Ferry Maryadi Ungkap Pengalaman Berat Lawan Vertigo

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 04:24 WIB 3
Ferry Maryadi Ungkap Pengalaman Berat Lawan Vertigo

Aktor dan presenter Ferry Maryadi mengungkap pengalaman tidak menyenangkan saat berjuang melawan vertigo. Kondisi itu sempat membuatnya terjatuh dan harus mendapat penanganan di Unit Gawat Darurat atau UGD. Ferry menyebut serangan vertigo paling parah yang dialaminya terjadi sekitar dua atau tiga tahun lalu. Pengalaman tersebut juga membuatnya mendapat perhatian khusus dari dokter, terutama terkait kebiasaan berkendara jarak jauh.

Dalam keterangannya di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Jumat, 29 Mei 2026, Ferry menceritakan kembali momen saat dirinya jatuh. Ia menegaskan bahwa kejadian itu bukan sekadar pusing biasa, melainkan kondisi yang cukup mengganggu aktivitas harian. Suami Deswita Maharani itu juga menjelaskan bahwa vertigo dapat dipicu oleh masalah pada telinga maupun otak. Menurut penjelasan dokter yang ia terima, gangguan keseimbangan menjadi salah satu penyebab yang ia rasakan berasal dari telinga.

Vertigo Ferry Maryadi

Ferry Maryadi mengaku masih mengingat jelas saat vertigo menyerangnya dengan cukup kuat. Ia mengatakan tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terjatuh. Kondisi itu membuatnya harus segera dibawa ke UGD untuk mendapatkan penanganan medis. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang paling ia ingat dalam menghadapi masalah kesehatan.

Ia menyampaikan bahwa serangan vertigo itu terjadi sekitar dua atau tiga tahun lalu. Menurut Ferry, kejadian itu berlangsung di masa ketika ia masih aktif menjalani berbagai aktivitas harian. Saat serangan datang, ia tidak sempat memprediksi bahwa kondisinya akan memburuk. Karena itu, penanganan cepat menjadi langkah yang harus diambil saat itu.

Ferry menuturkan bahwa vertigo yang dialaminya bukan perkara ringan. Gejala yang muncul membuatnya sulit menjaga tubuh tetap stabil. Situasi itu juga memicu kekhawatiran karena dapat mengganggu keselamatan dirinya. Pengalaman tersebut kemudian menjadi pengingat bahwa vertigo tidak boleh dianggap sepele.

Dalam ceritanya, Ferry tampak ingin memberi gambaran bahwa vertigo bisa datang tanpa diduga. Ia menilai pengalaman itu menjadi pelajaran penting untuk lebih memperhatikan kondisi tubuh. Meski sudah berlalu, peristiwa tersebut masih membekas dalam ingatannya. Ia pun kini lebih berhati-hati dalam menjalani aktivitas yang berisiko.

Peringatan Dokter Soal Berkendara

Setelah menjalani pemeriksaan, Ferry mendapat masukan khusus dari dokter. Ia disebut tidak disarankan untuk berkendara jauh karena kondisi vertigo yang pernah dialaminya. Peringatan itu diberikan demi mencegah risiko yang bisa membahayakan keselamatan. Dokter menilai perjalanan jarak jauh dapat menjadi tantangan bagi orang dengan riwayat gangguan keseimbangan.

Ferry mengungkapkan bahwa dokter menjelaskan penyebab vertigo bisa berasal dari telinga maupun otak. Dalam kasusnya, ia memahami bahwa gangguan tersebut berkaitan dengan keseimbangan dari bagian telinga. Penjelasan itu membuatnya lebih mengerti sumber keluhan yang ia rasakan. Ia pun menyadari bahwa kondisi kesehatan tidak bisa diabaikan begitu saja.

Meski mendapat larangan, Ferry tetap memikirkan cara agar tidak sepenuhnya berhenti berkendara. Baginya, aktivitas di jalan masih memiliki daya tarik tersendiri. Namun ia juga menyadari bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama. Karena itu, ia berusaha menyesuaikan kebiasaan berkendara dengan kondisi tubuhnya.

Ferry menyebut salah satu cara yang ia pikirkan adalah selalu membawa obat saat bepergian. Langkah itu ia anggap sebagai antisipasi jika gejala vertigo kembali muncul di tengah perjalanan. Ia ingin tetap bisa beraktivitas tanpa mengabaikan anjuran medis. Sikap itu menunjukkan upayanya mencari keseimbangan antara hobi dan kesehatan.

Hobi Touring Masih Berlanjut

Di tengah saran dokter, Ferry masih dikenal memiliki kegemaran touring dengan motor besar. Hobi itu sudah lama menjadi bagian dari gaya hidupnya. Karena itu, larangan berkendara jauh terasa cukup berat baginya. Meski demikian, ia tetap mencoba mencari cara agar hobi tersebut tidak harus berhenti total.

Ferry mengaku tidak mudah melepaskan kebiasaan melakukan perjalanan jauh. Ia masih ingin merasakan pengalaman berkendara yang memberikan kebebasan. Namun ia memahami bahwa kondisi fisik tidak selalu mendukung keinginan tersebut. Hal itu membuatnya harus lebih bijak dalam menentukan kapan dan sejauh apa ia berkendara.

Menurut Ferry, membawa obat menjadi salah satu bentuk kewaspadaan yang realistis. Ia tidak ingin mengambil risiko berlebihan hanya demi mempertahankan kebiasaan lama. Dengan langkah pencegahan itu, ia berharap tetap bisa menikmati perjalanan dengan lebih aman. Pendekatan tersebut juga menunjukkan kesadarannya terhadap pentingnya menjaga kesehatan.

Pengalaman vertigo membuat Ferry lebih berhati-hati dalam menyikapi aktivitas favoritnya. Ia tidak menampik bahwa touring masih menyenangkan, tetapi kondisi tubuh kini menjadi pertimbangan utama. Bagi Ferry, menikmati hobi tetap bisa dilakukan selama ada batas yang jelas. Sikap itu menjadi penanda perubahan cara pandangnya setelah mengalami gangguan kesehatan.

Dukungan Istri Ferry Maryadi

Selain dokter, Ferry juga mendapat perhatian dari istrinya, Deswita Maharani. Saat mengetahui kondisinya, Deswita sempat melarang Ferry melakukan aktivitas yang terlalu berisiko. Larangan itu muncul karena kekhawatiran terhadap keselamatan suaminya. Sebagai pasangan, ia ingin Ferry lebih memprioritaskan pemulihan dan kehati-hatian.

Namun, seiring waktu, sikap Deswita mulai melunak. Ferry menyebut larangan yang awalnya tegas perlahan berubah menjadi lebih longgar. Hal itu terjadi setelah keduanya berdiskusi dan memahami situasi masing-masing. Dukungan keluarga pun tetap menjadi bagian penting dalam prosesnya menghadapi vertigo.

Ferry menjelaskan bahwa pada akhirnya mereka memilih untuk lebih tenang dalam menyikapi kebiasaan berkendara. Ia dan sang istri berusaha mencari titik tengah yang tidak merugikan kesehatan. Dengan begitu, keinginan untuk tetap aktif bisa berjalan berdampingan dengan pengawasan yang diperlukan. Komunikasi menjadi kunci agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan masalah baru.

Meski sempat dilarang, Ferry menegaskan bahwa ia kini berusaha menjalani semuanya dengan lebih santai. Ia menerima bahwa kondisi kesehatan memang perlu dihormati. Dalam ucapannya, ia menyebut bahwa pada akhirnya yang terpenting adalah tetap bahagia. Bagi Ferry, kebahagiaan itu harus berjalan seiring dengan kesadaran menjaga diri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!