Rupiah Melemah, Trafik Mal Jakarta Turun 15-20 Persen

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 06:02 WIB 3
Rupiah Melemah, Trafik Mal Jakarta Turun 15-20 Persen

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut pelemahan rupiah terhadap dolar AS telah mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas. Kondisi itu ikut menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok pekerja dengan pendapatan tetap, di tengah biaya hidup yang terus naik.

Menurut Ellen, dampak tersebut mulai terasa pada pola kunjungan ke pusat perbelanjaan di Jakarta. Trafik mal pada hari kerja tercatat turun sekitar 15 persen hingga 20 persen, sementara kunjungan akhir pekan masih relatif stabil bahkan cenderung meningkat.

Pusat Belanja dan Rupiah

Ellen mengatakan pelemahan rupiah membuat harga barang di pasar menjadi lebih mahal. Ia menilai tekanan nilai tukar itu sudah langsung dirasakan masyarakat dalam aktivitas belanja harian.

Ia menyebut dolar AS sempat berada di kisaran Rp 17.000 dan hampir menyentuh Rp 18.000. Situasi tersebut, menurut dia, memicu kekhawatiran karena kenaikan harga dapat berlanjut.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat cenderung menahan belanja dan lebih selektif membelanjakan uang. Dampaknya terasa pada sektor ritel modern, termasuk pusat-pusat belanja di ibu kota.

Tekanan Daya Beli

Penurunan daya beli menjadi salah satu faktor utama berkurangnya kunjungan ke mal pada hari kerja. Ellen menilai pekerja dengan gaji yang tidak berubah memilih mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak.

Perubahan perilaku itu terlihat dari kebiasaan makan siang karyawan kantor. Banyak di antara mereka yang kini membawa bekal dari rumah, alih-alih membeli makanan di pusat perbelanjaan.

Menurut Ellen, kebiasaan tersebut membuat frekuensi kunjungan ke mal menyusut. Jika sebelumnya pekerja bisa datang lima hari dalam sepekan, kini sebagian hanya datang dua hari.

Trafik Hari Kerja Menurun

APPBI DPD DKI Jakarta mencatat trafik pusat belanja di Jakarta pada weekdays turun sekitar 15 persen hingga 20 persen. Penurunan itu disebut terjadi secara umum di berbagai mal, meski tingkat dampaknya dapat berbeda-beda.

Ellen menggambarkan situasi ini sebagai kondisi yang tidak biasa, tetapi tetap dapat dijelaskan oleh perubahan perilaku konsumen. Ia menyebut masyarakat kini lebih berhitung sebelum mengeluarkan uang untuk kebutuhan di luar rumah.

Meski demikian, penurunan tersebut belum terjadi secara merata pada seluruh waktu kunjungan. Pada jam-jam tertentu, terutama saat makan siang, penurunan terasa lebih jelas dibandingkan periode lainnya.

Akhir Pekan Masih Stabil

Berbeda dengan hari kerja, kunjungan ke mal pada akhir pekan masih terjaga. Bahkan, Ellen menyebut ada kecenderungan peningkatan dibandingkan hari biasa.

Menurut dia, kunjungan keluarga menjadi penopang utama trafik pada Sabtu dan Minggu. Kehadiran anak-anak juga membuat mal tetap menarik sebagai tempat rekreasi sekaligus hiburan.

Ellen menilai pusat belanja memiliki daya tarik tersendiri karena bukan hanya menawarkan aktivitas belanja. Ruang bermain dan hiburan bagi anak menjadi faktor penting yang membuat orang tua kembali datang ke mal.

Ia menegaskan, anak-anak yang sudah menyukai suasana pusat belanja cenderung meminta orang tuanya kembali berkunjung. Karena itu, fungsi mal sebagai pusat belanja dan hiburan masih tetap relevan di tengah tekanan daya beli masyarakat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!