurunkan ketegangan melalui istirahat singkat atau aktivitas yang menenangkan. Makan perlahan juga membantu tubuh memproses makanan dengan lebih baik. Kebiasaan ini dapat mengurangi peluang terbentuknya gas berlebih di saluran pencernaan.

Selain itu, penting untuk menjaga pola makan tetap teratur meski sedang tertekan. Pilihan makanan yang lebih ringan bisa membantu perut bekerja lebih nyaman. Bila gejala muncul berulang dan disertai keluhan lain, pemeriksaan ke tenaga kesehatan perlu dipertimbangkan. Hal itu penting untuk memastikan tidak ada gangguan pencernaan yang lebih serius.

Pemahaman bahwa stres dapat memicu kembung membantu seseorang lebih cepat mengambil langkah pencegahan. Dengan menjaga kondisi emosional, tubuh berpeluang kembali ke ritme pencernaan yang sehat. Hubungan antara pikiran dan usus menunjukkan bahwa kesehatan mental dan fisik saling terkait erat. Karena itu, menjaga ketenangan menjadi bagian penting dari upaya merawat pencernaan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!