UMKM Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia dan Dunia

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 26 Mei 2026 17:02 WIB 2
UMKM Tenun Indonesia Tembus Pasar Malaysia dan Dunia

Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saing di pasar internasional, setelah sarung tenun dari Kainnesia berhasil dipesan oleh pembeli asal Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Pencapaian ini menegaskan bahwa produk berbasis budaya lokal mampu menembus pasar luar negeri, sekaligus memberi dampak ekonomi bagi para penenun di berbagai daerah.

Kainnesia, pemenang Pertapreneur Aggregator 2024, mengandalkan kolaborasi dengan ratusan penenun untuk memperluas jangkauan pasar tenun nusantara. Melalui program tersebut, perusahaan ini tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas dan penyerapan tenaga kerja pada puluhan UMKM mitra.

Tenun Indonesia Tembus Ekspor

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, mengatakan bahwa pertumbuhan yang terjadi merupakan hasil dari ekosistem bisnis yang dibangun bersama para mitra. Ia menyebut program Pertapreneur Aggregator memberi dampak langsung bagi Kainnesia dan UMKM binaannya.

Saat ini, total tenaga kerja dari 37 UMKM mitra Kainnesia telah melampaui 400 orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa rantai usaha tenun dapat berkembang lebih luas ketika mendapat akses pasar, pendampingan, dan dukungan manajerial yang tepat.

Nur Salam menegaskan bahwa capaian tersebut menjadi bukti keberhasilan model agregator dalam mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Menurut dia, manfaat program tidak berhenti pada satu pelaku usaha, tetapi mengalir ke banyak UMKM lain yang terlibat di dalamnya.

Ia menambahkan, tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang perlu terus dikembangkan agar relevan dengan zaman. Karena itu, Kainnesia ingin generasi muda melihat tenun sebagai bagian dari masa depan ekonomi kreatif Indonesia.

Peluang Pasar Internasional

Produk Kainnesia telah tampil di sejumlah ajang internasional, termasuk Osaka World Expo Japan 2025 dan Korea Import Fair di Seoul. Selain itu, kehadirannya di Jogja Fashion Week 2025 dan Inacraft 2025 turut membuka ruang temu dengan pembeli potensial dari luar negeri.

Dari berbagai pameran tersebut, Kainnesia mendapatkan peluang bertemu dengan buyer dari Jepang, Australia, hingga Malaysia. Jaringan yang terbentuk memperlihatkan bahwa produk tenun Indonesia memiliki potensi besar untuk masuk ke pasar premium.

Kehadiran di event internasional juga menjadi sarana promosi yang efektif bagi UMKM binaan. Melalui panggung tersebut, kualitas produk, keunikan motif, dan nilai budaya tenun dapat diperkenalkan secara lebih luas kepada calon pembeli global.

Dengan pendekatan yang konsisten, Kainnesia berupaya membangun citra tenun sebagai produk bernilai tinggi. Strategi itu penting agar tenun tidak hanya dipandang sebagai kerajinan tradisional, tetapi juga komoditas ekspor yang kompetitif.

Peran Pertapreneur Aggregator

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut kehadiran Kainnesia sebagai contoh nyata tujuan Pertapreneur Aggregator. Menurut dia, program ini dirancang untuk membantu UMKM naik kelas melalui penguatan ekosistem usaha yang saling terhubung.

Rudi menilai, semakin banyak UMKM aggregator maka semakin besar pula peluang UMKM lain untuk berkembang. Ia menekankan bahwa model ini dapat membuka lapangan kerja dan menggerakkan pertumbuhan ekonomi lokal secara lebih merata.

Ia juga berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi pengungkit ekonomi yang menciptakan nilai tambah lebih besar. Dalam pandangannya, keberhasilan satu agregator akan memberi efek berganda bagi banyak pelaku usaha di sekitarnya.

Program Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui program ini, para pelaku usaha mendapat dukungan teknis, manajerial, hingga akses pasar yang lebih luas.

Dampak Bagi UMKM Lokal

Keberhasilan Kainnesia menunjukkan bahwa penguatan UMKM tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada jaringan pasar dan pendampingan berkelanjutan. Kombinasi tersebut membuat produk lokal lebih siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Dampak paling nyata terlihat pada penyerapan tenaga kerja yang terus bertambah di ekosistem usaha Kainnesia. Dengan lebih dari 400 pekerja dari 37 UMKM mitra, model bisnis ini memberi kontribusi terhadap ekonomi daerah.

Selain meningkatkan omzet, keterlibatan dalam rantai pasok ekspor juga mendorong standar kualitas produk menjadi lebih baik. Hal ini penting agar UMKM mampu memenuhi permintaan pasar yang menuntut konsistensi, ketepatan, dan nilai estetika tinggi.

Kasus Kainnesia memperlihatkan bahwa produk berbasis budaya dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru. Jika dukungan terhadap UMKM terus diperluas, lebih banyak produk Indonesia berpeluang mengikuti jejak serupa di pasar global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!