Indosat Soroti Risiko Siber di Tengah Transformasi Digital

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 31 Mei 2026 15:17 WIB 3
Indosat Soroti Risiko Siber di Tengah Transformasi Digital

Transformasi digital yang terus melaju di Indonesia dinilai ikut memperbesar risiko keamanan siber bagi perusahaan. Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menyebut ancaman kini semakin kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware yang mengincar sektor strategis nasional.

Temuan itu disampaikan dalam whitepaper A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience, yang menyoroti masih adanya kesenjangan ketahanan siber di banyak perusahaan. Indosat Business menilai kebutuhan bisnis tidak lagi sekadar konektivitas dan teknologi, tetapi juga sistem keamanan yang adaptif, terintegrasi, dan siap menghadapi ancaman modern.

Risiko Siber Bisnis Meningkat

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Danny Buldansyah, menegaskan bahwa ketahanan siber kini menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan bisnis. Ia menyampaikan hal itu di kantor Indosat Ooredoo Hutchison, Jakarta, pada Senin, 11 Mei 2026. Menurut dia, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata. Isu tersebut telah menjadi fondasi kepercayaan di era ekonomi digital.

Indosat Business menilai banyak perusahaan masih menghadapi resilience gap, yakni kondisi ketika digitalisasi berjalan lebih cepat daripada kesiapan organisasi membangun pertahanan siber. Situasi ini membuat sejumlah perusahaan rentan terhadap serangan yang semakin canggih dan sulit diprediksi. Kesenjangan tersebut juga memperlemah kemampuan respons saat insiden terjadi. Karena itu, perusahaan dinilai perlu memperkuat tata kelola keamanan sejak dini.

Whitepaper yang disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim itu menegaskan bahwa ancaman digital berkembang jauh lebih cepat dari kemampuan deteksi tradisional. Charles menyebut munculnya AI-enabled fraud dan teknologi deepfake membuat serangan makin sulit dikenali. Organisasi, menurut dia, perlu bergeser dari pendekatan reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Perubahan pendekatan ini menjadi penting agar bisnis tetap tangguh di tengah ancaman yang terus berevolusi.

Ancaman Deepfake Dan Ransomware

Dalam laporan tersebut, Indosat Business mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Modus yang digunakan antara lain deepfake dan AI voice impersonation untuk menipu korban berbasis identitas. Pola serangan ini dinilai memanfaatkan lemahnya verifikasi digital di banyak layanan. Akibatnya, risiko kerugian bisnis dan kepercayaan pelanggan ikut meningkat.

Ancaman ransomware juga disebut terus naik, termasuk serangan terhadap pusat data nasional pada 2024 yang sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik. Kasus tersebut memperlihatkan bahwa serangan siber tidak hanya menargetkan perusahaan, tetapi juga infrastruktur penting negara. Gangguan pada layanan publik dapat menimbulkan efek berantai terhadap aktivitas ekonomi dan administrasi masyarakat. Karena itu, ketahanan siber dipandang sebagai isu lintas sektor.

Charles Lim menilai teknologi kecerdasan buatan memang membuka peluang efisiensi, tetapi sekaligus memberi ruang bagi pelaku kejahatan digital untuk berinovasi. Ia menekankan bahwa pendekatan keamanan yang hanya mengandalkan deteksi setelah serangan tidak lagi memadai. Perusahaan perlu membangun sistem pencegahan yang lebih proaktif dan terukur. Langkah itu penting agar ancaman dapat direspons sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih luas.

Kesiapan Organisasi Masih Rendah

Indikator kesiapan keamanan siber di Indonesia masih menunjukkan ruang perbaikan yang besar. Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 mencatat hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman siber modern. Kondisi ini menunjukkan sebagian besar perusahaan belum memiliki ketahanan yang memadai. Padahal, ancaman digital berkembang lebih cepat dibanding pembaruan sistem pertahanan.

Selain itu, rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia diperkirakan mencapai Rp15 miliar. Angka tersebut menggambarkan besarnya dampak finansial yang dapat timbul dari insiden keamanan siber. Kerugian tidak hanya berupa biaya pemulihan, tetapi juga gangguan operasional dan hilangnya kepercayaan pasar. Dalam jangka panjang, reputasi perusahaan dapat terdampak lebih berat daripada nilai kerugian langsung.

Untuk mencegah risiko yang lebih besar, perusahaan didorong membangun sistem keamanan yang lebih terintegrasi. Pendekatan itu mencakup pemantauan, respons cepat, dan evaluasi berkelanjutan terhadap potensi ancaman. Dengan begitu, organisasi dapat menekan dampak serangan sebelum meluas. Ketahanan siber yang kuat juga menjadi nilai tambah dalam persaingan bisnis digital.

Strategi Perkuat Ketahanan Digital

Indosat Business menyoroti implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi atau UU PDP sebagai dorongan bagi perusahaan untuk memperkuat sistem keamanan. Regulasi tersebut menuntut monitoring dan respons siber secara real-time. Perusahaan juga wajib melaporkan insiden dalam waktu 72 jam. Ketentuan ini menegaskan bahwa perlindungan data tidak lagi dapat ditunda.

Whitepaper itu turut membahas sejumlah strategi penguatan keamanan, termasuk Zero Trust Architecture dan Human Firewall. Pendekatan tersebut menempatkan verifikasi berlapis dan kesadaran sumber daya manusia sebagai bagian penting dari pertahanan siber. Strategi ini juga relevan untuk sektor finansial, manufaktur, pemerintahan, hingga pendidikan. Masing-masing sektor memiliki karakter risiko yang berbeda dan memerlukan perlindungan yang spesifik.

Melalui inisiatif ini, Indosat Business ingin mendorong perusahaan melihat ketahanan siber sebagai bagian integral dari transformasi digital. Perlindungan yang kuat dinilai penting untuk menjaga daya saing jangka panjang di tengah perkembangan AI dan ekonomi digital. Dengan kesiapan yang lebih baik, perusahaan dapat beradaptasi terhadap ancaman yang terus berubah. Pada akhirnya, keamanan siber menjadi syarat dasar bagi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!