Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada pembukaan perdagangan pagi ini, Kamis (21/5/2026), dan bergerak menjauh dari rekor pelemahan yang sempat menembus kisaran Rp17.700 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.651 per dolar AS, menguat tipis 2 poin atau 0,01 persen.
Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia mengambil langkah moneter terbaru dengan menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen. Kebijakan tersebut dinilai menjadi sinyal kuat untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Rupiah Kembali Menguat
Rupiah membuka perdagangan dengan sentimen yang lebih baik dibandingkan hari sebelumnya. Mata uang Garuda berhasil meninggalkan level terlemahnya yang sempat berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah berada pada posisi Rp17.651 per dolar AS. Kondisi ini menandai penguatan tipis setelah tekanan besar yang sempat mendorong dolar AS ke level Rp17.721 pada perdagangan kemarin.
Posisi Rp17.721 menjadi titik tertinggi dolar AS terhadap rupiah sepanjang sejarah. Pergerakan tersebut memperlihatkan betapa rentannya pasar valuta asing terhadap sentimen eksternal.
Meski penguatannya masih terbatas, pembukaan hari ini memberi ruang optimisme bagi pasar. Pelaku pasar menilai rupiah masih bergerak dalam fase yang sangat sensitif terhadap kebijakan dan perkembangan global.
Langkah BI Menopang Rupiah
Bank Indonesia merespons tekanan pasar dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate. Keputusan itu diumumkan setelah Rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada 19 hingga 20 Mei 2026.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa BI Rate dinaikkan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Pada saat yang sama, suku bunga Deposit Facility juga dinaikkan menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6 persen.
Menurut Perry, kebijakan ini ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Langkah tersebut juga ditujukan menjaga daya tahan perekonomian di tengah volatilitas pasar yang meningkat.
BI menilai kondisi global masih dipenuhi ketidakpastian yang tinggi. Tekanan itu mendorong bank sentral untuk bertindak lebih cepat agar rupiah tidak terus tertekan.
Gejolak Global Meningkat
Perry menyebut gejolak global saat ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Situasi tersebut menambah tekanan pada pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam kondisi seperti ini, arus modal cenderung bergerak ke aset yang dianggap lebih aman. Akibatnya, mata uang emerging market termasuk rupiah berpotensi menghadapi tekanan lanjutan.
Bank Indonesia menilai pengetatan kebijakan moneter menjadi salah satu instrumen penting untuk meredam dampak eksternal. Dengan langkah itu, stabilitas pasar diharapkan tetap terjaga meski sentimen global masih fluktuatif.
Pasar kini menunggu respons lanjutan dari pelaku investor terhadap kebijakan tersebut. Arah pergerakan rupiah berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan ekspektasi suku bunga global.
Inflasi Tetap Jadi Fokus
Selain menjaga stabilitas rupiah, BI juga menempatkan inflasi sebagai prioritas kebijakan. Bank sentral ingin memastikan tekanan harga tetap berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah.
Perry menegaskan bahwa langkah pre-emptive diperlukan untuk menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027. Target inflasi yang dibidik berada pada kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Dengan kebijakan ini, BI berharap stabilitas nilai tukar dan inflasi dapat dijaga secara bersamaan. Keseimbangan tersebut dinilai penting agar pemulihan ekonomi tidak terganggu.
Pelaku pasar kini mencermati apakah penguatan rupiah dapat berlanjut pada perdagangan berikutnya. Arah rupiah akan sangat ditentukan oleh efektivitas kebijakan BI, serta perkembangan sentimen eksternal dalam beberapa hari mendatang.
