Holywings Dihantam Masalah, Perlukah Ganti Nama?

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 01 Juni 2026 09:14 WIB 3
Holywings Dihantam Masalah, Perlukah Ganti Nama?

Bisnis Holywings menghadapi tekanan besar setelah 12 outlet di Jakarta ditutup karena persoalan izin, di saat yang sama perusahaan juga terseret polemik promo minuman alkohol gratis untuk pelanggan bernama Muhammad dan Maria. Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah merek Holywings masih layak dipertahankan atau justru perlu diganti.

Praktisi dan konsultan marketing Inventure, Yuswohady, menilai reputasi Holywings tengah terpukul karena persoalan yang dikaitkan dengan isu SARA dan penutupan outlet memperburuk citra brand. Menurut dia, perusahaan kini harus memilih langkah strategis yang paling realistis untuk memulihkan kepercayaan publik.

Reputasi Holywings Tertekan

Yuswohady menilai masalah yang dihadapi Holywings tidak hanya berkaitan dengan operasional, tetapi juga menyentuh reputasi merek secara langsung. Ketika sebuah usaha ditutup karena masalah perizinan, dampaknya tidak berhenti pada bisnis, melainkan juga pada persepsi publik terhadap brand.

Ia menjelaskan bahwa citra merek yang sudah terlanjur terasosiasi dengan polemik akan lebih sulit dipulihkan. Dalam kondisi seperti ini, konsumen cenderung melihat perusahaan sebagai entitas yang bermasalah, bukan sekadar pelaku usaha yang sedang mengalami hambatan sementara.

Menurutnya, beban reputasi Holywings menjadi lebih berat karena kasus promo minuman gratis sebelumnya memicu reaksi luas di masyarakat. Kombinasi antara isu izin dan kontroversi sosial membuat posisi brand semakin rentan di mata publik.

Opsi Rebranding Masih Terbuka

Yuswohady menyebut ada dua opsi utama yang bisa ditempuh Holywings untuk memperbaiki posisi merek. Opsi pertama adalah rebranding, terutama jika nama lama masih memiliki modal ekuitas merek yang kuat di pasar.

Ia menilai rebranding tidak selalu berarti menghapus total identitas lama. Perusahaan masih bisa mempertahankan nama besar Holywings dengan format seperti penambahan frasa “by Holywings”, sehingga identitas lama tetap terlihat.

Langkah tersebut dinilai lebih aman apabila merek Holywings masih dianggap punya kekuatan di kalangan konsumen. Dengan cara itu, perusahaan dapat melakukan penyegaran tanpa membuang seluruh nilai yang sudah dibangun sebelumnya.

Ganti Nama Bukan Keputusan Mudah

Opsi kedua adalah mengganti nama sepenuhnya jika hasil riset menunjukkan merek Holywings sudah terlalu buruk di mata masyarakat. Namun, keputusan ini tidak sederhana karena perusahaan harus memulai proses pembangunan brand dari nol.

Yuswohady menegaskan bahwa membangun merek baru membutuhkan riset yang matang dan pemahaman atas persepsi pasar. Tanpa dasar yang kuat, pergantian nama justru bisa menambah ketidakpastian bagi bisnis.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah brand tidak hanya ditentukan oleh strategi pemasaran. Ada faktor keberuntungan, momentum, dan penerimaan pasar yang ikut menentukan apakah merek baru akan berhasil atau tidak.

Riset Menentukan Langkah Berikutnya

Menurut Yuswohady, langkah paling penting saat ini adalah melakukan riset menyeluruh terhadap citra Holywings di masyarakat. Hasil riset akan membantu perusahaan menilai apakah nama lama masih bisa diselamatkan atau sudah tidak layak dipakai.

Jika temuan menunjukkan merek tersebut masih memiliki peluang untuk dipulihkan, rebranding menjadi pilihan yang lebih efisien. Sebaliknya, bila nama Holywings sudah terlanjur rusak, pergantian total mungkin menjadi satu-satunya jalan.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa keputusan akhir harus mempertimbangkan konsekuensi bisnis jangka panjang. Dalam dunia pemasaran, membangun kepercayaan publik jauh lebih sulit daripada menciptakan nama baru semata.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!