Batagor Gembira Depok Bertahan dari Generasi ke Generasi

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 12:35 WIB 3
Batagor Gembira Depok Bertahan dari Generasi ke Generasi

Pasangan suami istri Endi Sunarya dan Imas Nurlaela berhasil melanjutkan usaha Batagor Gembira yang dirintis orang tua Imas sejak 1986. Dari usaha kecil di Depok, bisnis kuliner ini tumbuh menjadi 10 cabang dan mempekerjakan 12 karyawan.

Perjalanan Batagor Gembira berawal dari keberanian orang tua Imas merantau dari Garut ke ibu kota untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Dengan modal kerja keras dan ketekunan, usaha batagor yang semula sederhana itu kini menjadi salah satu kuliner legendaris di Depok.

Asal-usul Batagor Gembira

Sebelum dikenal sebagai penjual batagor, ayah Imas, Memed, sudah akrab dengan dunia kuliner jalanan. Ia sempat berjualan siomay keliling untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketika batagor mulai populer pada 1986, Memed melihat peluang yang lebih menjanjikan. Ia lalu beralih menjual batagor dan menetap di dekat kantor PLN Depok, Jalan Mekar Jaya.

Lokasi itu menjadi saksi awal pertumbuhan Batagor Gembira dari usaha keluarga yang dikerjakan dengan penuh kesederhanaan. Dari tempat itulah nama besar mereka mulai dikenal pelanggan sekitar.

Nama dari Pelanggan

Nama Batagor Gembira bukan berasal dari keluarga, melainkan dari para pelanggan, terutama mahasiswa Universitas Indonesia. Mereka kerap singgah dan berkumpul di lapak itu hingga larut malam.

Menurut Imas, para mahasiswa kerap menyebut tempat itu sebagai lokasi kumpul yang menyenangkan. Ungkapan spontan mereka kemudian melekat dan menjadi identitas usaha hingga sekarang.

Nama tersebut dipilih karena menggambarkan suasana lapak yang akrab dan penuh canda. Dari sana, Batagor Gembira semakin mudah diingat oleh pelanggan lama maupun baru.

Perkembangan Cabang Usaha

Seiring meningkatnya pelanggan di cabang pertama, keluarga ini memberanikan diri membuka cabang kedua pada 2010. Lokasinya berada di pinggir Jalan Tole Iskandar, Mekar Jaya, Sukmajaya, Depok.

Pembukaan cabang baru menandai bahwa usaha tersebut tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai berkembang. Kehadiran cabang kedua juga memperluas jangkauan pembeli dari berbagai wilayah.

Perlahan, jaringan usaha itu terus bertambah hingga kini mencapai 10 cabang. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat kuat di tengah persaingan usaha makanan.

Peran Generasi Penerus

Pada 2011, Imas mulai ikut membantu produksi batagor di rumah. Sesekali ia juga turun langsung melayani pembeli saat usaha sedang ramai.

Keterlibatan Imas menjadi penanda penting dalam transisi usaha keluarga ke generasi berikutnya. Ia tidak hanya membantu operasional, tetapi juga menjaga kualitas yang telah dibangun orang tuanya.

Kerja keras keluarga itu membuahkan hasil nyata ketika orang tua Imas bisa berangkat haji pada 2016. Bagi Imas, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa usaha kecil yang dikelola dengan tekun dapat mengubah kehidupan keluarga.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!