Sakit Perut Usai Minum Susu UHT, Ini Penjelasan Ahli

Lifestyle Nadia Safira Putri 01 Juni 2026 09:11 WIB 2
Sakit Perut Usai Minum Susu UHT, Ini Penjelasan Ahli

Banyak orang mengira sakit perut setelah minum susu UHT selalu menandakan produk bermasalah atau terkontaminasi bakteri dari pabrik. Namun, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dr Epi Taufik, menegaskan keluhan tersebut tidak bisa langsung disimpulkan sebagai akibat proses produksi. Ia menyebut penyebabnya perlu ditelusuri kasus per kasus, karena faktor penyimpanan setelah kemasan dibuka juga dapat memicu gangguan pencernaan.

Penjelasan itu disampaikan Prof Epi saat ditemui dalam acara Frisian Flag Temani Langkahmu, Kini dan Nanti, Minggu (31/5/2026). Menurut dia, susu UHT yang sudah dibuka lalu disimpan terlalu lama berpotensi mengalami kerusakan, meski belum tampak tanda-tanda yang jelas. Kondisi tersebut dapat menjadi sumber keluhan yang sering disalahartikan sebagai masalah pada susu sejak awal diproduksi.

susu UHT dan keluhan perut

Prof Epi menegaskan bahwa sakit perut setelah minum susu UHT harus dilihat dari konteks kejadian yang dialami konsumen. Ia mengatakan, tidak semua keluhan bisa dikaitkan dengan bakteri dari pabrik atau proses UHT itu sendiri. Dalam banyak kasus, penyebab justru muncul setelah produk dibuka dan tidak segera dihabiskan.

Menurutnya, susu yang dibiarkan terlalu lama setelah dibuka dapat mulai membusuk tanpa menunjukkan perubahan yang kasat mata. Susu belum tentu menggumpal atau berlendir, tetapi jumlah bakteri di dalamnya bisa sudah meningkat. Karena itu, kondisi fisik yang tampak normal tidak selalu menjamin keamanan produk.

Ia menjelaskan, ketika susu yang mulai rusak tetap diminum, bakteri yang masuk ke tubuh dapat memicu gangguan pencernaan. Keadaan ini dikenal sebagai food infection, yaitu infeksi akibat bakteri yang ikut tertelan. Dalam situasi seperti itu, tubuh membutuhkan waktu sebelum mulai menunjukkan gejala.

Prof Epi menekankan pentingnya memperhatikan cara penyimpanan setelah kemasan dibuka. Susu UHT yang tampak aman tetap dapat berubah kualitas bila dibiarkan terlalu lama di suhu ruang. Karena itu, kebiasaan menyimpan dan mengonsumsi produk menjadi faktor penting dalam mencegah keluhan perut.

infeksi bakteri dan toksin

Selain infeksi bakteri, Prof Epi menyebut gangguan juga bisa dipicu oleh toksin yang dihasilkan bakteri di dalam susu. Dalam kondisi tertentu, susu yang sudah terkontaminasi tidak hanya mengandung mikroba, tetapi juga racun hasil pertumbuhannya. Situasi ini dapat menimbulkan reaksi yang lebih cepat setelah produk diminum.

Ia menjelaskan bahwa jika bakteri sudah berkembang tinggi, maka toksin bisa terbentuk di dalam susu sebelum diminum. Setelah dikonsumsi, gejala dapat muncul dalam waktu singkat tanpa jeda yang panjang. Keadaan tersebut dikenal sebagai food poisoning atau food intoxication.

Perbedaan ini penting dipahami agar masyarakat tidak salah menilai sumber masalah. Pada food infection, bakteri harus berkembang lebih dulu di dalam tubuh sebelum menimbulkan keluhan. Sementara pada keracunan makanan, gejala bisa terasa cepat karena racun sudah ada dalam makanan yang diminum.

Prof Epi menegaskan, keluhan yang muncul segera setelah minum susu belum tentu disebabkan oleh infeksi bakteri biasa. Dalam kasus tertentu, respons tubuh dapat dipicu oleh toksin yang sudah terbentuk sebelumnya. Karena itu, pemeriksaan terhadap riwayat penyimpanan dan waktu munculnya gejala menjadi sangat penting.

bedakan infeksi dan keracunan

Prof Epi mengingatkan bahwa masyarakat perlu membedakan antara food infection dan food poisoning agar tidak keliru menyimpulkan penyebab sakit perut. Keduanya sama-sama berkaitan dengan makanan, tetapi mekanisme dan waktu muncul gejalanya berbeda. Pemahaman ini membantu konsumen menilai kemungkinan sumber gangguan dengan lebih tepat.

Pada food infection, bakteri masuk ke dalam tubuh lalu membutuhkan masa inkubasi sebelum menimbulkan keluhan. Jeda waktu ini bisa berlangsung sebelum seseorang merasakan mual, nyeri perut, atau diare. Karena itu, gejala yang tidak langsung muncul umumnya lebih dekat dengan infeksi.

Sebaliknya, jika keluhan terasa tidak lama setelah susu diminum, kondisi itu lebih mengarah pada keracunan makanan. Menurut Prof Epi, reaksi cepat menunjukkan kemungkinan adanya toksin yang sudah terbentuk dalam produk. Dengan demikian, waktu munculnya gejala menjadi petunjuk penting dalam menelusuri penyebab.

Ia menilai, pengetahuan dasar tentang perbedaan tersebut penting bagi masyarakat luas. Konsumen dapat lebih waspada tanpa langsung menyalahkan susu UHT sebagai sumber masalah. Langkah paling aman adalah memperhatikan kondisi produk, lama penyimpanan, dan respons tubuh setelah mengonsumsinya.

cara aman konsumsi susu UHT

Untuk mengurangi risiko gangguan pencernaan, konsumen disarankan memperhatikan kondisi susu UHT setelah kemasan dibuka. Produk sebaiknya segera disimpan dengan benar dan dikonsumsi dalam waktu yang wajar. Kebiasaan ini penting agar susu tidak berubah kualitas sebelum habis diminum.

Selain itu, masyarakat perlu memeriksa apakah ada perubahan rasa, bau, atau tampilan pada susu sebelum dikonsumsi. Meski tidak selalu tampak menggumpal, susu yang sudah lama terbuka tetap berisiko mengalami peningkatan bakteri. Pemeriksaan sederhana dapat membantu mencegah keluhan yang tidak diinginkan.

Prof Epi juga menekankan bahwa tidak semua sakit perut setelah minum susu berarti produk tersebut buruk sejak diproduksi. Bisa saja masalah muncul karena penyimpanan yang tidak tepat atau konsumsi yang terlambat setelah kemasan dibuka. Oleh karena itu, konteks kejadian perlu diperhatikan sebelum mengambil kesimpulan.

Dengan memahami penyebab yang mungkin terjadi, masyarakat dapat lebih bijak dalam mengonsumsi susu UHT. Edukasi mengenai penyimpanan, kebersihan, dan masa konsumsi menjadi kunci mencegah gangguan pencernaan. Sikap waspada ini membantu konsumen tetap memperoleh manfaat susu tanpa mengabaikan keamanan pangan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!