Pertamina Latih UMKM Ekspor Jelang TEI 2025 di Jakarta

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 17:01 WIB 2
Pertamina Latih UMKM Ekspor Jelang TEI 2025 di Jakarta

Pertamina menggelar pelatihan ekspor bagi pelaku UMKM binaannya pada 1 Oktober 2025 di Gedung PPEJP, Grogol, Jakarta, sebagai persiapan menuju Trade Expo Indonesia (TEI) 2025. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan peserta dalam mempromosikan produk, melakukan pitching, dan menjalin temu bisnis dengan buyer internasional. Program tersebut juga menjadi tindak lanjut dari nota kesepahaman antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian BUMN yang berfokus pada peningkatan kelas UMKM. Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan lebih siap bersaing di pasar ekspor.

Mayoritas peserta dijadwalkan tampil di TEI 2025, salah satu ajang pameran perdagangan terbesar di Asia Tenggara, sehingga pelatihan menjadi bekal penting sebelum mereka berhadapan dengan pasar global. Kegiatan tersebut menghadirkan materi dari praktisi berpengalaman, mulai dari strategi promosi di pameran dagang internasional hingga penyusunan kontrak. Peserta juga mendapat sesi praktik berupa display produk, presentasi, dan simulasi temu bisnis agar lebih percaya diri saat bertemu calon pembeli. Pertamina menegaskan dukungannya agar UMKM Indonesia mampu naik kelas dan menembus pasar dunia.

Pelatihan ekspor UMKM Pertamina

Kepala PPEJP, Sugih Rahmansyah, menilai pelatihan ini penting untuk memperkuat kesiapan UMKM binaan Pertamina dalam menghadapi pasar ekspor. Ia menyebut PPEJP dan Pertamina memiliki visi yang sama, yakni mendorong UMKM agar berdaya saing dan mampu menembus pasar global. Menurut dia, kegiatan ini merupakan bentuk nyata dukungan terhadap pelaku usaha kecil agar tidak hanya siap dari sisi produk, tetapi juga dari sisi strategi bisnis. Ia berharap peserta mengikuti seluruh rangkaian dengan baik agar hasil pelatihan dapat langsung diterapkan.

Selama tiga hari pelatihan, para peserta menerima pembekalan dari para praktisi yang memahami kebutuhan ekspor. Materi yang diberikan mencakup teknik pitching, business matching, hingga penyusunan kontrak dengan mitra luar negeri. Selain teori, peserta juga diminta mempraktikkan cara menampilkan produk secara menarik di pameran dagang internasional. Pendekatan ini dinilai penting agar UMKM tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menjalankannya di lapangan.

Fety, Manager SMEPP Pertamina, menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan kesempatan berharga yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh peserta. Ia meminta para pelaku UMKM mengikuti setiap sesi dengan sungguh-sungguh dan segera menerapkan ilmu yang diperoleh dalam pengembangan usaha. Menurut dia, pemahaman yang mendalam atas materi ekspor sangat menentukan kesiapan UMKM menghadapi pasar global. Karena itu, program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada penguatan kapasitas pelaku usaha.

Persiapan menuju TEI 2025 menjadi salah satu alasan utama digelarnya pelatihan ini. Ajang tersebut dipandang sebagai momentum strategis bagi UMKM untuk memperkenalkan produk kepada buyer internasional. Dengan bekal promosi dan negosiasi yang tepat, peserta diharapkan lebih percaya diri saat menghadapi peluang ekspor. Pertamina menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk memperluas akses pasar UMKM binaan.

Bekal menuju TEI 2025

Fety menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar peserta tidak hanya siap dari sisi kualitas produk, tetapi juga matang dalam strategi promosi dan negosiasi bisnis. Menurut dia, buyer internasional umumnya menilai kesiapan usaha dari banyak aspek, termasuk presentasi, kerapian display, dan kejelasan komunikasi. Karena itu, simulasi business matching menjadi bagian penting dalam rangkaian pembelajaran. Peserta dilatih untuk menyampaikan keunggulan produk secara efektif dan profesional.

Gunawan, pelaku UMKM Gun'S Leather asal Garut, menjadi salah satu peserta yang akan membawa produk ramah lingkungan berbahan kulit ke TEI 2025. Ia mengaku antusias mengikuti pelatihan karena bisa belajar langsung tentang cara memperkenalkan produk di pasar internasional. Bagi Gunawan, kesempatan tersebut membuka wawasan baru mengenai standar yang dibutuhkan untuk bersaing di ajang perdagangan global. Ia berharap produk yang dibawanya dapat diterima pasar dan membuka peluang kerja lebih luas bagi masyarakat Garut.

Gunawan menilai pelatihan ekspor Pertamina memberi pengalaman yang sangat berharga bagi pelaku usaha kecil. Ia melihat materi yang diberikan relevan dengan kebutuhan UMKM yang ingin naik kelas dan memperluas jaringan bisnis. Dengan pendekatan praktik, peserta dapat memahami tantangan nyata dalam bertemu buyer dan menawarkan produk. Hal itu membuat pelatihan tidak berhenti pada teori, melainkan langsung menyentuh kebutuhan operasional usaha.

Selain meningkatkan kesiapan peserta, kegiatan ini juga memperkuat posisi UMKM sebagai bagian penting dalam rantai ekonomi nasional. Melalui TEI 2025, produk-produk lokal berkesempatan mendapat perhatian dari pembeli luar negeri. Jika proses promosi dan negosiasi berjalan baik, peluang kontrak dagang dapat terbuka lebih luas. Kondisi ini diharapkan memberi dampak langsung terhadap peningkatan omzet dan perluasan pasar.

Dukungan Pertamina untuk UMKM

VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, menegaskan bahwa inisiatif pelatihan ekspor merupakan bagian dari strategi besar perusahaan dalam mendukung daya saing bangsa. Ia menyatakan Pertamina ingin memastikan produk UMKM Indonesia mampu bersaing di pasar global dan sekaligus memperkuat citra Indonesia di mata dunia. Menurut dia, langkah ini menjadi bentuk nyata keberpihakan perusahaan terhadap potensi lokal. Pertamina menempatkan pemberdayaan UMKM sebagai bagian penting dari kontribusi sosial perusahaan.

Fadjar menjelaskan bahwa penguatan kapasitas UMKM sejalan dengan visi perusahaan dalam menciptakan dampak yang lebih luas bagi perekonomian nasional. Dengan bekal yang tepat, pelaku usaha kecil dapat lebih percaya diri memasuki pasar ekspor dan menjangkau konsumen baru. Ia menilai ekspor bukan hanya soal penjualan, tetapi juga soal membangun reputasi produk Indonesia. Karena itu, pendampingan seperti pelatihan ini dipandang perlu untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Program tersebut juga disebut sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran, khususnya poin yang menekankan penciptaan lapangan kerja berkualitas, pengembangan kewirausahaan, dan industri kreatif. Pertamina menilai pemberdayaan UMKM memiliki efek berantai terhadap pertumbuhan ekonomi, karena dapat membuka peluang kerja baru di daerah. Selain itu, pengembangan usaha kecil turut memperkuat basis produksi lokal yang lebih mandiri. Dalam konteks ini, ekspor dipandang sebagai pintu masuk bagi peningkatan skala usaha.

Upaya pendampingan UMKM juga selaras dengan arah perusahaan sebagai pemimpin di bidang transisi energi yang berkomitmen mendukung target net zero emission 2060. Pertamina menyebut seluruh programnya diarahkan agar memberi dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara seimbang. Komitmen tersebut dijalankan melalui penerapan prinsip Sustainable Development Goals dan Environmental, Social & Governance di seluruh lini bisnis. Dengan pendekatan itu, pemberdayaan UMKM tidak hanya mendorong pertumbuhan usaha, tetapi juga pembangunan yang berkelanjutan.

Langkah strategis bisnis berkelanjutan

Pelatihan ekspor ini menunjukkan bahwa penguatan UMKM tidak berhenti pada bantuan modal atau promosi semata. Pendekatan yang diberikan mencakup kesiapan produk, kemampuan komunikasi, hingga pemahaman prosedur perdagangan internasional. Model pembinaan seperti ini dinilai lebih efektif karena menyiapkan pelaku usaha menghadapi tantangan pasar secara langsung. Dalam jangka panjang, langkah tersebut dapat meningkatkan daya saing produk lokal di tingkat global.

Bagi UMKM binaan, kesempatan mengikuti kegiatan semacam ini menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan diri. Mereka tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga pengalaman praktik yang mendekatkan peserta pada kondisi nyata di lapangan. Hal ini penting karena pasar ekspor menuntut standar yang lebih tinggi dibanding pasar domestik. Dengan persiapan yang matang, peluang terjadinya transaksi bisnis akan semakin besar.

TEI 2025 dipandang sebagai panggung strategis untuk mempertemukan produk Indonesia dengan buyer dari berbagai negara. Keikutsertaan UMKM dalam ajang tersebut dapat memperluas jejaring bisnis dan memperkenalkan keragaman produk unggulan daerah. Jika komunikasi dagang berjalan efektif, potensi kerja sama jangka panjang dapat terbentuk. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh ekosistem ekonomi di daerah asal produk.

Melalui dukungan berkelanjutan kepada UMKM, Pertamina berupaya menempatkan pemberdayaan ekonomi sebagai bagian dari misi korporasi yang lebih luas. Program ini memperlihatkan bahwa transformasi bisnis dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ketika UMKM tumbuh, lapangan kerja baru ikut tercipta dan roda ekonomi daerah bergerak lebih cepat. Dari sisi nasional, hal itu menjadi kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!