Mantan pekerja migran Indonesia, Siti Fatimah, membuktikan bahwa pulang ke Tanah Air bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari usaha baru. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu membangun bisnis jajanan tradisional berbahan singkong setelah kembali dari Hong Kong pada Mei 2017. Dengan modal awal Rp700 ribu, ia merintis usaha dari rumah dan kini produknya dikenal luas. Perjalanan Fatimah menjadi contoh bahwa tekad, kreativitas, dan ketekunan dapat mengubah kondisi ekonomi keluarga.
Keputusan itu lahir dari kegelisahan setelah lima tahun bekerja sebagai TKW di luar negeri, yang menurutnya tidak memberi ruang berkembang. Sebagai orang tua tunggal, ia ingin memiliki penghasilan yang lebih baik tanpa harus merantau lagi. Dari sisa tabungan, ia memulai usaha bernama Qtello Ayu, yang kini menjadi sumber nafkah utama keluarganya. Produk buatannya bahkan sudah dipasarkan ke berbagai daerah melalui jaringan pelanggan dan media sosial.
Bisnis Rumahan dari Singkong
Fatimah memulai usahanya dengan membuat jajanan tradisional seperti ongol-ongol, getuk, dan kelepon. Semua produk tersebut berbahan dasar singkong, sehingga modal produksi bisa ditekan sejak awal. Nama Qtello Ayu dipilih sebagai identitas usaha yang memadukan unsur ketela dan ayu, atau cantik. Dari dapur rumahnya, ia mulai memperkenalkan produk itu kepada lingkungan sekitar.
Meski sederhana, jajanan yang dibuat Fatimah memiliki tampilan yang menarik dan berbeda dari produk sejenis. Inovasi pada warna, bentuk, dan kemasan membuat produknya lebih mudah dilirik konsumen. Ia tidak hanya menjual rasa, tetapi juga menghadirkan nilai visual yang kuat. Strategi ini menjadi pembeda utama di tengah banyaknya pelaku usaha kuliner rumahan.
Seiring waktu, varian produknya berkembang menjadi sembilan jenis dengan pilihan yang lebih beragam. Di antaranya ada sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern. Perkembangan ini lahir dari kebutuhan pasar dan keberanian untuk terus berinovasi. Fatimah membuktikan bahwa usaha kecil bisa tumbuh jika dikelola dengan konsisten.
Strategi Pemasaran Jajanan Tradisional
Dalam memasarkan produk, Fatimah memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial. Ia juga mengandalkan promosi dari mulut ke mulut yang terbukti efektif menjangkau pelanggan baru. Cara ini membuat Qtello Ayu dikenal tidak hanya di Trenggalek dan Tulungagung, tetapi juga di luar daerah. Jangkauan pasar yang luas menjadi modal penting bagi pertumbuhan usaha rumahan.
Permintaan yang terus meningkat membuat kapasitas produksi ikut naik secara bertahap. Saat ini, Fatimah mampu memproduksi hingga 400 kotak per hari dengan omzet rata-rata sekitar Rp1 juta. Dalam kondisi tertentu, pendapatan hariannya bisa naik menjadi Rp2 juta hingga Rp3 juta. Produk Qtello Ayu bahkan kerap dibawa sebagai oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta.
Untuk menjaga kualitas, ia tidak menjalankan usaha seorang diri. Keluarga dan dua karyawan harian turut membantu proses produksi dari rumah. Sistem kerja ini membuat pesanan bisa dipenuhi tanpa mengorbankan kesegaran produk. Bagi Fatimah, kualitas tetap menjadi prioritas utama agar pelanggan terus kembali membeli.
Dampak Ekonomi bagi Keluarga
Usaha yang dirintis dari modal kecil itu perlahan mengubah kondisi keuangan keluarga Fatimah. Ia berhasil melunasi utang dan bahkan membeli mobil untuk operasional usaha. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa bisnis rumahan dapat memberi dampak ekonomi yang nyata. Dari penghasilan yang stabil, ia mampu membangun kehidupan yang lebih tenang.
Keberhasilan Fatimah juga menular ke anggota keluarganya yang lain. Salah satu anaknya yang telah berkeluarga bahkan membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Langkah ini menjadi sinyal bahwa usaha tersebut memiliki potensi berkembang di kota lain. Permintaan dari berbagai wilayah juga membuka peluang ekspansi yang lebih besar.
Fatimah berharap usahanya bisa hadir di lebih banyak kota karena permintaan terus bertambah. Ia menekankan bahwa bisnis apa pun tidak akan mudah jika tidak dijalani dengan niat dan ketekunan. Saat semangat menurun, ia menyarankan pelaku usaha untuk kembali mengingat tujuan awal. Pesan itu menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya sebagai wirausaha.
Peluang Usaha bagi PMI
Kisah Fatimah menunjukkan bahwa mantan pekerja migran memiliki peluang besar untuk mandiri secara ekonomi di Indonesia. Dengan modal terbatas, mereka tetap bisa membangun usaha jika memiliki kemauan belajar dan keberanian memulai. Pengalaman bekerja di luar negeri juga dapat menjadi bekal dalam mengelola disiplin dan etos kerja. Hal itu menjadi modal penting untuk menjalankan usaha yang berkelanjutan.
Pola usaha rumahan seperti yang dijalankan Fatimah relevan bagi banyak keluarga di daerah. Produk berbasis pangan lokal memiliki pasar yang jelas jika dikemas secara menarik dan dipasarkan dengan tepat. Penggunaan media sosial memudahkan pelaku usaha kecil menjangkau konsumen tanpa biaya besar. Kombinasi antara produk khas dan strategi promosi sederhana bisa menghasilkan pertumbuhan yang stabil.
Dengan harga mulai Rp8 ribuan per box, jajanan buatan Fatimah juga terjangkau untuk berbagai kalangan. Produk tersebut cocok untuk camilan acara keluarga, rapat, maupun konsumsi harian. Informasi lebih lanjut dapat ditemukan melalui akun Instagram resmi @qtelloayu_trenggalek. Dari dapur rumah, kisah ini menunjukkan bahwa peluang besar bisa lahir dari langkah kecil yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
