Pihak Istana menanggapi pernyataan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, yang menyoroti intensitas kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, M. Qodari, menegaskan pemerintah menghargai aspirasi dan saran yang disampaikan. Ia menyebut setiap lawatan Presiden selalu mempertimbangkan asas manfaat bagi bangsa dan negara. Salah satu contoh yang disebut adalah kunjungan kerja ke Prancis yang sudah direncanakan sejak lama.
Menurut Qodari, agenda tersebut tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan membahas kerja sama strategis di sejumlah sektor. Pembahasan itu mencakup pertahanan, pendidikan, energi, hingga komoditas logam jarang yang dinilai penting bagi kepentingan nasional. Qodari menyampaikan penjelasan itu di Wisma Danantara, Jakarta, pada Minggu, 31 Mei 2026. Ia menekankan bahwa hubungan antarpemimpin negara juga menjadi faktor penting dalam diplomasi Indonesia.
Kerja Sama Prancis Jadi Sorotan
Qodari menjelaskan, kunjungan kerja ke Prancis telah disiapkan jauh hari sebelum dilakukan. Karena itu, agenda tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi diplomasi yang terukur. Menurutnya, pembahasan di sana tidak hanya menyentuh satu bidang. Pemerintah ingin memastikan setiap pertemuan menghasilkan manfaat konkret bagi Indonesia.
Ia menyebut ada banyak aspek kerja sama yang dibahas dalam lawatan itu. Salah satunya adalah sektor alutsista yang berkaitan dengan pertahanan nasional. Selain itu, pembicaraan juga mencakup logam jarang yang memiliki nilai strategis dalam pengembangan industri. Qodari menilai kerja sama seperti ini penting untuk memperkuat posisi Indonesia di level global.
Dalam penjelasannya, Qodari menegaskan bahwa diplomasi ekonomi dan pertahanan berjalan beriringan. Pemerintah, kata dia, tidak memandang kunjungan luar negeri hanya sebagai perjalanan protokoler. Setiap agenda diarahkan untuk membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Dengan demikian, hasil kunjungan dapat dirasakan secara langsung oleh negara.
Ia juga menegaskan bahwa hubungan dengan Prancis memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Pemerintah melihat peluang kerja sama yang dapat mendukung kebutuhan pembangunan nasional. Pembahasan lintas sektor dianggap sebagai langkah yang relevan dalam situasi global saat ini. Karena itu, kunjungan tersebut dipandang memiliki nilai strategis yang kuat.
Manfaat Diplomasi bagi Indonesia
Qodari menilai kedekatan antarpemimpin negara dapat memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan internasional. Menurutnya, hubungan personal yang baik membantu membuka akses komunikasi yang lebih efektif. Hal itu penting ketika Indonesia membutuhkan dukungan dalam isu-isu krusial. Dalam kondisi tertentu, kedekatan diplomatik dapat menjadi modal yang sangat berharga.
Ia mengatakan tidak semua negara memiliki tingkat kedekatan yang sama dengan mitra strategisnya. Karena itu, kunjungan Presiden ke luar negeri dinilai sebagai bagian dari upaya memperluas jejaring diplomasi. Pemerintah ingin memastikan Indonesia memiliki ruang komunikasi yang kuat dengan berbagai pihak. Langkah tersebut diyakini akan memberi dampak positif bagi kepentingan nasional.
Menurut Qodari, manfaat diplomasi tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Namun, hasilnya dapat muncul saat Indonesia menghadapi persoalan penting di kemudian hari. Dukungan dari negara sahabat bisa menjadi faktor penentu dalam sejumlah agenda strategis. Dengan pendekatan itu, lawatan luar negeri memiliki nilai jangka panjang.
Ia menambahkan, pemerintah terbuka terhadap masukan publik terkait kebijakan luar negeri Presiden. Meski demikian, setiap keputusan tetap didasarkan pada perhitungan manfaat yang jelas. Qodari menekankan bahwa prioritas utama adalah kepentingan bangsa dan negara. Karena itu, setiap kunjungan kerja disusun dengan pertimbangan yang matang.
Energi Jadi Agenda Strategis
Salah satu isu yang disebut Qodari dalam pembahasan dengan Prancis adalah energi. Sektor ini dinilai penting karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pembangunan nasional. Pemerintah memandang kerja sama energi sebagai bagian dari penguatan ketahanan ekonomi. Oleh sebab itu, pembahasan di level kepala negara menjadi sangat relevan.
Selain energi, logam jarang juga masuk dalam agenda pembicaraan. Komoditas tersebut memiliki peran penting dalam industri modern dan teknologi masa depan. Indonesia dinilai perlu membangun kemitraan yang dapat memperkuat pengelolaan sumber daya strategis. Kerja sama seperti ini diharapkan memberi nilai tambah bagi perekonomian.
Qodari menegaskan bahwa penguatan sektor strategis tidak bisa dilakukan secara terpisah. Pemerintah perlu membangun koneksi internasional yang mendukung transfer pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks itu, kunjungan luar negeri menjadi salah satu instrumen penting. Hasilnya diharapkan dapat memperluas kapasitas nasional di berbagai bidang.
Ia juga menyampaikan bahwa pembahasan kerja sama bukan hanya soal proyek jangka pendek. Pemerintah ingin memastikan ada kesinambungan dalam hubungan bilateral yang dibangun. Dengan perencanaan yang baik, kunjungan kerja dapat menghasilkan kesepakatan yang lebih konkret. Itulah sebabnya setiap agenda diplomatik diposisikan sebagai bagian dari strategi besar negara.
Respons Istana atas Kritik
Menanggapi kritik Dino Patti Djalal, Istana memilih sikap terbuka dan menghargai pandangan tersebut. Qodari mengatakan pemerintah mengapresiasi aspirasi yang disampaikan sebagai bagian dari diskusi publik. Namun, ia menegaskan penilaian terhadap kunjungan kerja Presiden harus melihat substansi agenda. Bukan hanya frekuensi perjalanan yang menjadi ukuran, melainkan juga hasilnya.
Menurut dia, publik perlu melihat bahwa setiap kunjungan memiliki konteks dan tujuan yang berbeda. Ada agenda yang berkaitan dengan pertahanan, ada pula yang menyangkut pendidikan dan energi. Pemerintah berupaya memastikan seluruh agenda itu memberi manfaat nyata bagi Indonesia. Dengan pendekatan tersebut, lawatan luar negeri dianggap tetap berada dalam koridor kepentingan nasional.
Qodari menambahkan bahwa diplomasi kepala negara merupakan bagian dari upaya menjaga posisi Indonesia di tengah dinamika global. Negara membutuhkan relasi yang kuat agar dapat merespons tantangan internasional secara lebih efektif. Karena itu, kunjungan ke luar negeri tidak bisa dipisahkan dari kepentingan strategis. Pemerintah akan terus menempatkan manfaat nasional sebagai acuan utama.
Ia menutup penjelasannya dengan menegaskan kembali bahwa hubungan baik antarpemimpin negara merupakan aset penting. Ketika Indonesia membutuhkan dukungan dalam isu-isu krusial, jejaring itu dapat menjadi kekuatan tambahan. Dalam pandangannya, inilah alasan kunjungan kerja Presiden ke luar negeri tetap relevan. Pemerintah pun memastikan setiap langkah diplomasi diarahkan untuk kepentingan Indonesia.
