Danantara Bentuk DSI untuk Kelola Ekspor SDA Berorientasi Laba

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 26 Mei 2026 22:19 WIB 2
Danantara Bentuk DSI untuk Kelola Ekspor SDA Berorientasi Laba

PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dipastikan tidak hanya berperan mengelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis, seperti minyak kelapa sawit atau CPO, batu bara, hingga ferro alloy. Entitas ini juga diarahkan menjadi perusahaan yang mencari keuntungan, sejalan dengan agenda pemerintah memperkuat tata kelola ekspor dan menutup celah kerugian negara.

Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, menjelaskan pembentukan DSI didorong kekhawatiran atas praktik under invoicing dan transfer pricing dalam ekspor komoditas SDA. Ia menyampaikan hal itu dalam Investor Daily Roundtable di Jakarta, Selasa (26/5/2026), sembari menegaskan bahwa DSI akan ditempatkan sebagai entitas bisnis yang aktif menghasilkan nilai.

DSI dan tata kelola ekspor

Pandu menilai, pembentukan DSI berangkat dari kebutuhan memperbaiki tata kelola ekspor komoditas strategis. Praktik manipulasi harga dalam transaksi luar negeri selama ini dinilai berpotensi mengurangi penerimaan negara. Karena itu, DSI disiapkan agar proses bisnis lebih transparan dan terukur.

Menurutnya, persoalan under invoicing dan potensi alih nilai sudah lama menjadi perhatian pelaku industri. Ia menyebut isu tersebut kerap muncul dalam pembahasan lama di sektor SDA. Dengan hadirnya DSI, pemerintah ingin memperkecil ruang praktik yang merugikan negara tersebut.

DSI tidak hanya dimaksudkan sebagai alat administrasi ekspor. Perusahaan ini juga akan menjalankan fungsi bisnis yang mendorong efisiensi dan profitabilitas. Arah itu diharapkan membuat pengelolaan komoditas strategis lebih disiplin dan berorientasi hasil.

Profit tetap jadi acuan

Pandu menegaskan bahwa dalam tubuh Danantara, pola pikir for profit tetap menjadi pegangan utama. Ia menjelaskan Danantara merupakan sovereign wealth fund yang harus menjaga nilai aset untuk generasi berikutnya. Karena itu, orientasi laba dinilai penting dalam pengelolaan DSI.

Awalnya, pemerintah sempat mempertimbangkan dua opsi untuk pembentukan DSI. Opsi pertama adalah menjadikannya badan pemerintah biasa, sedangkan opsi kedua menggabungkannya dengan peran sebagai operator bisnis. Setelah melalui pembahasan, pilihan akhirnya jatuh pada model bisnis yang lebih aktif.

Dengan keputusan itu, DSI kini ditempatkan sejajar dengan Danantara Investment Management atau DIM. Sebelumnya, DSI sempat berada di bawah DIM, namun kini posisinya dibuat setara. Penempatan tersebut menunjukkan bahwa DSI diproyeksikan sebagai unit usaha yang mandiri.

Pengalaman industri jadi modal

Pandu mengaku memiliki pemahaman mendalam soal modus manipulasi harga di sektor batu bara. Pengalaman itu datang dari hampir 10 tahun memimpin asosiasi pengusaha batu bara. Menurut dia, pengetahuan lapangan penting untuk membaca pola pelanggaran yang muncul di industri.

Ia menyebut pelaku usaha di sektor tersebut tidak semuanya memiliki kepatuhan yang sama. Pada masa awal dirinya memimpin asosiasi, tingkat pelanggaran disebut masih cukup tinggi. Namun, kondisi tersebut dinilai membaik seiring waktu dan pengawasan yang lebih ketat.

Pengalaman panjang di sektor batu bara membuat Pandu memahami tantangan pengelolaan komoditas SDA secara lebih utuh. Ia menilai sektor ini memerlukan kombinasi pengawasan, kepatuhan, dan model bisnis yang kuat. DSI, menurut dia, dibentuk untuk menjawab kebutuhan itu dalam satu kerangka kelembagaan.

Struktur kepemilikan DSI

Secara kepemilikan, DSI diatur dengan porsi 99 persen milik BPI Danantara dan 1 persen milik BP BUMN. Struktur ini menunjukkan kendali utama berada di tangan Danantara sebagai induk investasi. Meski demikian, keterlibatan BP BUMN tetap menjadi bagian dari desain kelembagaan.

Pandu menegaskan, DSI sejak awal dirancang sebagai perusahaan yang harus menghasilkan laba. Pada tahap awal, perusahaan ini akan berperan sebagai agent of business untuk mengoptimalkan potensi komoditas. Model itu diharapkan memberi kontribusi nyata bagi ekosistem bisnis SDA nasional.

Ke depan, DSI masih membuka ruang pengembangan lain sesuai kemampuan sumber daya manusia yang tersedia. Pandu menyebut arah pengembangan akan mengikuti skill set yang dimiliki perusahaan. Dengan begitu, DSI tidak hanya fokus pada ekspor, tetapi juga siap berkembang ke lini usaha yang relevan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!