Sarden Kalengan Disebut Bukan UPF, Ini Penjelasan Risikonya

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 11:35 WIB 2
Sarden Kalengan Disebut Bukan UPF, Ini Penjelasan Risikonya

Sarden kalengan mendadak menjadi perbincangan karena disebut bukan termasuk ultra processed food atau UPF. Namun, klaim itu tidak otomatis membuat produk ini lebih sehat, sebab penilaian gizi tidak hanya bergantung pada tingkat pemrosesan.

Risiko kesehatan sarden kalengan tetap perlu dilihat dari sejumlah faktor, mulai dari kandungan natrium hingga kemungkinan paparan BPA dari kemasan. Para pakar mengingatkan bahwa konsumsi aman harus mempertimbangkan komposisi, frekuensi makan, dan kondisi penyimpanan produk.

Sarden Kalengan dan UPF

Sarden kalengan kerap disalahpahami ketika masuk pembahasan soal klasifikasi makanan. Label non-UPF tidak otomatis berarti produk tersebut bebas risiko bagi kesehatan.

Sistem klasifikasi NOVA memang menilai makanan berdasarkan tingkat pemrosesan. Meski demikian, status itu bukan satu-satunya dasar untuk menilai apakah suatu produk tergolong sehat.

Dalam kasus sarden kalengan, perhatian utama tetap tertuju pada kandungan gizi dan bahan tambahan yang digunakan. Karena itu, masyarakat perlu membaca label kemasan sebelum menjadikannya konsumsi rutin.

Risiko BPA pada Kaleng

Selain natrium yang tinggi, sarden kalengan juga disorot karena potensi paparan BPA atau Bisphenol A. Zat ini digunakan dalam resin epoksi untuk melapisi bagian dalam kaleng makanan.

Lapisan tersebut berfungsi melindungi makanan dari kontak langsung dengan logam. Akan tetapi, pada kondisi tertentu seperti pemanasan atau kerusakan, BPA dapat bermigrasi ke dalam bahan pangan.

Jika paparan berlangsung melebihi batas aman, risiko gangguan kesehatan bisa meningkat. Karena itu, cara penyimpanan dan kondisi kemasan perlu diperhatikan dengan serius.

Temuan Penelitian Terkini

Risiko migrasi BPA dari kemasan makanan telah diteliti dalam berbagai kajian, termasuk riset yang dipublikasikan di Jurnal Keteknikan Pertanian pada 2023. Hasil penelitian itu menunjukkan migrasi BPA ditemukan dalam kadar kecil.

Kadar tersebut masih berada di bawah Tolerable Daily Intake atau TDI sebesar 4 μg/kgBB/hari. Artinya, berdasarkan ambang regulasi, paparan itu belum dianggap melewati batas yang membahayakan.

Meski demikian, para peneliti tetap menekankan perlunya kehati-hatian. Paparan kecil yang terjadi terus-menerus berpotensi menambah beban akumulasi dalam jangka panjang.

Dampak Kesehatan Jangka Panjang

Praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, menjelaskan bahwa paparan BPA yang terus berlangsung dapat mengganggu kesehatan. Dampaknya terutama dikaitkan dengan kesehatan metabolik, gangguan hormonal, hingga risiko kanker.

Gangguan metabolik dapat muncul ketika pola konsumsi tidak diimbangi dengan pemilihan makanan yang lebih aman. Dalam jangka panjang, paparan dari berbagai sumber juga dapat memperbesar kekhawatiran kesehatan masyarakat.

Karena itu, sarden kalengan sebaiknya dikonsumsi secara bijak, bukan dijadikan menu harian tanpa kontrol. Memilih produk, memperhatikan label, dan menjaga frekuensi konsumsi menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!