Dr Gia Pratama Ungkap Perjuangan Turunkan Berat Badan

Lifestyle Clara Monica 26 Mei 2026 21:01 WIB 2
Dr Gia Pratama Ungkap Perjuangan Turunkan Berat Badan

Influencer kesehatan dr Gia Pratama mengungkap bahwa dirinya pernah memiliki bobot tubuh hingga 100 kilogram. Saat itu, ia mengaku tidak menyadari bahwa kondisinya sudah masuk fase obesitas dan meningkatkan risiko penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung.

Tekad untuk menurunkan berat badan muncul setelah ia menangani seorang pasien serangan jantung di instalasi gawat darurat. Pengalaman tersebut membuatnya mempertanyakan kondisi kesehatannya sendiri dan mendorongnya mengambil komitmen diet selama enam bulan.

Obesitas dan Kesadaran Diri

dr Gia Pratama menuturkan bahwa saat bobot tubuhnya mencapai 100 kilogram, ia belum sepenuhnya memahami risiko yang mengintai. Kondisi itu membuatnya merasa sehat secara subjektif, meski secara medis ia sudah berada pada fase obesitas. Ia baru menyadari bahwa kebiasaan sehari-hari dapat berdampak besar pada kesehatan jangka panjang.

Menurutnya, salah satu pemicu obesitas adalah ketidaksadaran dalam mengonsumsi makanan. Hal kecil seperti mengambil gorengan tanpa kontrol dapat berubah menjadi kebiasaan berulang. Kebiasaan itu, jika berlangsung lama, berpotensi menambah asupan kalori secara berlebihan.

Ia menilai banyak orang mengalami pola serupa karena tidak peka terhadap porsi makan. Kondisi tersebut sering dianggap sepele, padahal dapat memicu kenaikan berat badan secara perlahan. Karena itu, kesadaran diri menjadi langkah awal yang penting dalam pengendalian berat badan.

Pengalaman di IGD

Pemicu terbesar perubahan gaya hidup dr Gia datang saat ia menangani pasien serangan jantung di IGD. Pasien itu disebut memiliki usia dan tanggal lahir yang sama dengannya, sehingga pengalaman tersebut terasa sangat dekat secara emosional. Saat berhasil menyelamatkan pasien dengan alat pacu jantung, ia mulai memikirkan kondisi dirinya sendiri.

Ia kemudian bertanya dalam hati apakah dirinya juga akan mengalami serangan jantung suatu hari nanti. Pertanyaan itu menjadi titik balik yang kuat dalam hidupnya. Dari sana, ia menyadari bahwa risiko kesehatan tidak bisa diabaikan hanya karena merasa masih mampu beraktivitas.

Setelah momen tersebut, ia menegaskan perlunya perubahan nyata, bukan sekadar niat sesaat. Ia pun memutuskan untuk mulai berkomitmen menjalani diet selama enam bulan. Baginya, keputusan itu diambil demi mencegah risiko yang mungkin muncul di masa depan.

Diet Tanpa Cara Instan

dr Gia menegaskan bahwa tidak ada jenis diet khusus yang ia jalani untuk menurunkan berat badan. Fokus utamanya adalah mengurangi asupan kalori yang sebelumnya berlebih. Pendekatan itu dipilih karena lebih realistis dan dapat dijalankan dalam jangka panjang.

Ia memahami bahwa hasil ideal tidak dapat diperoleh melalui cara instan. Oleh sebab itu, konsistensi menjadi kunci utama dalam proses penurunan berat badannya. Pola makan yang lebih terukur dinilai lebih aman dan berkelanjutan.

Dalam proses tersebut, ia juga belajar mengendalikan kebiasaan makan yang selama ini tidak disadari. Perubahan kecil yang dilakukan secara terus-menerus justru memberi dampak yang lebih signifikan. Ia menilai disiplin jauh lebih penting daripada metode cepat yang sulit dipertahankan.

Pelajaran untuk Masyarakat

Pengalaman dr Gia menjadi pengingat bahwa obesitas tidak selalu disadari sejak awal. Banyak orang baru memahami risikonya setelah muncul gangguan kesehatan atau melihat kasus di sekitarnya. Karena itu, pemeriksaan diri secara berkala perlu dilakukan sejak dini.

Ia menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup dapat dimulai dari keputusan sederhana. Mengatur porsi makan, mengurangi asupan kalori, dan menjaga konsistensi adalah langkah yang bisa diterapkan siapa pun. Dengan pendekatan tersebut, penurunan berat badan dapat dilakukan tanpa harus menunggu kondisi memburuk.

Kisahnya juga menegaskan bahwa pengalaman menangani pasien bisa menjadi cermin bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat umum. Serangan jantung bukan hanya persoalan orang lain, melainkan ancaman yang dapat terjadi pada siapa saja. Kesadaran itu menjadi alasan kuat untuk lebih peduli pada kesehatan sejak sekarang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!