Sarden Kalengan Bukan UPF, Tapi Tetap Punya Risiko Kesehatan

Lifestyle Anindya Kirana Putri 31 Mei 2026 00:26 WIB 2
Sarden Kalengan Bukan UPF, Tapi Tetap Punya Risiko Kesehatan

Sarden kalengan belakangan ramai dibicarakan setelah disebut tidak termasuk kategori ultra processed food atau UPF. Temuan ini memunculkan anggapan bahwa produk tersebut otomatis lebih sehat dibandingkan makanan olahan lain. Padahal, penilaian sehat atau tidaknya suatu produk tidak cukup hanya dilihat dari tingkat pemrosesan. Ada sejumlah faktor lain yang turut menentukan risiko kesehatannya.

Selain kadar natrium yang relatif tinggi, sarden kalengan juga disorot karena potensi paparan BPA atau Bisphenol A. Zat ini lazim digunakan sebagai resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan. Dalam kondisi tertentu, BPA dapat bermigrasi ke bahan pangan yang tersimpan di dalamnya. Jika paparan terjadi terus-menerus dan melebihi batas aman, risikonya dapat berdampak pada kesehatan.

Sarden Kalengan dan UPF

Label non-UPF pada sarden kalengan tidak otomatis menjadikannya pilihan yang paling sehat. Sistem klasifikasi NOVA memang membantu memetakan tingkat pemrosesan makanan, tetapi bukan satu-satunya ukuran kualitas pangan. Kandungan gizi, bahan tambahan, dan cara pengemasan tetap perlu diperhitungkan. Karena itu, status non-UPF tidak boleh dipahami sebagai jaminan bebas risiko.

Dalam praktiknya, masyarakat kerap menilai makanan secara hitam-putih, seolah produk yang tidak masuk UPF pasti aman dikonsumsi bebas. Cara pandang tersebut berisiko menyesatkan karena makanan kaleng tetap dapat mengandung garam tinggi, pengawet, atau kontaminan dari kemasan. Sarden kalengan menjadi contoh bahwa kategori pangan tidak selalu sejalan dengan dampak kesehatan. Penilaian yang lebih tepat harus melihat komposisi dan frekuensi konsumsi.

Ahli kesehatan menekankan bahwa makanan olahan masih dapat dikonsumsi selama porsinya wajar dan tidak berlebihan. Namun, konsumsi rutin tanpa memperhatikan kandungan natrium dan kualitas kemasan dapat meningkatkan beban kesehatan. Pada kelompok tertentu, seperti penderita hipertensi, kehati-hatian menjadi lebih penting. Dengan demikian, pemahaman konsumen perlu diarahkan pada evaluasi menyeluruh, bukan hanya label pemrosesan.

Natrium dan BPA Mengintai

Salah satu perhatian utama pada sarden kalengan adalah kandungan natriumnya yang cenderung tinggi. Asupan natrium berlebih dapat berkontribusi terhadap tekanan darah tinggi dan memperberat kerja jantung. Risiko ini menjadi lebih besar bila konsumsi dilakukan secara rutin. Karena itu, sarden kalengan sebaiknya tidak dijadikan sumber protein harian tanpa pertimbangan.

Di sisi lain, BPA pada lapisan kaleng juga menjadi isu kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Zat ini digunakan agar makanan tidak langsung bersentuhan dengan material logam pada kemasan. Namun, pemanasan, penyimpanan yang lama, atau kerusakan kaleng dapat memicu pelepasan partikel ke makanan. Kondisi tersebut meningkatkan peluang paparan BPA ke tubuh.

Meski demikian, tidak semua paparan BPA langsung menimbulkan gangguan kesehatan yang nyata. Besarnya risiko sangat bergantung pada kadar, durasi paparan, dan kondisi tubuh seseorang. Paparan yang melewati batas tertentu baru menjadi perhatian serius dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, konsumen tetap perlu memahami bahwa masalah pada makanan kaleng bukan hanya soal rasa dan kepraktisan.

Hasil Riset Soal BPA

Risiko migrasi BPA dari kaleng makanan pernah diteliti dalam riset yang dipublikasikan di Jurnal Keteknikan Pertanian pada 2023. Hasil penelitian tersebut menemukan adanya migrasi partikel BPA dalam kadar kecil. Nilainya masih berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 μg/kgBB/hari. Temuan ini menunjukkan bahwa paparan pada batas tertentu masih dianggap aman menurut regulasi.

Walau berada di bawah ambang aman, para peneliti tetap menyoroti perlunya kehati-hatian. Paparan kecil yang terjadi berulang kali berpotensi menumpuk dalam jangka panjang. Kekhawatiran ini muncul karena BPA kerap dikaitkan dengan gangguan hormonal dan metabolik. Dalam beberapa kajian, paparan berlebih juga dihubungkan dengan peningkatan risiko penyakit tertentu.

Situasi tersebut membuat isu BPA pada kemasan makanan tetap relevan dibahas. Konsumen tidak cukup hanya memilih produk yang praktis, tetapi juga perlu memperhatikan keamanan kemasannya. Produsen pun dituntut menjaga kualitas lapisan kaleng agar migrasi zat berbahaya dapat ditekan. Dengan pengawasan yang baik, risiko dari makanan kaleng bisa diminimalkan.

Bijak Mengonsumsi Sarden

Praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, menilai konsumsi makanan yang tercemar BPA secara terus-menerus dapat mengganggu kesehatan. Menurut dia, dampaknya dapat berkaitan dengan kesehatan metabolik, gangguan hormonal, hingga risiko kanker. Pandangan ini menegaskan bahwa faktor kemasan sama pentingnya dengan isi produk. Karena itu, konsumsi sarden kalengan perlu ditempatkan secara proporsional.

Masyarakat disarankan membatasi frekuensi konsumsi sarden kalengan, terutama bila menu harian sudah tinggi garam. Pilihan produk dengan kemasan yang baik, kaleng tidak rusak, dan masa kedaluwarsa yang jelas menjadi langkah sederhana untuk mengurangi risiko. Setelah kaleng dibuka, makanan sebaiknya segera dipindahkan ke wadah lain jika tidak langsung habis. Langkah kecil ini dapat membantu meminimalkan paparan yang tidak diinginkan.

Pada akhirnya, sarden kalengan tetap bisa menjadi sumber protein yang praktis, tetapi bukan tanpa catatan. Status non-UPF tidak otomatis menghapus potensi masalah dari natrium dan BPA. Konsumen perlu membaca label, memperhatikan porsi, dan tidak mengonsumsi secara berlebihan. Dengan sikap bijak, manfaatnya tetap bisa diperoleh tanpa mengabaikan aspek keamanan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!