Kanker merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan dan gaya hidup sehari-hari. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan tertentu dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker pada jenis tertentu.
Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menegaskan bahwa sebagian besar faktor risiko kanker pada orang dewasa berasal dari lingkungan dan kebiasaan. Karena itu, memahami pemicu dari sisi makanan menjadi langkah penting untuk pencegahan sejak dini.
Makanan Pemicu Risiko Kanker
Dikutip dari berbagai sumber kesehatan, ada beberapa jenis makanan yang dinilai dapat meningkatkan risiko kanker secara langsung maupun tidak langsung. Dampaknya bisa muncul melalui pembentukan zat karsinogen, obesitas, atau diabetes tipe 2.
Makanan tersebut tidak selalu menyebabkan kanker secara instan, tetapi dapat memperbesar peluang terjadinya kerusakan sel dalam jangka panjang. Risiko ini menjadi lebih tinggi ketika pola konsumsi buruk dilakukan terus-menerus tanpa diimbangi gaya hidup sehat.
Para ahli menekankan pentingnya membatasi asupan makanan yang diproses berlebihan, digoreng dengan suhu tinggi, atau mengandung gula serta karbohidrat olahan. Kebiasaan makan seperti ini kerap menjadi pintu masuk bagi peradangan dan stres oksidatif dalam tubuh.
Di sisi lain, pemilihan bahan makanan yang lebih segar, utuh, dan minim pengolahan dapat membantu menekan risiko tersebut. Langkah sederhana ini dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan kanker yang lebih efektif.
Daging Olahan dan Gorengan
Daging olahan seperti sosis, kornet, ham, dan hot dog diketahui mengandung zat yang berpotensi karsinogenik. Proses pengawetan dengan nitrit dan pengasapan dapat memicu terbentuknya senyawa berbahaya di dalam makanan.
Selain itu, makanan yang digoreng dengan suhu tinggi juga dapat menghasilkan akrilamida, terutama pada bahan bertepung seperti kentang goreng dan keripik. Senyawa ini telah dikaitkan dengan kerusakan DNA dalam berbagai studi laboratorium.
Jika dikonsumsi terlalu sering, makanan gorengan juga berkontribusi pada obesitas dan diabetes tipe 2. Kedua kondisi tersebut dikenal dapat memicu peradangan kronis yang memperbesar risiko kanker.
Untuk menurunkan risikonya, masyarakat disarankan membatasi konsumsi daging olahan dan memilih metode memasak yang lebih aman. Merebus perlahan, memasak dengan panci presto, atau menggunakan suhu rendah dapat menjadi alternatif yang lebih baik.
Masakan Terlalu Matang
Makanan yang dimasak terlalu lama, terutama daging, dapat menghasilkan senyawa PAH dan heterocyclic amines atau HCA. Kedua zat ini terbentuk saat makanan terkena panas tinggi dalam waktu yang lama.
Menurut sejumlah kajian, senyawa tersebut dapat mengubah struktur DNA dan meningkatkan peluang terjadinya pertumbuhan sel abnormal. Risiko ini semakin besar jika kebiasaan memasak dengan suhu tinggi dilakukan berulang kali.
FDA juga menyebut bahwa memasak bahan bertepung terlalu lama dapat meningkatkan pembentukan akrilamida. Karena itu, tingkat kematangan makanan perlu diperhatikan agar manfaat gizi tidak berubah menjadi ancaman kesehatan.
Memilih teknik memasak yang lebih lembut dapat membantu menekan paparan zat berbahaya dari proses pemanasan. Mengatur suhu, membalik makanan lebih cepat, dan menghindari gosong menjadi langkah pencegahan yang sederhana.
Gula, Karbohidrat, dan Alkohol
Makanan manis dan karbohidrat olahan seperti roti putih, nasi putih, dan sereal manis dapat meningkatkan risiko obesitas. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga berkaitan dengan diabetes tipe 2 yang turut memengaruhi risiko kanker.
Beberapa tinjauan menyebut diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium. Hal ini terjadi karena peradangan dan stres oksidatif dapat memengaruhi fungsi sel dalam tubuh.
Alternatif yang lebih sehat adalah mengganti sumber karbohidrat dengan bahan pangan utuh seperti roti gandum, pasta gandum utuh, dan beras merah. Pilihan ini membantu menjaga kestabilan gula darah sekaligus memperbaiki kualitas pola makan.
Sementara itu, alkohol juga perlu diwaspadai karena dipecah hati menjadi asetaldehida, senyawa yang bersifat karsinogenik. Jika dikonsumsi berlebihan, alkohol dapat merusak DNA, meningkatkan stres oksidatif, dan melemahkan sistem kekebalan tubuh.
