Pertamina UMK Academy 2025 Bekali Pelaku Usaha Naik Kelas

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 02 Juni 2026 08:46 WIB 2
Pertamina UMK Academy 2025 Bekali Pelaku Usaha Naik Kelas

Ratusan pelaku usaha mikro dan kecil mengikuti pelatihan tematik dalam program Pertamina UMK Academy 2025. Kegiatan ini digelar untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan memperkuat daya saing peserta di berbagai sektor usaha. Pertamina menargetkan program tersebut dapat membantu UMK naik kelas lebih cepat melalui pendampingan yang lebih spesifik.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, perusahaan terus berinovasi agar program UMK Academy memberi manfaat yang lebih nyata. Salah satu langkahnya adalah menghadirkan pelatihan tematik sesuai bidang usaha peserta, mulai dari craft, furniture, jewelry, food and beverage, agribisnis, jasa, teknologi, fashion, hingga wastra. Baron menegaskan, pendekatan ini dirancang agar pelaku usaha memperoleh bekal yang lebih relevan untuk mengembangkan bisnisnya.

Pelatihan Tematik UMK Pertamina

Baron menjelaskan, pelatihan yang diberikan tidak hanya berisi teori, tetapi juga praktik langsung bersama mentor ahli di bidang masing-masing. Peserta memperoleh materi yang lebih terarah sesuai karakter sektor usaha, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Untuk kelas fesyen, misalnya, peserta mendapat pembahasan tentang tren mode, manajemen rantai pasok, dan strategi pengembangan produk.

Menurut dia, pelatihan tematik membantu UMK fokus dalam mengembangkan usahanya. Dengan bekal yang lebih spesifik, peserta diharapkan mampu memperkuat posisi bisnis di pasar. Pertamina menilai, penguatan kapasitas semacam ini penting agar UMK siap bersaing dan menjadi pemimpin pasar di sektornya.

Sejumlah pemateri profesional hadir dalam program tersebut, di antaranya pendiri dan Direktur Kreatif Pyo Jewelry Luthfia Fataty. Hadir pula pemilik Panda Food Stenly Hendi Avanda, pendiri Sirtanio Organik Indonesia dan Satu Atap Coworking Space Surabaya Ahmad Tessario, serta pengamat mode sekaligus pendiri Indonesia Fashion Chamber Lisa Fitria. Kehadiran para praktisi ini memperkaya wawasan peserta dengan pengalaman langsung dari lapangan.

Luthfia membawakan materi untuk sektor craft, furniture, dan jewelry dengan membahas arah tren pasar tahun 2026. Sementara itu, Stenly mengulas distribusi, promosi, dan pengembangan produk di sektor F&B, termasuk pentingnya memaksimalkan media sosial. Materi yang diberikan diarahkan agar pelaku UMK mampu membaca peluang bisnis secara lebih tajam.

Wawasan Praktis Bagi Peserta

Salah satu peserta, Novita Hermawan, owner Agrominafiber, menilai pelatihan ini membuka wawasan baru tentang tren desain global, manajemen bisnis, dan pemasaran digital. Ia menyebut materi yang diterima sangat membantu dalam memahami kebutuhan pasar yang terus berubah. Menurut Novita, pelatihan ini juga mendukung peningkatan kapasitas UMKM agar mampu menghasilkan produk berdaya saing internasional.

Peserta lain, pemilik Dara Baro, Dimita Agustin, mengaku kini lebih memahami cara menghitung ongkos produksi secara efisien setelah mengikuti kelas fesyen. Ia juga mendapat penjelasan mengenai perbedaan katalog, lookbook, dan line sheet, serta penerapannya dalam pemasaran. Bagi Dimita, kelas tersebut bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga membuka peluang baru untuk pengembangan merek usahanya.

Sementara itu, Achmad Em, owner Kopi Kalimantan, memperoleh wawasan baru tentang strategi pengembangan brand, inovasi produk, dan pengelolaan sumber daya manusia. Materi tersebut ia dapatkan melalui kelas tematik F&B yang menyoroti kebutuhan usaha di tengah persaingan pasar kopi yang semakin ketat. Achmad menilai pengetahuan itu akan membantu meningkatkan daya saing produknya.

Berbagai testimoni tersebut menunjukkan pelatihan tematik bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang belajar yang memberi dampak langsung bagi peserta. Pendekatan berbasis sektor dinilai membuat peserta lebih mudah menerapkan materi ke usaha masing-masing. Hal itu menjadi nilai tambah dalam proses pengembangan UMK secara berkelanjutan.

Dukungan Ekonomi Inklusif

Program UMK Academy 2025 disebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk memperkuat industri kreatif dan mendorong kewirausahaan. Pertamina menilai penguatan pelaku UMK merupakan bagian penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Karena itu, program ini terus dikembangkan agar jangkauannya semakin luas dan manfaatnya semakin besar.

Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari upaya perusahaan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Pertamina melihat pelaku UMK memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi daerah. Dengan dukungan yang tepat, UMK diharapkan mampu tumbuh lebih adaptif terhadap perubahan pasar.

Pelatihan tematik dalam UMK Academy 2025 memperlihatkan bahwa penguatan kapasitas usaha kecil membutuhkan pendekatan yang praktis dan terarah. Materi yang disesuaikan dengan sektor usaha membuat peserta lebih mudah memahami tantangan dan peluang yang dihadapi. Model pembinaan seperti ini dinilai relevan untuk mempercepat peningkatan daya saing UMK.

Melalui program tersebut, Pertamina menegaskan komitmennya dalam mendampingi pelaku usaha agar mampu berkembang secara berkelanjutan. Dorongan terhadap kualitas produk, pemasaran, dan manajemen usaha diharapkan menghasilkan UMK yang lebih tangguh. Pada akhirnya, penguatan itu ditujukan untuk menciptakan ekosistem usaha yang lebih produktif dan kompetitif.

Harapan Naik Kelas UMK

Pertamina berharap pelatihan tematik dapat menjadi pintu masuk bagi UMK untuk memperluas pasar dan meningkatkan kualitas usaha. Dengan wawasan yang lebih spesifik, peserta diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh di tengah persaingan yang semakin ketat. Program ini menjadi salah satu strategi untuk mempercepat proses naik kelas bagi pelaku usaha mikro dan kecil.

Selain menambah pengetahuan, pelatihan ini juga mendorong peserta membangun jejaring dengan mentor dan sesama pelaku usaha. Interaksi tersebut memberi peluang kolaborasi dan pertukaran pengalaman yang bermanfaat bagi pengembangan bisnis. Dalam jangka panjang, jejaring semacam ini dapat memperkuat ekosistem UMK di berbagai sektor.

Fokus pada pembelajaran praktis membuat program ini dinilai lebih dekat dengan kebutuhan riil pelaku usaha. Peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga contoh penerapan yang bisa langsung digunakan dalam bisnis. Pendekatan tersebut menjadi penting agar pelatihan benar-benar menghasilkan perubahan yang terukur.

Dengan dukungan berkelanjutan dari dunia usaha dan pemerintah, pelaku UMK memiliki peluang lebih besar untuk berkembang ke level berikutnya. Program seperti UMK Academy 2025 memperlihatkan bahwa penguatan usaha kecil dapat dilakukan melalui pembinaan yang konsisten dan relevan. Dari situ, harapan untuk melahirkan UMK yang mandiri dan kompetitif kian terbuka lebar.

Peran Strategis Pertamina

Pertamina menempatkan pengembangan UMK sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan yang selaras dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Fokus tersebut tidak hanya menyasar peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga memperkuat ekosistem kewirausahaan di Indonesia. Melalui pendekatan ini, perusahaan ingin memastikan dukungan yang diberikan membawa dampak jangka panjang.

Program UMK Academy 2025 menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan usaha kecil membutuhkan kombinasi antara pengetahuan, praktik, dan akses jejaring. Ketiga unsur itu dinilai mampu membantu peserta memahami pasar dengan lebih baik. Pertamina berharap model pembinaan ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pelaku usaha.

Di tengah perubahan perilaku konsumen dan persaingan bisnis yang semakin dinamis, pelaku UMK dituntut semakin adaptif. Pelatihan tematik memberi ruang bagi mereka untuk mempelajari strategi yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan begitu, usaha yang dijalankan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk berkembang.

Melalui UMK Academy 2025, Pertamina menegaskan komitmennya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Program ini tidak hanya mendorong peningkatan kompetensi, tetapi juga memperkuat optimisme pelaku usaha untuk terus berkembang. Bagi banyak peserta, pelatihan ini menjadi langkah awal menuju bisnis yang lebih matang dan berdaya saing tinggi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!