Satelit Nusantara Lima Siap Perkuat Internet Indonesia

Teknologi Moh. Royhan Nahado 25 Mei 2026 07:48 WIB 5
Satelit Nusantara Lima Siap Perkuat Internet Indonesia

PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) selangkah lagi mengoperasikan secara komersial Satelit Nusantara Lima atau Satelit N5 setelah mengantongi izin Jaringan Tetap Tertutup Berbasis Satelit dan VSAT dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Persetujuan itu diberikan usai Satelit N5 lolos Uji Laik Operasi di Gateway Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 23-24 April 2026.

Satelit berkapasitas 160 Gbps itu diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di Asia dan akan memperkuat pemerataan akses internet di Indonesia. PSN menilai kehadiran Satelit N5 penting untuk mendukung layanan digital di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal.

Satelit N5 dan Internet Nasional

Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara Adi Rahman Adiwoso menyebut kelulusan Uji Laik Operasi menjadi fase krusial sebelum satelit melayani masyarakat secara luas. Menurut dia, izin dari Komdigi menandai kesiapan infrastruktur satelit tersebut untuk masuk ke tahap komersial. Ia menegaskan perusahaan ingin menghadirkan layanan yang modern sekaligus patuh pada regulasi nasional.

Adi mengatakan Satelit Nusantara Lima disiapkan untuk mendukung pemerataan konektivitas di seluruh pelosok Nusantara. Ia menyebut misi utama PSN adalah membantu mengurangi kesenjangan akses internet yang masih terjadi di banyak daerah. Dalam pandangannya, satelit ini juga sejalan dengan agenda besar pemerintah untuk mempercepat transformasi digital.

PSN menilai kebutuhan internet cepat di Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya layanan publik dan aktivitas ekonomi digital. Karena itu, kapasitas besar yang dimiliki Satelit N5 dipandang relevan untuk memperkuat jaringan telekomunikasi nasional. Perusahaan berharap layanan yang dibangun dari satelit ini dapat segera dimanfaatkan secara optimal oleh berbagai sektor.

Uji Laik Operasi Satelit

Uji Laik Operasi dilakukan oleh Tim Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi Komdigi untuk memastikan seluruh sarana dan prasarana memenuhi standar keamanan serta fungsionalitas. Pengujian tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Kominfo Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi. Dengan demikian, proses verifikasi tidak hanya menilai kesiapan teknis, tetapi juga kepatuhan terhadap regulasi.

Aspek yang diuji mencakup validasi jaringan tetap tertutup berbasis satelit dan layanan VSAT. Pemeriksaan dilakukan untuk menjamin kualitas layanan, keandalan sistem, serta kepatuhan terhadap regulasi spektrum frekuensi di Indonesia. Hasil pengujian menjadi dasar penting sebelum satelit dioperasikan secara komersial.

Pelaksanaan ULO di Banjarbaru turut ditinjau Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah bersama sejumlah pejabat lain. Kehadiran mereka menunjukkan pentingnya proyek ini bagi penguatan infrastruktur digital nasional. Pemerintah menempatkan Satelit N5 sebagai salah satu penopang utama konektivitas masa depan.

Kapasitas Satelit N5

Satelit N5 menggunakan platform Boeing 702MP dengan 101 spot beam Ka-band. Jangkauannya disebut meliputi kawasan ASEAN, termasuk Malaysia dan Filipina. Spesifikasi tersebut menempatkan satelit ini dalam jajaran infrastruktur antariksa dengan kapasitas besar di kawasan.

Satelit ini sebelumnya diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat, pada September 2025. Setelah itu, Satelit N5 menjalani fase Electric Orbit Raising sebelum menempati slot orbit 113 derajat Bujur Timur pada Januari 2026. Tahapan tersebut menunjukkan proses penempatan satelit berlangsung bertahap dan terukur.

Dengan kapasitas 160 Gbps, Satelit N5 disiapkan untuk melayani kebutuhan internet cepat bagi masyarakat dan dunia usaha. Teknologi ini juga diharapkan membantu penguatan layanan publik di wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses digital. Selain itu, satelit dinilai relevan untuk mendukung kebutuhan keamanan nasional di seluruh Indonesia.

Dampak Bagi Layanan Publik

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah menilai Satelit N5 merupakan aset strategis bagi transformasi digital nasional. Ia menyebut pemerintah menargetkan kecepatan internet rata-rata Indonesia mencapai 100 Mbps pada 2029. Kehadiran satelit baru ini dinilai dapat membantu mengejar target tersebut.

Edwin menegaskan pemerintah terus mendorong pemerataan konektivitas di seluruh Indonesia. Menurut dia, kelulusan ULO membuktikan infrastruktur ini telah siap secara teknis untuk mendukung agenda besar digitalisasi. Ia berharap kapasitas besar yang tersedia dapat segera memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Ketua Tim Kelompok Kerja Layanan Telekomunikasi Falatehan menambahkan bahwa seluruh pengujian dilakukan secara komprehensif dan ketat. Pemeriksaan di Gateway Banjarbaru mencakup keandalan transmisi hingga keamanan jaringan VSAT. Ia menilai kepastian kelayakan sangat penting agar pengguna jasa telekomunikasi kelak memperoleh layanan yang berkualitas dan andal.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!