PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025, dengan laba bersih Rp17,8 triliun dan margin 12,1 persen. Kinerja ini ditopang strategi transformasi, penguatan tata kelola, serta ekspansi bisnis digital di tengah tekanan makroekonomi dan persaingan industri telekomunikasi.
Perseroan juga membukukan normalized net income Rp22,7 triliun, normalized EBITDA Rp73,2 triliun, serta total shareholder return 35,7 persen sepanjang 2025. Capaian tersebut mencerminkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi TLKM 30 dan kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham.
Transformasi Telkom TLKM 30
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui TLKM 30, Telkom menata arah bisnis agar lebih terstruktur, efisien, dan berdaya saing global.
Strategi tersebut disusun untuk mempercepat visi Telkom sebagai penggerak ekosistem digital nasional. Perseroan juga menargetkan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Dalam kerangka ini, Telkom menempatkan disiplin operasional, penguatan layanan, dan penyederhanaan portofolio sebagai fondasi utama. Langkah tersebut menjadi respons atas perubahan industri yang semakin cepat dan kompetitif.
Pilar utama transformasi
TLKM 30 bertumpu pada empat pilar utama yang mencakup Operational and Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi shift. Masing-masing pilar dirancang untuk memperkuat efisiensi sekaligus membuka ruang pertumbuhan baru.
Pilar Operational and Service Excellence berfokus pada tata kelola, budaya kerja, dan peningkatan kualitas layanan. Sementara Streamlining diarahkan untuk menata portofolio non-core business agar kontribusinya lebih optimal.
Pilar Unlock Value menitikberatkan pada penguatan fondasi infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Adapun Modus-operandi shift membawa Telkom dari operating holding menjadi strategic holding yang lebih fokus pada sinergi dan tata kelola.
Kinerja bisnis TelkomGroup
Segmen B2C masih menjadi kontributor utama pendapatan, dengan Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun. Trafik data naik 15 persen secara tahunan, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital.
Di segmen B2B Infrastructure, pendapatan mencapai Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong bisnis data center dan ekspansi fiber yang menopang perluasan layanan infrastruktur digital nasional.
Sementara itu, segmen B2B ICT mencatat pendapatan Rp15,3 triliun, sedangkan bisnis Wholesale & International Service membukukan Rp10,7 triliun. TelkomGroup juga memperkuat jaringan global melalui keikutsertaan Telin dalam 27 sistem kabel laut internasional.
Belanja modal dan prospek
Pada 2025, TelkomGroup merealisasikan belanja modal Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen dari belanja modal tersebut dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International.
Perseroan menilai disiplin investasi menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Selain itu, program divestasi dan penguatan aset digital diharapkan semakin meningkatkan efisiensi dan nilai perusahaan.
Dengan fondasi kinerja yang stabil, Telkom menyatakan siap melanjutkan eksekusi transformasi pada 2026. Perseroan optimistis dapat memperkuat daya saing, menjaga kinerja operasional, dan memberikan manfaat optimal bagi pemegang saham.
