Sarden Kalengan Tak Selalu Sehat, Ini Penjelasannya

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 02:55 WIB 3
Sarden Kalengan Tak Selalu Sehat, Ini Penjelasannya

Sarden kalengan kembali menjadi sorotan setelah disebut bukan termasuk produk ultra processed food atau UPF. Label tersebut kerap membuat produk ini dinilai lebih sehat, padahal penilaian gizi tidak sesederhana itu.

Sejumlah faktor tetap perlu dicermati, mulai dari kandungan natrium hingga potensi paparan BPA pada kemasan kaleng. Karena itu, sarden kalengan tidak otomatis aman dikonsumsi tanpa batas, terutama jika menjadi menu harian.

Sarden Kalengan dan Label UPF

Anggapan bahwa sarden kalengan lebih sehat hanya karena tidak masuk kategori UPF dinilai kurang tepat. Sistem klasifikasi NOVA memang membedakan tingkat pemrosesan, tetapi bukan satu-satunya ukuran untuk menilai kualitas pangan.

Nilai gizi, komposisi bahan, kadar garam, dan cara pengemasan tetap harus diperhitungkan. Sebuah produk bisa saja tidak tergolong ultra processed, namun tetap memiliki risiko kesehatan tertentu.

Dalam konteks sarden kalengan, kandungan natrium menjadi salah satu sorotan utama. Jika dikonsumsi terlalu sering, asupan garam berlebih dapat memengaruhi tekanan darah dan kesehatan jantung.

Karena itu, pembeli sebaiknya tidak hanya terpaku pada label pemrosesan. Informasi pada kemasan perlu dibaca dengan cermat agar pilihan konsumsi lebih bijak.

Risiko BPA pada Kemasan

Selain natrium, sarden kalengan juga kerap dikaitkan dengan potensi paparan BPA atau Bisphenol A. Zat ini digunakan sebagai resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan.

Lapisan tersebut berfungsi melindungi makanan dari kontak langsung dengan logam. Namun, pada kondisi tertentu, partikel BPA dapat bermigrasi ke dalam bahan makanan.

Risiko migrasi ini bisa meningkat saat terjadi pemanasan atau kerusakan pada kemasan. Jika paparan berlangsung terus-menerus, dampaknya berpotensi merugikan kesehatan.

Karena itu, kondisi kemasan menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Kaleng yang penyok, berkarat, atau rusak sebaiknya tidak dikonsumsi.

Hasil Riset Tentang Migrasi BPA

Risiko migrasi BPA dari kaleng makanan telah diteliti dalam berbagai studi, termasuk riset yang dipublikasikan di Jurnal Keteknikan Pertanian tahun 2023. Penelitian tersebut menemukan adanya migrasi BPA dalam kadar kecil.

Temuan itu masih berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 μg/kgBB/hari. Artinya, kadar yang terdeteksi belum melampaui ambang batas yang diatur regulasi.

Meski demikian, paparan rendah bukan berarti sepenuhnya tanpa perhatian. Jika terjadi secara berulang dalam jangka panjang, akumulasi tetap menjadi kekhawatiran yang perlu diwaspadai.

Hasil riset ini menunjukkan bahwa faktor keamanan pangan tidak dapat dilihat secara hitam putih. Penilaian harus mempertimbangkan kadar paparan, frekuensi konsumsi, dan kondisi kesehatan individu.

Dampak Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, menegaskan bahwa konsumsi makanan yang tercemar BPA secara terus-menerus dapat mengganggu kesehatan. Dampaknya disebut terutama berkaitan dengan metabolisme dan fungsi hormonal.

Ia juga menyebut ada risiko lain yang tidak bisa diabaikan, termasuk potensi gangguan yang lebih serius. Dalam paparan jangka panjang, zat ini bahkan dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih selektif saat memilih makanan kaleng. Produk yang terlihat praktis belum tentu ideal bila dikonsumsi terlalu sering.

Oleh sebab itu, sarden kalengan sebaiknya ditempatkan sebagai konsumsi sesekali, bukan menu utama harian. Pola makan yang seimbang tetap menjadi kunci menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!