Siva Aprilia Laporkan Dugaan Penipuan yang Catut Namanya

Teknologi BRH 26 Mei 2026 16:01 WIB 3
Siva Aprilia Laporkan Dugaan Penipuan yang Catut Namanya

Disc Jockey sekaligus selebritas Siva Aprilia mendatangi Mabes Polri untuk melaporkan dugaan penipuan yang mencatut namanya. Laporan itu dia ajukan setelah muncul banyak korban yang mengaku dirugikan oleh pelaku. Kasus ini diduga berawal dari modus kerja sama palsu yang disusun secara rapi. Siva menegaskan, langkah hukum diambil agar tidak ada korban baru.

Ia menyebut para korban, terutama rekan-rekannya di bidang makeup artist atau MUA, sudah terlanjur percaya karena pelaku membawa nama besar dirinya. Modus penipuan itu disebut memanfaatkan grup percakapan palsu, identitas palsu, dan skenario pekerjaan event di klub malam. Para korban kemudian diminta mentransfer uang dengan alasan dana talangan untuk tiket dan hotel. Dugaan penipuan digital ini kini sudah masuk ke tahap penyelidikan kepolisian.

Kasus Penipuan Digital Siva Aprilia

Siva mengaku pelaku menggunakan cara yang sangat meyakinkan untuk mengelabui korban. Mereka disebut mengaku sebagai pihak manajemen, bagian keuangan, hingga perwakilan klub. Skema itu dibuat agar korban merasa sedang berkomunikasi dengan pihak resmi. Menurut Siva, cara seperti ini membuat banyak orang mudah terjebak.

Ia menjelaskan, para pelaku memanfaatkan profesinya sebagai DJ untuk menawarkan kerja sama event di klub besar. Tawaran itu dinilai menarik karena para MUA merasa mendapat kesempatan bekerja di acara bergengsi. Setelah korban menunjukkan minat, percakapan kemudian diarahkan ke permintaan dana awal. Dari situ, korban mulai diminta mengirim uang ke rekening yang disiapkan pelaku.

Siva menilai pola penipuan tersebut sangat terstruktur dan sulit dikenali pada awalnya. Setiap peran dalam percakapan dibuat seolah-olah saling terkait dan meyakinkan. Akibatnya, korban tidak langsung curiga saat diminta membayar biaya tiket atau hotel. Ia menyebut situasi itu menunjukkan bahwa para pelaku sudah memahami cara memanipulasi kepercayaan publik.

Kerugian Korban yang Mencuat

Sejumlah MUA disebut mengalami kerugian materiil yang tidak sedikit akibat aksi itu. Nilai kerugian per orang diperkirakan mencapai Rp 9 juta hingga Rp 11 juta. Bagi para korban, jumlah tersebut tentu sangat memberatkan. Apalagi, uang itu diduga dikirim dengan harapan akan segera diganti.

Siva mengaku dirinya ikut terganggu secara mental karena nama baiknya terus dipakai untuk menipu. Ia mengatakan, laporan dari berbagai pihak datang hampir setiap hari. Kondisi itu membuatnya merasa tidak tenang dan ikut bersalah. Menurut dia, korban percaya karena mengira tawaran itu benar-benar terkait dengan dirinya.

Ia juga menyoroti dampak lanjutan dari penipuan tersebut terhadap kepercayaan publik. Sekali nama seseorang dicatut, korban berikutnya menjadi lebih sulit membedakan mana informasi asli dan mana tipu daya. Situasi ini memperlihatkan betapa besar kerugian dari penipuan digital. Siva berharap masyarakat lebih berhati-hati terhadap tawaran kerja sama yang terlalu mudah.

Langkah Hukum di Mabes Polri

Dalam proses pelaporan, Siva telah menjalani Berita Acara Pemeriksaan atau BAP. Ia juga menyerahkan bukti berupa tangkapan layar percakapan dan nomor rekening yang diduga dipakai pelaku. Seluruh dokumen itu diberikan kepada penyidik untuk ditelusuri lebih lanjut. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam upaya membongkar jaringan penipuan.

Laporan Siva tercatat dengan nomor LP/B/225/V/2026/SPKT/BARESKRIM POLRI. Dalam laporannya, kasus ini mengarah pada dugaan manipulasi identitas dan informasi elektronik. Dasar hukum yang digunakan adalah Pasal 35 jo Pasal 51 Undang-Undang ITE. Ancaman hukuman dalam pasal tersebut mencapai 12 tahun penjara serta denda miliaran rupiah.

Siva menilai penegakan hukum perlu dilakukan secepat mungkin agar pelaku tidak terus berpindah modus. Ia berharap kepolisian dapat mengusut tuntas jaringan yang terlibat dalam kasus ini. Jika kerugian korban bisa dipulihkan, menurut dia, hal itu akan menjadi kabar baik. Namun, fokus utamanya tetap agar para pelaku segera ditangkap.

Waspada Modus Scam Online

Kasus yang menimpa Siva kembali menunjukkan bahwa penipuan berbasis digital masih sangat marak. Pelaku kini semakin kreatif dalam menyusun identitas palsu dan menyamarkan komunikasi. Mereka kerap meniru gaya percakapan profesional agar terlihat meyakinkan. Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih selektif sebelum mengirim uang.

Pengamat keamanan digital umumnya menilai bahwa verifikasi informasi menjadi langkah paling penting. Setiap tawaran kerja sama, terutama yang meminta transfer awal, sebaiknya dicek langsung ke sumber resmi. Masyarakat juga perlu memastikan nomor rekening, alamat email, dan identitas pengirim. Jika ada kejanggalan, laporan ke pihak berwenang menjadi langkah yang tepat.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa reputasi publik juga bisa disalahgunakan untuk kejahatan. Karena itu, kewaspadaan terhadap pesan singkat, grup percakapan palsu, dan tawaran instan harus terus ditingkatkan. Siva berharap kisahnya bisa menjadi pelajaran bagi banyak orang. Ia ingin penipuan serupa tidak lagi memakan korban baru.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!