Rupiah Terancam Tembus Rp18.000, Tekanan Berlanjut Pekan Depan

Forex & Saham Gilang Nabaris 02 Juni 2026 10:14 WIB 2
Rupiah Terancam Tembus Rp18.000, Tekanan Berlanjut Pekan Depan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih berada di bawah tekanan hingga pekan depan. Sejumlah analis menilai kurs mata uang Garuda berpeluang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan itu dapat terjadi mulai akhir pekan ini hingga pekan depan, dengan potensi bergerak ke area Rp18.200 per dolar AS. Senada, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai sentimen pasar saat ini belum mendukung penguatan rupiah.

Tekanan Rupiah Meningkat

Ibrahim menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor teknikal, tetapi juga persoalan struktural dalam perekonomian nasional. Menurutnya, defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi menjadi salah satu sumber tekanan utama.

Ia menjelaskan, kebutuhan dolar untuk impor minyak mentah saat harga energi global masih tinggi membuat beban pemerintah semakin besar. Kondisi itu, kata dia, ikut memperlebar tekanan terhadap rupiah karena cadangan devisa harus terserap lebih banyak.

Selain itu, permintaan dolar di dalam negeri juga meningkat seiring kewajiban pembagian dividen oleh sejumlah perusahaan asing di Indonesia. Situasi tersebut membuat suplai dolar semakin ketat dan mendorong pelemahan rupiah lebih lanjut.

Faktor Fundamental Menekan

Bhima menilai pelemahan rupiah juga berkaitan dengan kondisi fiskal domestik yang masih menjadi perhatian investor. Kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit APBN membuat pasar cenderung bersikap hati-hati.

Menurutnya, beban subsidi energi dan program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar turut memengaruhi persepsi pelaku pasar. Dalam pandangan investor, tekanan fiskal yang meningkat dapat mengurangi ruang stabilisasi ekonomi dalam jangka menengah.

Bhima juga menyoroti bahwa pasar masih menunggu efektivitas kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya terukur. Jika persepsi risiko terus membesar, maka modal asing berpotensi semakin menahan masuk ke Indonesia.

Kebijakan Investor Jadi Sorotan

Sejumlah kebijakan terbaru, termasuk rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia, disebut ikut menambah kegelisahan investor. Ibrahim menilai kebijakan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kepastian regulasi dan kelancaran kontrak usaha yang sudah berjalan.

Ia mengakui tujuan kebijakan itu dapat membantu menekan praktik ekspor ilegal seperti transfer pricing dan under invoicing. Namun, peluncurannya yang dinilai terlalu cepat membuat pelaku usaha belum memiliki cukup waktu untuk menyesuaikan diri.

Bhima juga berpendapat bahwa perubahan kebijakan yang berlangsung cepat dapat menurunkan minat investasi. Tanpa sosialisasi yang memadai, investor asing cenderung membaca Indonesia sebagai negara yang masih memiliki risiko kebijakan tinggi.

Risiko Psikologis Dolar

Ibrahim memperkirakan jika rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, tekanan lanjutan bisa bergerak lebih cepat menuju Rp18.200. Ia bahkan menyebut ada peluang pelemahan berlanjut ke level yang lebih tinggi apabila batas psikologis itu benar-benar ditembus.

Bhima menilai area Rp18.000 merupakan titik penting yang bisa mengubah arah perilaku pasar secara signifikan. Setelah level tersebut dilewati, pelemahan rupiah berisiko bergerak lebih agresif karena pasar kehilangan jangkar psikologis.

Di tengah kondisi itu, investor disebut cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Selama ketidakpastian global dan domestik belum mereda, rupiah diperkirakan masih rentan terhadap tekanan lanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!