Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali tertekan pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, dan bergerak mendekati level yang pernah identik dengan masa krisis. Pada pukul 09.05 WIB, IHSG berada di posisi 6.047 setelah melemah 47 poin atau 0,78 persen.
Pergerakan indeks sempat dibuka di level 6.065, lalu turun ke rentang 5.966 hingga 6.074. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp1,67 triliun dengan melibatkan 3,60 miliar lembar saham dalam 178.693 kali transaksi.
Tekanan IHSG Masih Berlanjut
Data RTI menunjukkan tekanan jual masih dominan pada awal perdagangan. Dari total saham yang diperdagangkan, 418 saham melemah, sedangkan 129 saham menguat dan 155 saham stagnan.
Pergerakan tersebut menandakan sentimen pasar masih rapuh. Kondisi ini juga membuat pelaku pasar mencermati arah indeks pada sisa perdagangan hari ini.
Selain melemah secara harian, IHSG juga terkoreksi dalam jangka waktu yang lebih panjang. Secara bulanan, indeks turun 20,01 persen, lalu melemah 25,38 persen dalam tiga bulan terakhir.
Sepanjang 2026, IHSG tercatat merosot 30,07 persen. Tekanan beruntun ini menjadi sinyal bahwa pemulihan pasar masih menghadapi banyak tantangan.
Perbandingan Dengan Masa Krisis
Penurunan IHSG saat ini memunculkan kembali ingatan pasar terhadap periode awal pandemi Covid-19. Pada masa itu, pasar modal Indonesia mengalami guncangan besar akibat kepanikan investor dan ketidakpastian ekonomi.
Ketika kasus positif pertama diumumkan pada 2 Maret 2020, IHSG ditutup turun 91 poin atau 1,67 persen ke level 5.361. Setelah itu, tekanan jual semakin kuat seiring bertambahnya kasus di dalam negeri.
Pada perdagangan 9 Maret 2020, IHSG bahkan anjlok 6,5 persen dan ditutup di level 5.136. Penurunan sedalam itu tergolong jarang terjadi, kecuali dalam situasi pasar yang sangat tertekan.
Perbandingan dengan masa tersebut muncul karena level indeks kini kembali bergerak ke zona yang pernah dianggap rawan. Meski kondisi saat ini berbeda, pasar tetap sensitif terhadap setiap gejolak global maupun domestik.
Respons Regulator Pasar
Ketika volatilitas meningkat pada 2020, regulator dan pengawas pasar modal mengambil berbagai langkah untuk meredam kepanikan. Salah satu kebijakan yang sempat diterapkan Bursa Efek Indonesia adalah penghentian perdagangan atau trading halt.
Kebijakan itu ditujukan untuk memberi waktu bagi pasar mencerna informasi dan menahan penjualan panik. Langkah serupa biasanya ditempuh ketika pergerakan indeks dinilai terlalu tajam dalam waktu singkat.
Meski demikian, intervensi kebijakan tidak selalu langsung membalikkan sentimen pasar. Kepercayaan investor tetap bergantung pada kepastian ekonomi, stabilitas kebijakan, dan prospek kinerja emiten.
Situasi saat ini menunjukkan bahwa pasar masih membutuhkan katalis positif yang kuat. Tanpa dukungan sentimen tersebut, IHSG berpotensi tetap bergerak fluktuatif dalam jangka pendek.
Arah Pasar Pada Sesi Berikutnya
Pelaku pasar kini menunggu apakah tekanan pada pembukaan akan berlanjut hingga penutupan. Pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh arus transaksi, sentimen regional, dan respons investor institusi.
Dengan nilai transaksi yang sudah menembus triliunan rupiah sejak pagi, aktivitas perdagangan masih terbilang aktif. Namun, dominasi saham yang melemah menunjukkan minat beli belum cukup kuat untuk mengangkat indeks.
Dalam kondisi seperti ini, investor umumnya mencermati saham-saham berkapitalisasi besar sebagai penentu arah indeks. Jika tekanan pada kelompok saham tersebut berlanjut, IHSG berisiko bergerak di bawah level psikologis terdekat.
Pasar masih menunggu sinyal yang dapat memulihkan kepercayaan. Hingga saat itu muncul, IHSG kemungkinan tetap berada dalam fase konsolidasi yang disertai volatilitas tinggi.
