Industri Satelit Indonesia Didorong Jaga Kedaulatan Data

Teknologi BRH 02 Juni 2026 04:23 WIB 3
Industri Satelit Indonesia Didorong Jaga Kedaulatan Data

Industri satelit Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tumbuh, seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas di wilayah kepulauan dan pasar Asia Pasifik yang terus berkembang. Namun, peluang itu juga diiringi ancaman dari masuknya pemain global dengan teknologi yang lebih maju, termasuk layanan satelit orbit rendah atau LEO. Di tengah persaingan tersebut, isu kedaulatan data, spektrum frekuensi, dan kontrol infrastruktur menjadi perhatian utama.

Asosiasi Satelit Indonesia menilai Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pasar bagi layanan asing. Organisasi itu mendorong agar pemerintah memperkuat strategi nasional agar industri satelit domestik tetap memiliki kendali atas layanan yang beroperasi di wilayah Indonesia. Dorongan ini muncul di tengah tren integrasi satelit dengan jaringan seluler dan arah pengembangan telekomunikasi menuju era 6G.

Kedaulatan Satelit Jadi Sorotan

Kehadiran layanan LEO menawarkan konektivitas cepat, latensi rendah, dan instalasi yang lebih mudah bagi pengguna akhir. Model bisnis ini dinilai mengubah ekspektasi pasar karena langsung menyasar konsumen tanpa ketergantungan besar pada infrastruktur darat. Kondisi tersebut membuat pemain domestik yang selama ini mengandalkan satelit GEO menghadapi tekanan baru.

Di sisi lain, persoalan kedaulatan langit Nusantara ikut menguat karena tidak hanya berkaitan dengan layanan, tetapi juga penguasaan data. Jika pengaturan tidak ketat, aliran data berpotensi keluar dari yurisdiksi nasional. Situasi ini memunculkan kekhawatiran atas kontrol terhadap data strategis yang melintasi wilayah Indonesia.

Ketua Umum ASSI, Rusdianto Yuli Hermansyah, menegaskan bahwa perkembangan teknologi global memang tidak dapat dihindari. Namun, Indonesia perlu memastikan posisi tawar yang kuat agar tidak hanya menjadi pasar. Menurut dia, kontrol atas data dan infrastruktur tetap harus berada di tangan nasional.

Tantangan Spektrum dan Orbit

Selain data, perebutan spektrum frekuensi dan slot orbit juga menjadi tantangan besar di industri satelit. Negara atau operator yang lebih dulu mengamankan sumber daya tersebut akan memiliki keunggulan kompetitif yang sulit dikejar. Karena itu, persaingan global semakin menuntut kesiapan strategi dari pelaku nasional.

ASSI menilai diperlukan orkestrasi nasional agar pengembangan konstelasi satelit berjalan selaras. Tanpa koordinasi yang baik, benturan frekuensi dan orbit antarpelaku usaha dapat terjadi. Jika hal itu berlangsung, industri dalam negeri justru bisa dirugikan oleh ketidakteraturan tata kelola.

Persoalan ini juga menegaskan pentingnya kebijakan yang adil bagi operator lokal dan global. Level playing field dibutuhkan, baik dari sisi biaya spektrum maupun kewajiban operasional. Dengan aturan yang seimbang, kompetisi dapat berlangsung sehat dan tidak merugikan kepentingan nasional.

Kapasitas Nasional Perlu Diperkuat

Untuk mengurangi ketergantungan pada pemain global, penguatan kapasitas nasional menjadi langkah yang dinilai mendesak. Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi awal melalui riset yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional. Selain itu, sejumlah operator domestik juga sudah menjalankan layanan satelit secara aktif.

Meski demikian, kemampuan end-to-end dari pembangunan hingga peluncuran satelit masih perlu ditingkatkan. Salah satu kebutuhan yang disorot adalah pengembangan fasilitas peluncuran di dalam negeri. Infrastruktur tersebut dinilai penting agar ekosistem satelit nasional lebih mandiri dan kompetitif.

Penguatan kapasitas juga dipandang penting agar Indonesia tidak tertinggal dalam inovasi teknologi ruang angkasa. Jika kemampuan produksi dan peluncuran masih bergantung pada pihak luar, daya saing industri nasional akan sulit berkembang. Karena itu, investasi pada riset, manufaktur, dan infrastruktur menjadi bagian dari agenda strategis.

Satelit Masuk Era 6G

Di tengah perkembangan jaringan terestrial dan non-terestrial atau NTN, satelit diperkirakan menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem telekomunikasi nasional. Tren ini akan semakin penting seiring arah industri menuju era 6G. Dengan demikian, satelit tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan berbagai layanan komunikasi masa depan.

Kondisi tersebut membuat isu kedaulatan tidak lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan strategis. Pemerintah dituntut menyiapkan kebijakan yang mampu melindungi kepentingan nasional sekaligus membuka ruang pertumbuhan industri. Tanpa langkah yang tepat, Indonesia berisiko menjadi penonton di pasar yang justru berkembang di wilayahnya sendiri.

Rusdianto menyebut momentum saat ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem nasional. Ia menilai Indonesia perlu bergerak cepat agar tidak tertinggal di rumah sendiri. Bagi ASSI, masa depan industri satelit akan sangat ditentukan oleh keberanian negara dalam menjaga kendali atas data, orbit, dan infrastruktur.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!