BRIN Soroti Saturasi Pendapatan Operator Telko

Teknologi Moh. Royhan Nahado 02 Juni 2026 13:54 WIB 5
BRIN Soroti Saturasi Pendapatan Operator Telko

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menilai pendapatan operator telekomunikasi di Indonesia mulai mengalami saturasi. Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyebut pertumbuhan industri telekomunikasi hanya sekitar 1,2 persen berdasarkan analisis PwC hingga proyeksi 2032.

Pernyataan itu disampaikan dalam webinar PODCAST#1 Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi, bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia, pada Rabu, 20 Mei 2026. Dalam forum tersebut, BRIN menilai operator perlu menekan biaya energi sekaligus mencari sumber pendapatan baru agar bisnis tetap bertumbuh.

Telekomunikasi dan Pendapatan

Dr Mardi menjelaskan, pertumbuhan pendapatan industri telekomunikasi yang sangat rendah menunjukkan tekanan besar pada model bisnis operator. Legacy services seperti telepon dan SMS kini sudah jauh berkurang penggunaannya.

Menurut dia, operator perlu agresif menggenjot penjualan dengan menghadirkan paket yang lebih menarik. Langkah itu dibutuhkan agar pendapatan tidak hanya bergantung pada layanan lama yang terus menyusut.

Ia merujuk pada hasil riset PricewaterhouseCoopers yang menunjukkan sejarah pendapatan industri pada 2021 hingga proyeksi 2032 hanya naik 1,2 persen. Kondisi ini menandakan pasar telekomunikasi telah memasuki fase matang dengan ruang pertumbuhan yang terbatas.

Karena itu, strategi yang lebih adaptif dinilai menjadi keharusan bagi operator di Indonesia. Tanpa inovasi layanan, tekanan terhadap revenue akan semakin berat di tengah perubahan perilaku pelanggan.

Biaya Energi Operator

Selain pendapatan, Dr Mardi menyoroti pentingnya efisiensi biaya energi dalam operasi jaringan. Ia menyebut cost of energy mencakup sekitar 20 persen dari total operational cost operator telekomunikasi.

Dari porsi tersebut, sekitar 90 persen digunakan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Artinya, pengeluaran energi menjadi salah satu beban terbesar yang langsung memengaruhi margin usaha.

Efisiensi energi, kata dia, tidak lagi bisa dipandang sebagai upaya tambahan. Bagi operator, penghematan pada pos ini akan berdampak langsung pada kemampuan menjaga profitabilitas.

Dengan tekanan pendapatan yang stagnan, pengelolaan biaya menjadi faktor penentu daya saing. Operator yang mampu menekan biaya energi berpeluang menjaga kinerja bisnis lebih stabil.

Potensi Energi Terbarukan

Analisis McKinsey yang dikutip Dr Mardi menyebut terdapat empat pendorong utama untuk menurunkan biaya energi. Keempatnya adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri.

Dari seluruh faktor tersebut, ia menilai potensi penghematan terbesar berasal dari penggunaan energi hijau. Operator dapat melakukan purchasing atau membangun pembangkit energi terbarukan untuk mendukung jaringan telekomunikasi.

Beberapa opsi yang disebut antara lain solar PV, wind turbine, micro hydro kinetic, dan sumber lain yang sesuai karakteristik lokasi. Pemilihan teknologi dinilai harus menyesuaikan profil site agar efisien dan berkelanjutan.

Dr Mardi menilai pendekatan tersebut dapat memberikan manfaat ganda bagi operator. Selain menekan biaya, penggunaan energi terbarukan juga mendukung target pengurangan emisi di sektor telekomunikasi.

Tantangan Implementasi Telko

Meski peluangnya besar, implementasi energi terbarukan di jaringan telekomunikasi Indonesia belum berjalan luas. Dr Mardi mempertanyakan alasan operator belum mengadopsinya secara menyeluruh hingga kini.

Ia mengingat riset mengenai penerapan energi terbarukan di sektor ini sebenarnya telah dimulai sejak 2010. Saat itu, Telkom Indonesia pernah menjalankan pilot project instalasi renewable energy di Kalimantan dan Sumatera.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa teknologi dan gagasan dasarnya sudah tersedia sejak lama. Namun, proses adopsi massal tampaknya masih tertahan oleh berbagai hambatan operasional dan bisnis.

Menurut dia, pertanyaan utama saat ini bukan lagi soal apakah energi terbarukan dibutuhkan, melainkan mengapa implementasinya belum meluas. Jika hambatan dapat diatasi, operator berpeluang memperoleh efisiensi yang lebih signifikan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!