Ubi Ungu Disarankan untuk Olahan Viral, Ini Alasannya

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 10:19 WIB 2
Ubi Ungu Disarankan untuk Olahan Viral, Ini Alasannya

Olahan ubi kembali populer di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi cream cheese dengan berbagai topping kekinian. Di tengah tren tersebut, dokter gizi menyarankan masyarakat memilih ubi ungu sebagai salah satu opsi yang lebih menyehatkan. Kandungan antosianin di dalamnya dinilai memberi nilai tambah bagi kesehatan.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa warna ungu pada ubi berasal dari pigmen alami antosianin. Senyawa ini juga banyak ditemukan pada blueberry dan anggur ungu. Menurutnya, ubi ungu layak dipertimbangkan karena mengandung antioksidan yang relatif tinggi.

Manfaat Ubi Ungu

Ubi ungu menjadi sorotan karena dinilai memiliki profil gizi yang menarik. Di antara berbagai jenis ubi yang beredar, opsi ini dianggap lebih unggul dari sisi kandungan antioksidan. Hal tersebut membuatnya banyak dibahas sebagai bahan pangan yang lebih fungsional.

Dr Tjandra menyebut ubi ungu sebagai jenis ubi yang direkomendasikan. Ia menilai kandungan antosianinnya cukup tinggi dibandingkan jenis ubi lain. Zat ini dikenal memiliki potensi anti-inflamasi yang bermanfaat bagi tubuh.

Antosianin merupakan zat warna alami yang kaya flavonoid dan polifenol. Keduanya berperan sebagai senyawa antioksidan yang membantu melawan radikal bebas. Dalam konteks pola makan sehat, kandungan ini menjadi nilai tambah penting.

Temuan tersebut sejalan dengan sejumlah tinjauan ilmiah yang membahas manfaat ubi ungu. Selain memberi warna khas, pigmen alaminya juga terkait dengan manfaat kesehatan. Karena itu, ubi ungu kerap dipilih sebagai alternatif camilan yang lebih baik.

Kandungan Antosianin Ubi

Menurut ulasan yang dipublikasikan dalam jurnal Molecules tahun 2019, kandungan antosianin pada ubi ungu dapat mencapai 218 hingga 244 mg per 100 gram. Besaran itu dipengaruhi oleh varietas dan metode pengolahan. Artinya, cara memasak dapat memengaruhi jumlah senyawa aktif yang tersisa.

Antosianin pada ubi ungu tidak hanya memberi warna menarik. Senyawa ini juga dikaitkan dengan aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi. Dalam jangka panjang, sifat tersebut berpotensi mendukung kesehatan metabolik.

Peran antioksidan penting untuk membantu tubuh menghadapi stres oksidatif. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan. Karena itu, makanan dengan kandungan antosianin tinggi mendapat perhatian lebih dalam dunia gizi.

Ubi ungu juga relatif mudah diolah menjadi berbagai menu. Namun, nilai gizinya tetap bergantung pada bahan tambahan yang digunakan. Semakin sederhana pengolahannya, semakin besar peluang manfaat alaminya tetap terjaga.

Ubi Ungu bagi Risiko Penyakit

dr Tjandra menilai ubi ungu bermanfaat bagi orang yang berisiko mengalami penyakit tidak menular. Contohnya adalah diabetes dan hipertensi yang jumlah penderitanya terus menjadi perhatian. Dalam pola makan seimbang, ubi ungu dapat menjadi pilihan karbohidrat yang lebih bijak.

Kandungan antosianin diyakini mendukung tubuh dalam menghadapi peradangan. Selain itu, sifat antioksidannya membantu menjaga sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Kombinasi ini membuat ubi ungu relevan untuk konsumen yang ingin menjaga kesehatan jangka panjang.

Bagi kelompok dengan risiko metabolik, pilihan makanan sehari-hari sangat menentukan. Pangan dengan indeks kesehatan yang lebih baik dapat membantu mendukung pengaturan asupan. Ubi ungu menjadi salah satu bahan yang mudah ditemui dan fleksibel diolah.

Meski demikian, manfaat tersebut bukan berarti ubi ungu dapat menggantikan terapi medis. Makanan sehat tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari pola hidup menyeluruh. Karena itu, konsumen tetap perlu memperhatikan keseimbangan menu harian.

Bijak Mengolah Ubi Ungu

Manfaat ubi ungu bisa berkurang jika ditambahkan topping tinggi gula dan lemak jenuh secara berlebihan. Topping seperti krim manis, saus gula, atau keju berlebihan dapat menaikkan kalori secara signifikan. Akibatnya, olahan yang semula sehat justru berubah menjadi kurang seimbang.

dr Tjandra mengingatkan masyarakat untuk tetap bijak saat memilih pelengkap. Porsi juga perlu diperhatikan agar konsumsi tidak berlebihan. Langkah sederhana ini penting untuk menjaga ubi ungu tetap menjadi pilihan yang sehat.

Pilihan pengolahan yang lebih baik adalah memanggang, mengukus, atau menyajikannya dengan tambahan minimal. Cara tersebut membantu mempertahankan karakter alami ubi ungu. Selain itu, rasa manis alaminya tetap bisa dinikmati tanpa tambahan berlebih.

Tren ubi yang viral di media sosial dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk membiasakan pola makan lebih sehat. Namun, popularitas menu tidak boleh mengalahkan prinsip gizi seimbang. Dengan pengolahan yang tepat, ubi ungu bisa menjadi camilan yang lezat sekaligus bermanfaat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!