Ridwan Ghany mengungkap tekanan berat yang pernah dialami keluarganya ketika utang menumpuk hingga sekitar Rp5 miliar. Kondisi itu muncul setelah usaha keluarga terdampak pandemi, disusul persoalan lain yang membuat keuangan rumah tangga semakin terguncang. Dalam upaya menyelamatkan keadaan, ia dan sang istri, Adithya Putri, memilih menjual serta mengagunkan aset berharga yang mereka miliki.
Pengakuan itu disampaikan Ridwan Ghany saat ditemui di Studio Trans TV, Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, kemarin. Ia menuturkan bahwa keputusan tersebut diambil bukan tanpa beban, karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan hidup keluarga besar. Dari pengalaman itu, pasangan ini harus memulai kembali kehidupan mereka dari awal.
Utang Ridwan Ghany Membengkak
Ridwan Ghany menjelaskan bahwa utang yang membelit keluarganya tidak mencapai puluhan miliar rupiah. Ia menyebut jumlahnya berada di kisaran Rp5 miliar. Masalah itu berawal dari kebangkrutan usaha ibundanya. Situasi semakin berat ketika dana pensiun dari pihak keluarga istri juga macet.
Menurut Ridwan, kondisi tersebut membuat keluarga berada dalam tekanan besar. Ia merasa perlu mengambil tanggung jawab untuk mencari solusi. Upaya mempertahankan bisnis keluarga dilakukan agar beban tidak semakin melebar. Namun, hasilnya tetap memaksa mereka berhadapan dengan kenyataan pahit.
Ridwan mengakui pernah terbuai oleh kesombongan diri. Ia menyadari ada masa ketika dirinya merasa mampu mengendalikan semua keadaan. Kenyataan justru memperlihatkan sebaliknya, karena aset yang dimiliki perlahan hilang. Pengalaman itu menjadi titik balik yang membuatnya lebih mawas diri.
Perjuangan Jual Aset Keluarga
Untuk menutup kewajiban yang menumpuk, Ridwan dan Adithya mengambil langkah drastis. Mereka memilih mengagunkan harta yang dimiliki agar masalah dapat segera ditangani. Keputusan itu diambil demi menyelamatkan ekonomi keluarga besar. Meski berat, langkah tersebut dianggap sebagai jalan paling masuk akal saat itu.
Adithya Putri mengatakan suaminya berusaha menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Ia melihat Ridwan memilih pasang badan agar semua tanggung jawab tidak jatuh ke orang lain. Dalam masa sulit itu, Adithya mengaku sempat lelah. Namun, ia tetap bertahan dan mendampingi suaminya.
Sejumlah aset akhirnya harus dilepas, termasuk mobil pribadi. Setelah kendaraan itu terjual, keluarga tersebut sempat menggunakan kendaraan sewaan untuk mobilitas harian. Rumah tinggal mereka juga ikut dijual untuk membantu menutup kebutuhan finansial. Dari situ, mereka benar-benar harus membangun kehidupan dari titik awal.
Dukungan Adithya Putri
Adithya Putri menilai keputusan suaminya menunjukkan tanggung jawab yang besar. Ia memahami bahwa langkah yang diambil bukan demi kenyamanan pribadi. Seluruh upaya difokuskan pada penyelamatan kondisi keluarga. Karena itu, ia memilih berdiri di sisi Ridwan di tengah tekanan yang datang bertubi-tubi.
Dalam keterangannya, Adithya menyebut suaminya tidak pernah lari dari masalah. Ia justru berusaha mencari jalan agar situasi tidak semakin memburuk. Sikap tersebut membuatnya yakin bahwa keluarga masih bisa melewati masa sulit. Dukungan emosional menjadi bagian penting dalam proses itu.
Adithya juga mengungkap bahwa dirinya sempat merasa lelah menghadapi rangkaian persoalan tersebut. Meski begitu, ia menilai kebersamaan menjadi kunci utama. Ia tidak ingin meninggalkan suaminya saat keadaan paling berat. Menurutnya, keluarga harus saling menguatkan ketika menghadapi krisis.
Pelajaran dari Krisis Finansial
Ridwan Ghany mengaku momen paling menyakitkan terjadi saat dirinya harus merelakan rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh keluarga. Ia sempat merasa biasa saja ketika proses pelepasan dilakukan. Namun, perasaan itu berubah ketika tanpa sengaja melintas di depan rumah lamanya. Saat itulah air matanya tak tertahan.
Ia mengenang momen tersebut sebagai salah satu titik emosional paling berat dalam hidupnya. Ridwan mengaku menangis seorang diri di dalam mobil saat melihat rumah itu telah berpindah tangan. Kenangan tersebut membuatnya kembali merasakan kehilangan yang mendalam. Baginya, rumah bukan hanya aset, melainkan juga ruang hidup keluarga.
Pengalaman itu kini menjadi pelajaran berharga bagi Ridwan dan Adithya. Mereka menilai krisis finansial dapat datang kapan saja, bahkan ketika seseorang merasa berada di posisi aman. Karena itu, kedisiplinan dalam mengelola keuangan menjadi penting. Kisah mereka memperlihatkan bahwa ketahanan keluarga sering kali diuji justru saat keadaan paling sulit.
