Indosat Soroti Ketahanan Siber di Era AI

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 06:58 WIB 2
Indosat Soroti Ketahanan Siber di Era AI

Transformasi digital yang semakin masif di Indonesia dinilai ikut memperbesar risiko keamanan siber bagi perusahaan. Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menyebut ancaman kini berkembang lebih kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware yang menyasar sektor strategis nasional.

Temuan itu disampaikan dalam whitepaper berjudul A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience, yang menyoroti masih lebarnya resilience gap di banyak perusahaan. Kondisi tersebut menggambarkan laju digitalisasi yang bergerak lebih cepat dibanding kesiapan organisasi membangun ketahanan siber.

Ketahanan Siber Bisnis

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Danny Buldansyah, menegaskan bahwa ketahanan siber kini menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan bisnis. Ia menilai, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan konektivitas dan teknologi.

Menurut Danny, dunia usaha juga harus memiliki sistem keamanan yang adaptif dan terintegrasi untuk menghadapi ancaman modern. Ia menekankan bahwa cyber resilience bukan lagi isu teknis semata, melainkan bagian dari kepercayaan pelanggan dan kesinambungan usaha.

Pernyataan itu disampaikan dalam pemaparan di kantor Indosat Ooredoo Hutchison, Jakarta, pada Senin, 11 Mei 2026. Dalam konteks ekonomi digital yang terus tumbuh, perusahaan dituntut bergerak lebih cepat dalam memperkuat perlindungan data dan sistem.

Indosat Business menilai pendekatan keamanan yang hanya bersifat reaktif sudah tidak memadai. Perusahaan perlu membangun kesiapan jangka panjang agar tetap tangguh menghadapi serangan yang terus berubah.

Ancaman Siber Makin Kompleks

Whitepaper yang disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim itu menyoroti perubahan pola serangan yang makin sulit dideteksi. Salah satu pendorong utamanya adalah kemunculan AI-enabled fraud dan teknologi deepfake.

Charles menyebut ancaman siber kini bergerak lebih cepat daripada kemampuan banyak organisasi untuk mengenalinya. Karena itu, perusahaan perlu beralih dari pendekatan reaktif menuju cyber resilience yang adaptif dan berkelanjutan.

Modus penipuan berbasis identitas juga menjadi perhatian serius dalam laporan tersebut. Teknologi deepfake dan AI voice impersonation disebut semakin sering dimanfaatkan untuk meniru suara atau wajah korban.

Indosat Business mencatat lonjakan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Angka itu menunjukkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan oleh pelaku kejahatan sudah menjadi ancaman nyata bagi industri.

Risiko Finansial Meningkat

Selain penipuan berbasis AI, ancaman ransomware juga disebut terus meningkat dan menekan kesiapan banyak organisasi. Serangan terhadap pusat data nasional pada 2024 bahkan sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik.

Kasus tersebut memperlihatkan bahwa serangan siber tidak lagi terbatas pada perusahaan swasta. Dampaknya dapat menjalar ke layanan publik, rantai pasok, hingga aktivitas ekonomi yang bergantung pada infrastruktur digital.

Indosat Business juga mengacu pada Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 yang menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern. Temuan ini menegaskan masih rendahnya tingkat kesiapan keamanan di banyak perusahaan.

Dari sisi kerugian, kebocoran data di Indonesia diperkirakan menelan biaya rata-rata Rp15 miliar. Beban finansial tersebut dapat semakin besar jika insiden tidak ditangani secara cepat dan terstruktur.

Strategi Perlindungan Perusahaan

Indosat Business menyoroti pentingnya implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi atau UU PDP. Regulasi ini mendorong perusahaan memperkuat sistem pemantauan dan respons keamanan secara real-time.

Dalam aturan tersebut, perusahaan juga diwajibkan melaporkan insiden kebocoran data dalam waktu 72 jam. Ketentuan ini menuntut kesiapan tata kelola keamanan yang lebih disiplin dan terukur.

Whitepaper itu turut membahas strategi seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall untuk memperkuat pertahanan organisasi. Pendekatan tersebut dinilai relevan untuk sektor finansial, manufaktur, pemerintahan, hingga pendidikan.

Melalui inisiatif ini, Indosat Business ingin mendorong perusahaan menempatkan ketahanan siber sebagai bagian dari strategi transformasi digital. Upaya itu juga dipandang penting untuk menjaga daya saing bisnis jangka panjang di tengah percepatan AI dan ekonomi digital.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!